Islam dalam Pengambilan Keputusan

Islam adalah agama yang "Rahmatan Lil 'Alamin", keberadaanya membawa kedamaian bagi umat semesta alam. Hal ini dapat kita lihat diantaranya dalam pengambilan keputusan kita dilarang dalam kondisi labil.

Kebenaran yang Dilematis

Kebenaran dalam beberapa hal ternyata tidak selalu berdampak baik bagi pelakunya. Dalam konteks ini kita harus tetap menyampaikan kebenaran tersebut sekalipun dilematis buat kita

Islam dan Olah Raga

Disebutkan bahwa, "Orang mukmin yang kuat lebih baik dan dicintai oleh Allah SWT., daripada mukmin yang lemah" So, keep healty, keep financial and pray

Lengkapilah Agamamu dengan Menikah

Salah satu ibadah yang enak dan berpahala banyak adalah melangsungkan pernikahan. Bagaimana tidak, karena nikah merupakan salah satu sunah para rasul "Sunanun min Sunanil Mursalin"

Memilih Teman

Teman menjadi orang yang paling mewarnai hidup kita, baik deri segi sikap tindakan dan sikap mental seseorang. Olehkarena itu Islam mengajarkan agar dalam bergaul kita benar benar berhati-hati karena "Al-Mu'asyarotu Muatsiroh"

Showing posts with label Al-Qur'an. Show all posts
Showing posts with label Al-Qur'an. Show all posts

Tuesday, April 21, 2020

9 Adab Membaca Al-Qur'an

9 Adab Membaca Al-Qur'an


Sahabat syariatkita, sebagai seorang muslim tentunya kita sudah tidak asing lagi dengan yang namanya Al-Qur'an. Al-Qur'an merupakan kitab suci yang tidak saja bernilai ibadah ketika membacanya, bahkan membaca satu huruf pun mendapatkan nilai ibadah 10 kebaikan. (Baca: Pahala Membaca Al-Qur'an Satu Huruf di sini).

adab membaca al-qur'an
ilustrasi: thecompanion.in

Kendatipun demikian, yang ironi adalah kita justru kadang kurang menaruh perhatian dan penghormatan terhadap Al-Qur'an itu sendiri, Al-Qur'an di taruh di tempat yang rendah, ditenteng dalam membawanya laksana membawa barang yang tidak berharga. Lantas bagaimana adab atau tata krama kita sebagai muslim terhadap Al-Qur'an? Berukut ulasannya.

Bagi Anda yang tertarik dengan artikel ini bisa berkomentar di dalam kolom komentar atau yang ingin berlangganan artikel kami secara gratis, Anda tinggal mengetikkan alamat emai Anda lalu klik subscribe. Kami otomatis akan mengirimkan artikel untuk Anda gratis.

==> Baca Juga: 

Adapun adab membaca Al-Qur'an adalah sebagai berikut:

1. Membersihkan mulutnya dengan siwak atau bergosok gigi

Adapun yang diutamakan dalam menggunakan siwak adalah dengan menggunakan kayu "Arok". Akan tetapi jika tidak mendapati kayu tersebut maka diperbolehkan menggunakan segala sesuatu yang dapat membersihkan mulut seperti kain, tisu dan lain sebagainya. Adapun zaman sekarang ini sudah banyak tersedia pasta gigi jadi tidak perlu repot-repon menggunakan kayu arok.

Kendatipun demikian, bagi Anda yang memiliki siwak, maka sangat dianjurkan menggunakan siwak disetiap hendak melaksanakan shalat ataupun membaca Al-Qur'an, karena inilah kesunahan yang langsung diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. 

Adapun bagaimana cara menggunakan siwak dapat dibaca di sini.

2. Membaca Al-Qur'an dalam keadaan suci

Disunahkan membaca Al-Qur'an dalam keadaan bersuci. Apabila seseorang membaca Al-Qur'an dalam keadaan hadas apakah diperbolehkan? Dalam kitab At-Tibyan di jelaskan hukumnya adalah boleh dengan ijma'ul muslimin. Dan hadis yang menerangkan hal ini juga banyak, silahkan bisa di baca di sini: Hadis kebolehan membaca wudhu dalam keadaan hadas.

