Thursday, April 16, 2020

Taubat Nasuha; Syarat dan Maknanya

Taubat Nasuha; Syarat dan Maknanya 


Makna Taubat Nasuha

Taubat adalah janji seorang hamba kepada Tuhannya untuk tidak mengulangi kesalahan dan dosa yang pernah diperbuatnya. Orang yang bertaubat kepada Allah Subhanahu Wata’ala berarti ia telah berniat dan berjanji tidak melakukan dosa dan meminta ampunan kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Yang menjadi permasalahan di kalangan umat Islam sekarang adalah, banyak diantara mereka sudah bertaubat dengan beristighfar meminta ampunan Allah Subhanahu Wata’ala bahkan melakukan shalat taubat, akan tetapi setelah itu mereka kembali lagi melakukan dosa yang sama, bahkan melakukan dosa lain yang lebih besar (mudah-mudahan kita diselamatkan Allah Subhanahu Wata’ala dari segala dosa dan diampuni dosanya). Maka yang demikian ini tentunya belum dinamakan taubat nasuha atau taubat sebenar-benar taubat kepada allah Subhanahu Wata’ala.

taubat nasuha


Kendatipun demikian, orang yang bertaubat kepada Allah Subhanahu Wata’ala dengan menyesali kesalahan dan dosa yang ia lakukan, sekalipun sesekali melakukan kesalahan lagi, ia masih termasuk ke dalam hamba Allah Subhanahu Wata’ala yang patut mendapatkan ampunan, hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis:

مَا اَصَرَّ مَنِ اسْتَغْفَرَ وَاِنْ عَادَ فِى الْيَوْمِ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Tidak dikatakan pendosa, yaitu orang yang meminta ampunan kepada Allah Subhanahu Wata’ala, sekalipun dalam sehari ia mengulangi (kesalahan) sebanyak 70 kali” (HR. Abu Dawud danTirmidzi)

Kendatipun demikian, kita tidak boleh lengah dengan berpegang terhadap hadis di atas. Hadis di atas yaitu menggambarkan bahwa rahmat Allah adalah sangat luas untuk semua hamba-Nya. Allah Subhanahu Wata'ala senantias menerima taubat hamma selama ia mau bertaubat dan meminta ampunan kepada-Nya. (Baca: Tata Cara Dan Dasar Shalat Taubat di Sini)

==> Baca Juga: 

Dengan demikian, makna taubat nasuha adalah taubat yang di lakukan dengan sebenar-benarnya bertaubat kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Tidak ada lagi keinginan untuk kembali melakukan maksiat ataupun melanggar apa yang telah di larang oleh agama. Inilah taubat nasuha yang diterima oleh-Nya. 

Hal di atas mengandung pengertian bahwa taubat yang dilakukan hamba selagi masih terulang dan terulang lagi, maka belum dinamakan taubat nasuha. Taubat yang belum sampai pada tingkatan “nasuha” maka memerlukan pertaubatan lagi yang lebih serius agar taubatnya diterima oleh Allah Subhanahu Wata’ala. 

Syarat-syarat Taubat Nasuha dan Keterangannya

Adapun syarat-syarat taubat sebagaimana disebutkan oleh As-Syaikh Muhammad Amin Kurdi dalam kitab Tanwirul Qulub adalah sebagai berikut:

  1. Menyesali dosa yang telah dilakukan
  2. Berazam atau berbulat tekat tidak akan mengulangi dan kembali melakukan dosa lagi
  3. Mengembalikan hak-hak orang lain atau pihak lain yang pernah di dzalimi 


Adapun ketiga syarat taubat sebagaimana di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:

Menyesali dosa yang telah dilakukan

Seorang yang telah bertaubat hendaknya ia mendidik dirinya agar membiasakan melaksanakan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Hal tersebut ditempuh agar kebiasaan maksiat ataupu dosa yang pernah dilakukan tidak terulang kembali. Dengan membiasakan melakukan ketaatan inilah, maka nafsu yang senantiasa mengajak kepada maksiat akan terkalahkan dengan nafsu mutmainnah yang bisa mengantarkan seseorang menuju ketenangan beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Berazam atau berbulat tekat tidak akan mengulangi dan kembali melakukan dosa lagi
Berazam atau berbulat tekat untuk tidak mengulangi kesalahan yang serupa merupakan langkah tazkiyatun nafs dari sifat-sifat tercela. Orang yang memiliki azam maka akan ditolong oleh Allah Subhanahu Wata’ala dalam melaksanakan kebaikan-kebaikan dan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Hal tersebut dikarenakan, orang yang memiliki azam yang kuat untuk tidak lagi melakukan dosa dan kesalahan berarti ia telah menaruh harapan yang besar untuk mendapatkan rahmat Allah Subhanahu Wata’ala. Disebutkan di dalam Al-Qur’an:

وَلا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

”....jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)

Dengan demikian sekalipun orang tersebutpernah berbuat dosa dan salah, selagi masih munya keinginan kuat untuk tidak mengulangi kesalahan dan dosa yang dilakukan, serta senantiasa mengharapkan rahmat dan ampunan Allah Subhanahu Wata’ala maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya.

Mengembalikan hak-hak orang lain atau pihak lain yang pernah di dzalimi

Orang yang bersalah atau berdosa adakalanya dilakukan kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan adakalanya kesalahan tersebut berhubungan dengan manusia. Adapun kesalahan yang berhubungan dengan Haqqullah atau haknya Allah Subhanahu Wata’ala maka ia wajib bertaubat dan beristighfar dari dosa dan dosa yang dilakukan. Jikalau meninggalkan kewajiban berupa shalat maka ia wajib mengkodho’ atau mengganti sejumlah shalat yang pernah ia tinggalkan. 

Dan jikalau ia kesalahan tersebut berhubungan dengan haqqul adamiy atau hak-hak makhlul Allah Subhanahu Wata’ala, maka selain ia harus minta maaf dengan yang bersangkutan, maka jikalau ada barang ataupun sesuatu yang pernah diambil ia harus mengembalikannya, jikalau tidak maka ia harus meminta keikhlasan dari orang yang bersngkutan.

Dengan menjaga taubat sesuai dengan ajaran syariat yang dicontohka noleh Rasulullag Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, berarti ia telah berupaya menjadi hamba Allah Subhanahu Wata’ala yang berbudi luhur dan mencoba meraih keselamatan dinia dan akhirat. Semoga kita termasuk di dalamnya. Amin   

Demikian semoga bermanfaat, mungkin Anda juga tertarik dengan artikel kami yang lain:


Reff:
Kitab Tanwirul Qulub, 1994. Beirut: Daar Al-Fikr

0 Komentar:

Post a Comment

Blog Archive

Dapatkan Artikel Kami Gratis

Ketik email Anda di sisi:

Kami akan mengirimkannya untuk Anda

Quality Content