Adapun orang yang membaca Al-Qur'an dalam kondisi hadas ia hanya kena hukum tarkul aula atau meninggalkan keutamaan saja. Menurut Imam Haromain, orang yang membaca Al-Qur'an dalam keadaan hadas maka yang bersangkutan tidak bisa dikategorikan ke dalam orang yang melakukan kemakruhan, akan tetapi hanya tarkul aula saja.

Dalam kasus ini lalu bagaimana orang yang tidak mendapati air untuk berwudhu, maka ia disunahkan melakukan tayammum. Adapun orang yang junub dan haid maka keduanya haram membaca Al-Qur'an. Akan tetapi bagi keduanya diperbolehkan melakukan dzikir Al-Qur'an di dalam hati tanpa dilafalkan dengan mulut, baik satu ayat ataupun kurang dari satu ayat.

3. Disunahkan membaca Al-Qur'an di tempat yang bersih

Dalam hal ini sangat dianjurkan untuk membaca Al-Qur'an di tempat yang bersih dan terhormat, sehingga sangat disunahkan membaca Al-Qur'an di masjid. Karena tidak diragukan lagi bahwasanya masjid adalah tempat yang mulia dan suci.

Melengkapi kesunahan membaca Al-Qur'an di masjid, bagi orang yang membaca Al-Qur'an di masjid maka disunahkan baginya melakukan i'tikaf, sekalipun hanya sebentar singgahnya di masjid.

Adapun 3 tempat yang dimakruhkan untuk membaca Al-Quran silahkan baca di sini.

4. Menghadap kiblat

Disunahkan bagi orang yang membaca Al-Qur'an selain dalam shalat untuk menghadap kiblat. mengapa dalam shalat tidak? ya sudah pasti lah karena shalat kan sudah pasti menghadap kiblat. Mengenai hai ini disebutkan di dalam hadis:

خير المجالس ماستقبل به القبلة

"ٍSebaik-baik masjis adalah majlis yang menghadap kiblat"

Dengan demikian jelas bahwa ketika membaca Al-Qur'an sangat di sunahkan menghadap kiblat.

5. Membaca Ta'awwudz

Dalam hal ini mambaca ta'awwudz yaitu memcaca kalimat "Audzu billahi minassyaitoonirrojim". Hal ini sebagaimana dalam Al-Qur'an:

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

"Apabila kamu membaca Al Qur'an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk" (QS. An-Nahl: 98)

6. Membaca Basmalah

Disunahkan membaca basmalah di setiap awal surah selain Suarh At-Taubah. Adapun membacanya di tengah-tengah surah maka sebagian ulama memperbolehkannya.

7. Membaca Al-Qur'an dengan tenang (khusyu') 

Dalam membaca Al-Qur'an hendaklah dilakukan dengan posisi tenang dan khusyu'. Selain khusyuk juga dianjurkan bagi pembaca Al-Qur'an agar membacanya sambil mengangan-angan maknanya, atau tadabbur.

Lantas bagaimana cara kita agar dapat mentadabburi Al-Qur'an ketika membacanya, yaitu dengan cara mengulang-ulang kalimat sampai beberapa kali. Dengan demikian kita dapat menghayati makna yang terkandung di dalam ayat tersebut.

8. Menangis ketika membaca Al-Qur'an

Mengenai hal ini disebutkan dalam hadis:

اقرؤوا القرأن وابكوا، فأن لم تبكوا فتباكوا

"Bacalah Al-Qur'an dan menangislah (ketika membacanya), maka apabila kalian tidak bisa menangis, berpura-puralah menangis (usahakanlah sebisa mungkin menangis)." (HR. Ibnu Majah)

Adapun cara agar kita dapat menangis ketika membaca Al-Qur'an, maka hadirkanlah Al-Qur'an dalam bacaan kalian. Terutama ketika membaca ayat yang berisi ancaman, azab, neraka dan ayat ayat sedih lainnya. Begitu pula ketika mendapati ayat yang menerangkan tentang surga, maka bayangkan lah anugerah Allah Subhanahu Wata;ala yang begitu indahnya dan keluarkanlah air mata bahagia karenanya.

9. Meminta rahmat dan anugerah Allah Subhanahu Wata'ala ketika membaca ayat yang menerangkan keagungan Allah, begitu pula sebaliknya yaitu meminta perlindungan kepada Allah manakala mendapati ayat yang menerangkan azab

Kesunahan ini yaitu tidak hanya berlaku di dalam shalat saja akan tetapi juga ketika membaca Al-Qur'an di luar shalat. Dengan demikian Al-Qur'an yang dibaca pastilah akan memberikan manfaat bagi embacanya, baik manfaat di dunia dan manfaat di akhirat. Amin...

Demikian semoga bermanfaat, mungkin Anda juga tertarik dengan artikel kami yang lain:


Reff:
Kitab At-Tibyan Fi Adabi hamalati Al-Qur'an 

Monday, April 20, 2020

Pahala Membaca Al-Qur’an Satu Huruf

Pahala Membaca Al-Qur’an Satu Huruf


Sahabat syariatkita, Al-Qur’an merupakan kalamullah yang syarat akan kemu’jizatan dan keutamaan. Keutamaan Al-Qur’an sendiri tidak hanya berfaedah di dunia saja, akan tetapi juga sampai ke hari kiamat kelak. Baca: Keutamaan Membaca dan Menghafalkan Al-Qur’an di sini.

Pahala Membaca Al-Qur’an Satu Huruf

Diantara keutamaan Al-Qur’an yaitu terletak pada besarnya pahala bagi orang yang membacanya. Kalau seseorang membaca hadis ia belum tentu mendapatkan pahala sebelum dinilai dari niatnya. Jika niatnya baik, maka pastilah ia akan mendapatkan pahala karena niatnya itu. Akan tetapi berbeda dengan Al-Qur’an, orang fasiq sekalipun membacanya tetap mendapatkan pahala.

Yang lebih utama lagi, ternyata pahala membaca Al-Qur’an dihitung dari satuan terkecil. Apa satuan terkecil itu? Satu Al-Qur’an penuh kah? Atau hanya satu juz, satu manzil, satu maqro’ atau satu ayat? Ternyata pahala membaca Al-Qur’an dihitung per huruf. MasyaAllah alangkah beruntungnya orang yang membaca Al-Qur’an. Mudah-mudahan kita termasuk kedalam golongannya. Amin

==> Baca Juga: 

Adapun dalil yang menyatakan bahwa pahala membaca Al-Qur’an dihitung perhuruf adalah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dari Abdullah ibnu Mas’ud sebagai berikut:

عن ابن مسعود رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من قرأ حرفا من كتاب الله تعالى فله (به) حسنة والحسنة بعشر امثالها، لا اقول الم حرف، ولكن الف حرف ولام حرف وميم حرف

“Rasulullah SAW bersabda, “barang siapa membaca satu huruf dari kitabullah (Al-Qur’an), maka baginya pahala berupa kebaikan. Dan pahala kebaikan tersebut dilipatgandakan sampai sepuluh. Saya tidak mengatakan Alif Laam Miim itu satu huruf, akan tetapi Alif itu satu huruf, Laam itu satu huruf dan Miin itu satu huruf. ” (HR. At-Tirmidzi) 

Dengan demikian sangat jelas bahwasanya manakala kita membaca ”Alif Laam Miim” di dalam fawatihu as-suwar, maka kita mendapatkan pahala komulatif sejumlah 30 kebaikan. Ini diperoleh dari hitungan Alif=10, Laam=10, dan Miim=10. Jadi total pahala adalah 30. bisa dibayangkan kalau kita membaca Al-Qur’an satu ayat, satu surah, satu juz bahkan jikalau sampai khatam, tentunya kita akan memdapatkan pahasa yang sangat agung dari Allah Subhanahu Wata’ala. Akan tetapi perlu diingat juga niat kita harus benar-benar ikhlas karena Allah. Karena Sahnya Amal Bergantung Pada Niatnya.

Keutamaan Menjadikan Al-Qur’an Sebagai Wirid 

Selain mendapatkan pahala yang sangat agung bagi orang yang membaca Al-Qur’an, orang yang sehari-harinya tersibukkan membaca Al-Qur’an, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai wiridan (atau amalan rutin), sehingga ia tidak sempat berdoa meminta kepada Allah SWT. Maka Allah SWT akan memberikan anugerah yang luar biasa kepadanya melebihi anugerah yang diberikan Allah SWT kepada orang yang meminta anugerah kepada-Nya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi  dari abu Sa’id Al-Khudri berikut:

 يقول الرب سبحانه وتعالى : من شغله القران وذكري عن مسئلتى اعطيته افضل ما اعطي السائلين، وفضل كلام الله سبحانه وتعالى على سائر الكلام كفضل الله تعال على خلقه

“Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, “Barang siapa yang tersibukkan oleh Al-Qur’an dan dzikir kepada-Ku, sehingga tidak sempat meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberikan anugerah yang lebih utama melebih anugerah yang aku berikan kepada orang-orang yang meminta kepada-Ku. Dan keutamaan Al-Qur’an melebihi kalam yang lain seperti utamanya Allah atas seluruh makhluk-Nya” 

MasyaAllah, sangat agung sekali anugerah Allah SWT yang diberikan kepada hamba-Nya yang terseibukkan dengan Al-Qur’an. Tanpa kita harus meminta kepada Allah asal kita menjadikan Al-Qur-an sebagia amalah rutinnya, kita akan meeroleh anugerah melebihi mereka yang meminta kepada Allah. Oleh karena itu kita jadikan bulan Ramadhan yang muliaini sebagai lahan mendapatkan Ridha-Nya. Amin.

Demikian semoga bermanfaat, mungkin Anda juga tertarik dengan artikel kami yang lain:


Reff:
Kitab At-Tibyan Fi Adabi Hamalati Al-Qur'an

Keutamaan Membaca Al-Qur’an dan Menghafalkannya

Keutamaan Membaca Al-Qur’an dan Menghafalkannya

Sahabat syariatkita, diantara kemuliaan bulan Ramadhan yaitu Allah SWT menurunkan Al-Qur’an, tepatnya yaitu di malam Lailatul Qadar. Apa itu malam lailatul qadar dan keistimewaanya baca di sini.  

Mengenai keistimewaan Al-Qur’an, Allah SWT tidak hanya memberikan keutamaan bagi para penghafalnya saja, akan tetapi Allah SWT juga memberi pahala yang agung bagi orang yang berkenan membacanya, sekalipun tidak paham isinya. Bagaimana jika membaca dan paham isinya tentu pahalanya dan keutamaanya akan berbeda, apalagi hafal Al-Qur’an membaca memahami maknanya dan mengamalkan isi yang terkandung di dalamnya, tentunya it adalah anugerah Allah SWT yang sangat luar biasa.

keutamaan membaca al-qur'an dan menghafalkannya

Berikut dalam artikel ini kami sampaikan keutamaan membaca dan menghafalkan Al-Qur’an beserta dalilnya.

Keutamaan Membaca dan Menghafal Al-Qur’an beserta Dalilnya

Mengenai keistimewaan membaca dan menghafal Al-Qur’an ini, Allah subhanahu Wata’ala berfirman di dalam Al-Qur’an:

 الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (Q.S. Faathir: 29-30)

Diriwayatkan pula dalam sebua hadis dari Sahabat Utsman bib Affan beliau berkata:

خيركم من تعلم القران وعلمه

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur;an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Dari hadis di atas dapat kita pahami bahwa, umat Muhammad SAW yang terbaik adalah mereka yang berkenan mem[elajari Al-Qur’an dan mengajarkannya. Mempelajari Al-Qur’an tentunya yaitu diperuntukkan bagi mereka yang belum bisa membacanya. Sedangkan bagi mereka yang telah pandai membaca Al-Qur’an sesuai dengan ilmu tajwidnya, makharijul hurufnya maka tugasnya adalah mengajarkan Al-Qur’an kepada yang belum bisa membacanya.

Dalam riwayat lain Aisyah RA berkata:

الذي يقرا القران وهو ماهر به مع السفرة الكرام البررة، والذي يقر القران وهو يتتعتع فيه وهو عليه شاق له اجران

“Orang yang menghafal Al-Qur’an dan dia pandai dengan Al-Qur’annya, maka ia bersama malaikat pencatat amal yang baik, sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an sedang ia (kesulitan) dalam membacanya, maka ia mendapatkan dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pengertian orang yang membaca Al-Qur’an sedangkan ia mahir, adalah orang yang lancar dalam membaca Al-Qur’an dikarenakan sebelumnya telah belajar. Sedangkan maksud orang yang membaca Al-Qur’an tetapi kesulitan, yang dimaksud “kesulitan” disini adalah, ia sudah melalui belajar membaca Al-Qur’an, akan tetapi dikarenakan ada kekurangan dalam lisan pengucapannya sehingga ia tidak bisa fasih membacanya. Dapat pula bermakna orang yang baru saja belajar membaca Al-Qur’an. 

==> Baca Juga: 

Dalam riwayat lain dari Abu Musa Al-Asy’ari disebutkan:

مثل المؤمن الذي يقرا القران مثل الاترجة ريحها طيب وطعمها طيب، ومثل المؤمن الذي لا يقرا القران مثل التمرة لاريح لها وطعمها حلو، ومثل المنافق الذي يقرا القران مثل الريحنة ريحها طيب وطعمها مر، ومثل المنافق الذي لايقرا القران كمثل الحنظلة ليس للها ريح وطعمها مر

“Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an tak ubahnya seperti ‘utrujah’, yaitu jeruk yang baunya wangi dan memiliki citarasa yang enak, Dan perumpamaan orang yang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an, tak ubahnya seperti ‘At-tamrah’, yaitu buah kurma yang tidak memiliki aroma harum tetapi memiliki citarasa yang manis. Dan perumpamaan orang munafik yang membaca AL-Qur’an, tak ubahnya seperti ‘Raihanah’, yaitu buah yang hanya memiliki aroma harum akan tetapi rasanya sangat pahit. Sedangkan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an, tak ubahnya seperti ‘Handzalah’ yaitu buah yang tidak berbau dan rasanyapun pahit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis di atas menunjukkan perumpamaan keagungan Al-Qur’an yang sangat luar biasa. Perumpamaan keagungan Al-Qur’an tersebut tidak saja diberikan kepada orang muslim, akan tetapi diberikan juga kepada orang munafik sekalipun.

Diriwayatkan pula oleh Sahabar Umar bin Khattab RA, berliau bersabda:

ان الله يرفع بهذا الكتاب اقواما ويضع به اخرين

“Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala mengangkat beberapa umat berkat Al-Qur’an dan menghinakan umat yang lain juga berkat Al-Qur’an.”

Sahabat, sesuai hadis di atas, seseorang yang membaca Al-Qur’an tentunya tidak boleh sembrono dengan Al-Qur’an yang dibacanya. Hal tersebut dikarenakan Al-Qur’an adalah kalamullah yang menyentuhnya pun harus dalam keadaan suci apalagi membacanya. Orang yang meremehkan dan sembrono dengan Al-Qur’an maka Allah SWT akan menghinakannya. Dengan kata lain, Al-Qur’an bisa mengangkatkan derajat kaum berkat ia memuliakan Al-Qur’an, begitu juga sebaliknya Al-Qur’an bisa menghinakan Al-Qur’an bagi orang yang menghinakannya.

Dalam hadis yang lain umamah Al-Bahili meriwayatkan:

اقرا القران فانه يأتي يوم القيامة شفيعا لاصحاابه

“Bacalah Al-Qur’an, karea ia akan datang pada hari kiamat dengan memberi pertolongan kepada yang membacanya.” (HR. Muslim)

Sahabat berdasarkan hadis di atas, sangat jelas menfaat Al-Qur’an bagi kita. Yaitu manakala kita kelak di hari kiamat menghendaki mendapatkan syafaat atau pertolongan Al-Qur’an, maka rajin-rajinlah dalam membacanya.

Demikian semoga bermanfaat, mungkin Anda juga tertarik dengan artikel kami yang lain:


Reff:
Kitab At-Tibyan Fi Adabi Hamalati Al-Qur'an

Monday, March 23, 2020

Menyikapi Pandemi Corona

MENYIKAPI VANDEMI CORONA SESUAI DALIL AL-QUR'AN


Sahabat syariatkita, hari ini tepatnya tanggal 23 Maret 2020 penularan virus coronya nampaknya bukan lagi isapan jempol. Banyak kasus terutama di kota-kota besar (seperti Jakarta) kita bisa menyaksikannya melalui share media dimana pasien di jalanan, di stasiun kereta, di dalam kereta yang disinyalir menidap virus covid-19 itu (wal iyadhu billah). kendatipun banyak berita yang bernada hoax, akan tetapi untuk yang hari ini setelah dikonfirmasi oleh pemerintah ternyata memang benar adanya. Ini dibuktikan dengan meningkatnya data pasien terdampak virus corona dan data pasien meninggal karenanya, sampai-sampai aparat pemerintah; satpol PP ikut turun tangan memantau kerumunan masa yang masih dilakukan oleh warga masyarakat.

Sebagai seorang mukmin tentunya kita menyadari bahwa apapun yang terjadi dimuka bumi ini itu semuanya tentunya tidak terlepas dari irodah Allah Subhanahu Wata’ala yang mana jikalau Allah telah berkehendak pastilah terjadi. Sebagaimana artikel Corona vs Tawakal. Akan tetapi yang perlu kita lakukan sebagai seorang mukmin adalah tidak pasrah begitu saja dalam menyikapi hal yang terjadi di sekeliling kita, terutama dalam masalah covid-19 ini. Tetapi kita tidak pula bersikap membabi buta (tahawur) seolah menganggap “ah, semua kan takdir Allah waktunya mati pasti kan mati”. Lantas bagaiman akita menyikapi vandemi corona ini? Berikut yang perlu kita lakukan:

1. Istirjā’ atau membaca “innalillahi wa inna ilaihi rojiun”

Secara terminologi bahasa, istirjā’ berasal dari kata raja’a-yarji’u-roj’an yang berarti “kembali”. Dengan demikian istirjā’ dalam menghadapi vandemi corona ini berarti kita mengembalikanya kepada Allah SWT; bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan ini adalah atas kehendak Allah SWT.

Di dalam Al-Qur’an disebutkan:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ اْلأَمْوَالِ وَاْلأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ * أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Dan sungguh akan Kami menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar (yaitu) mereka yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn. Mereka itulah yang mendapat keberkahan dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk (QS. Al-Baqarah [2]:155-157).

Ayat di atas menjelaskan bahwa orang yang sabar adalah orang yang ketika ditimpa musibah, mereka mengembalikannya kepada Allah, mereka menyadari bahwa kejadian tersebut terjadi atas izin Allah SWT. Hal itu dapat kita ketahui dari makna ayat, “Sesungguhnya kami milik Allah dan akan kembali kepada-Nya”. Artinya, ketika ditimpa musibah dari Allah, Al-Quran mengajarkan kepada kita agar memiliki kesadaran bahwa semua yang terjadi itu adalah atas kehendak Allah. 

Lantas bagaimana dengan orang yang seolah bersikap arogan dan kebal terhadap vandemi corona ini. Tentunya kita sebagai seorang muslim harus mengingatkan mereka. Dalam hal ini, Allah mengecam terhadap orang-orang yang tidak melibatkan Allah dalam setiap peristiwa yang dialaminya. Sehingga yang diharapkan dengan adanya cobaan yang menimpa dunia saat ini yang mana ketentuan tersebut tentunya telah digariskan oleh-Nya akan membuat seseorang mampu menerima cobaan tersebut dengan hati lapang, dan penuh dengan  keikhlasan. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي أَنْفُسِكُمْ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيْرٌ * لِكَيْ لاَ تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلاَ تَفْرَحُوا بِمَا ءَاتَاكُمْ وَاللَّهُ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Tidak ada musibah yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu kecuali ada dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya hal itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak putus asa terhadap apa yang luput darimu, dan tidak terlalu bergembira dengan apa yang diberikan Allah kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri (QS. al-Hadīd [57]:22-23)


Dalam hadis, Baginda Rasulullah SAW bersada:

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّهَا قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

Dari Ummu Salamah bahwa ia mendengar Rasulullah Saw bersabda:Tidak ada seorang Muslim yang ditimpa musibah, kemudian ia mengucapkan seabagaimana diperintahkan Allah “Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku dan gantikanlah buatku sesuatu yang lebih baik darinya”, melainkan Allah akan member ganti yang lebih baik darinya (HR. Muslim)

Dengan memahami ayat dan hadis tersebut di atas, maka timbul keyakinan dalam diri kita bahwasanya apapun yang menimpa kita terutama kaum muslim bukan berarti Allah tidak berlaku adil dan ceroboh dalam menentukan takdir-Nya. Melainkan semuanya yang terjadi kita jualah yang menjadi terjadinya musibah tersebut, entah karena dosa yang kita lakukan, dosa orang disekeliling kita, perbuatan zalim kita yang tidak kita sadari atau kita menyadarinya tapi tetap tidak menjauhi perbuatan yang dilarang Allah tersebut. 

Dengan demikian dengan sepenuh hati dan segenap jiwa kebaikan atau keburukan, manfaat atau mudharat, semuanya Allah-lah yang telah mengatur sesuai dengan kadar perbuatan kita masing-masing. Dalam ayat lain disebutkan:

وَإِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِكَ قُلْ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ فَمَالِ هَؤُلآءِ الْقَوْمِ لاَ يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا

Dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka berkata: ”Ini adalah dari Allah”, dan jika mereka ditimpa bencana (malapetaka) mereka berkata: ”Ini darimu (Muhammad)”. Katakanlah: ”Semuanya berasal dari Allah”. Maka mengapa mereka itu (kaum munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun? (QS. Al-Nisā [4]:78).

Dengan demikian, istirjā’ atau mengembalikan peristiwa vandemi ini bukan berarti kita menghindar dari melakukan berbagai upaya dan sikap dalam mengatasinya. Vandemi tersebut tentunya disebabkan oleh perilaku dan sikap manusia, sehingga kita dituntut untuk mengantisipasinya.

2. Sabar dan Takwa

Point kedua yang dapat kita lakukan dalam menghadapi vandemi corona adalah dengan cara bersabar dan bertakwa, dimana selain kita berikhtiar secara lahir dan batin, kita pun dituntut untuk tetap bersabar dan meningkatkan kualitas penghambaan kita kepada Allah Subhanahu Wata’ala, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

وَاسْتَعِيْنُوْا بِاالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ
"Dan mintalah pertolongan kalian kepada Allah dengan sabar dan sholat."

Dalam ayat lain dijelaskan:

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيْرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ اْلأُمُورِ

Sungguh kalian akan diuji menyangkut harta dan diri kalian. Dan sungguh kalian akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kalian dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kalian bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan (QS. Ali Imrān [3]:186)

Ayat sebagaimana di atas tentunya mengarahkan kepada kita pada ketabahan dalam menghadapi sesuatu yang sulit, berat dan pahit dirasakan. Sehingga para ulama merumuskan pengertian sabar sebagai “menahan diri atau membatasi jiwa dari keinginannya demi mencapai sesuatu yang baik atau lebih baik (luhur)”.

Dalam menghadapi bencana atau malapetaka, bila kita hanya mengikuti kehendak hawa nafsu dalam bersikap dan bertindak tentunya akan timbul kemudharatan yang lebih banyak. Bisa jadi stress, menggerutu dan tidak menerima takdir Allah yang menimpanya. Akan tetapi jikalau kita bersabar dan menahan diri insyaAllah akan muncul solusi terbaik.

Sekali lagi manakala kita dapat bersabar dengan segala ujian dan terpaan musibah yang menghampiri kita, maka kita tergolong orang beriman dan bertakwa. Dalam Al-Qur’an disebutkan: 

وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

... dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa (QS. Al-Baqarah [2]:177).

3. Tawakkal


Pembaca yang dirahmati Allah (amin), tawakkal tidaklah berarti bahwa wabah yang melanda kita saat ini bukan sepenuhnya kita berserah diri Allah tanpa melakukan usaha ataupun ikhtiyar. Takwa disini yaitu penyerahan diri kita kepada Allah dengan dibarengi usaha semaksimal mungkin yang bisa kita lakukan.

Ada sedikit kisah menarik, dimana suatu hari datanglah seorang sahabat Nabi SAW menemui beliau di masjid. Tanpa memberitahu sebelumnya tiba-tiba sahabat tersebut menjumpai nabi. Rasulpun bertanya kepadanya, siapa gerangan, kesini naik apa, singkat jawaban ternyata kedatangan sahabat tersebut menemui Rasulallah dengan mengendarai onta dan setelah ditanya oleh Rasulullah karena kok tidak ada onta di sekeliling masjid maka laki-laki tersebut menjawab, “saya membawa onta akan tetapi saya tidak mengikatnya alias onta tersebut dibiarkan begitu saja tanpa seutas tali yang melilit lehernya dengan pohon.” Setelah ditanya kembali oleh baginda Rasul, “mengapa kamu tidak mengikatnya”, maka sahat tersebut-pun menjawab, “sesungguhnya aku telah bertawakkal kepada Allah”. mendengar jawaban ini, lantas Rasulullah meluruskan kekeliruan pemahamannya tentang tawakkal dengan bersabda, “Ikat/tambatlah terlebih dahulu (untamu), kemudian bertawakkallah” (HR. al-Tirmidzi).

Bertakwa kepada Allah Subhanahu Wata’ala dalam menghadapi vandemi corona ini jika dipahami dan disikapi sesuai dengan ketentuan Allah tentulah akan menambah dan mengokohkan predikat seorang mukmin. Di dalam Al-Qur’an disebutkan:

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلاَّ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلاَنَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Katakanlah: Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman bertawakkal (QS. Al-Taubah [9]:51)

4. Sadar dan Kembali kepada Allah SWT


Pandemi corona yang penyebarannya begitu cepat yang mengakibatkan ribuan nyawa melayang, jika kita lihat dari gaya bahasa Al-Quran akan membawa kefahaman bahwa hal tersebut merupakan salah satu cara Allah untuk menyadarkan manusia dari dosa dan kesalahan hidup yang dilakukannya. Hal ini tentunya terjadi agar mereka segera kembali (bertaubat) kepada Allah. (Baca dasar hukum taubat di sisi)

Dijelaskan dalam Al-Qur’an: 

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kepada Allah) (QS. Al-Rūm [30]:41)

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelummu, kemudian Kami siksa mereka dengan kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri (QS. Al-An’ām [6]:42)

Dalam ayat lain:

وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Dan Kami coba mereka dengan kebaikan dan keburukan, agar mereka kembali (kepada Allah) (QS. Al-A’rāf [7]:168)

وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ اْلأَدْنَى دُونَ الْعَذَابِ اْلأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Dan sungguh Kami menimpakan kepada mereka azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat); supaya mereka kembali (kepada Allah) (QS. Al-Sajdah [32]:21)

وَمَا نُرِيهِمْ مِنْ ءَايَةٍ إِلاَّ هِيَ أَكْبَرُ مِنْ أُخْتِهَا وَأَخَذْنَاهُمْ بِالْعَذَابِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Dan tidaklah Kami perlihatkan kepada mereka suatu mukjizat kecuali ia lebih besar dari mukjizat-mukjizat  sebelumnya. Dan Kami timpakan kepada mereka azab supaya mereka kembali (kepada Allah) (QS. Al-Zukhruf [43]:48)

وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا مَا حَوْلَكُمْ مِنَ الْقُرَى وَصَرَّفْنَا اْلآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Dan sungguh Kami telah membinasakan negeri-negeri di sekitar kalian dan Kami datangkan tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang supaya mereka kembali (kepada Allah) (QS. Al-Ahqāf [46]:27) 

Dari penjelasan ayat-ayat di atas dapat kita pahami dan kita tarik kesimpulan bahwa menyikapi musibah termasuk vandemi corona melalui; istirjā, sabar, takwa dan tawakkal kesemuanya itu tidaklah berarti menafikan usaha atau ihtiyar. Melainkan kesemuanya itu dibarengi dengan usaha semaksimal mungkin agar kita semua selamat tidak hanya dunia saja terlebih selamat agama kita.

menyikapi vandemi corona


Demikian semoga bermanfaat, mungkin Anda juga tertarik dengan artikel kami yang lain:


Friday, October 18, 2019

Ayat-ayat Jihad

AYAT-AYAT JIHAD

Shabat syariatkita, sebagaimana telah kami sampaikan dalam artikel kami berjudul “pengertian danhukum jihad”, bahwasanya kata jihad dengan berbagai kata turunannya terulang sebanyak 41 kali di dalam Al-Qur’an. Maka dalam artikel ini akan kami sampaikan detil pengulangan kata dimaksud sesuai dengan ayat masing-masing.

Dapatkan Artikel Kami Gratis

Ketik email Anda di sisi:

Kami akan mengirimkannya untuk Anda

Quality Content