Islam dalam Pengambilan Keputusan

Islam adalah agama yang "Rahmatan Lil 'Alamin", keberadaanya membawa kedamaian bagi umat semesta alam. Hal ini dapat kita lihat diantaranya dalam pengambilan keputusan kita dilarang dalam kondisi labil.

Kebenaran yang Dilematis

Kebenaran dalam beberapa hal ternyata tidak selalu berdampak baik bagi pelakunya. Dalam konteks ini kita harus tetap menyampaikan kebenaran tersebut sekalipun dilematis buat kita

Islam dan Olah Raga

Disebutkan bahwa, "Orang mukmin yang kuat lebih baik dan dicintai oleh Allah SWT., daripada mukmin yang lemah" So, keep healty, keep financial and pray

Lengkapilah Agamamu dengan Menikah

Salah satu ibadah yang enak dan berpahala banyak adalah melangsungkan pernikahan. Bagaimana tidak, karena nikah merupakan salah satu sunah para rasul "Sunanun min Sunanil Mursalin"

Memilih Teman

Teman menjadi orang yang paling mewarnai hidup kita, baik deri segi sikap tindakan dan sikap mental seseorang. Olehkarena itu Islam mengajarkan agar dalam bergaul kita benar benar berhati-hati karena "Al-Mu'asyarotu Muatsiroh"

Showing posts with label Akidah (عقيدة). Show all posts
Showing posts with label Akidah (عقيدة). Show all posts

Sunday, November 1, 2020

Kondisi Umat Akhir Zaman Sepeninggal Rasulullah SAW

Kondisi Umat Akhir Zaman Yang Paling Dikhawatirkan Rasulullah Sepeninggal Beliau


Bukanlah kemusyrikan, akan tetapi inilah kondisi umat akhir zaman yang paling dikhawatirkan Rasulullah SAW. yaitu harta, tahta dan wanita sehingga mereka rela membunuh antara satu sama lain.

Semoga kita diselamatkan oleh Allah dari kondisi tersebut. Amin Simak kajian Gus Baha ya, semoga bermanfaat.
Jika kalian mendapatkan ilmu baru silahkan subcribe channel Dakwah Digital agar tidak ketinggalan kajian terbaru dari Gus Baha.

Like dan share kajian ini ke teman kalian ya, agar semakin banyak yang mengetahui dan mendapatkan kemanfaatan dari kajian Gus Baha ini.



Monday, March 30, 2020

Hubungan Fiqih dan Tasawuf dalam Aqidah Islam

Hubungan Antara Fiqih dan Tasawuf dalam Aqidah Islam


Sahabat syariatkita, fikih sejatinya merupakan suatu tatanan yang mengatur kita dalam manjalankan syariat. Dimana permasalahan dan tatacara dalam beragama semuanya sudah diatur di dalam fiqih. Sedangkan Tasawuf merupakan ilmu menjernihkan hati, yang berperan memperhalus kualitas suatu ibadah, sehingga dalam menjalankan syariat Islam kita dapat terhindar dari apa yang dinamakan dengan syirik, ujub, takabur dan sum’ah.

Peranan Fiqih dan Tasawuf dalam Islam

Peranan fiqih yaitu menata ibadah dan muamalah dari segi dzohir atau luar, sedangkan tasawuf menata dari dalam diri atau dari hati. Ibarat suatu badan usaha, dikatakan legal manakala telah memiliki surat ijin operasional. Ibarat pengemudi, ia dikatakan memahami ketentuan berkendara manakala telah mengantongi SIM. Dalam syariat khuhusnya masalah ibadah dan muamalah, fiqih-lah yang memiliki legitimasi terhadap sah atau tidaknya ibadah seseorang. Akan tetapi kualitas pelayanan suatu badan usaha, ramah atau tidaknya pelayanan, bagaimana ia mendapatkan tender apakah dengan cara yang halal atau justru dengan cara menyuap panitia lelang, ini menjadi domain tasawuf. 

hubungan antara fiqih dan tasawuf dalam aqidah Islam


Begitu pula seorang pengendara, ketika ia berkendara di jalanan apakah ia akan mematuhi rambu-rambu lalu lintas hanya ketika ada polisi saja, apakah ia akan berjalan pelan manakala terdapat banyak kerumunan masa terutama orang-orang tua, dan ataukah ia akan menuntun dan mematikan mesin motornya manakala ia berjalan di perumahan sedangkan waktunya sudah larut malam. Ini semua tentunya menjadi domain tasawuf dan tasawuflah yang memiliki legitimasi dalam masalah etika dan estetika dalam beribadah dan bermuamalah. 

Lantas bagaimana dengan orang-orang yang mengatakan, “Kita kembali langsung kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah?” Baca dan klik artikelnya di sini.

Ketika fiqih memegang legitimasi dari segi hukum, tasawuf memegang kendali atas kualitas ibadah (khusyu’ tidaknya sholat, ikhlas tidaknya sedekah seseorang), maka dikenallah istilah yang dinamakan syariah, toriqoh dan hakikat sebagaimana dikemukakan oleh Imam Atho’illah dalam kitabnya; Al-Hikam. Orang yang hanya melihat ibadah dari maqom syariat saja karena belum sampai pada maqom thoriqoh, maka biasanya ia akan menganggap orang yang sudah sampai maqom tasawud beribadahnya menyimpang. Begitu pula sebaliknya, orang yang hanya melihat dari segi tasawuf tanpa ia mendalami makna tasawuf sendiri akan melihat orang yang dalam tahapan syariat adalah orang yang kurang beretika di dalam ibadahnya.

Hal tersebut dikarenakan, syariat dalam beragama memegang peranan yang simpel saja. Seperti sholat hanya dengan mengenakan penutup aurat saja, yaitu batas antara lutut dan pusat ia secara fiqih sudah dianggap sah, sedangkan dalam kacamata tasawuf orang yang demikian merupakan orang yang tidak memiliki etika dikarenakan ketika kita menghadap seorang pejabat saja harus mengenakan pakaian baik yang kita miliki apalagi sholat yang notabene adalam menghadap Sang Maha Pencipta. Sehingga diperlukan perpaduan antara syariat dan tasawuf dengan ilmunya masing-masing, jadi tidak asal-asalan saja. 
   

Sinergitas peran dan posisi fiqih dan tasawuf dalam Islam

Syariat dalam ibadah diibaratkan sebagai perahu atau kapal, toriqoh diibaratkan sebagai lautan dan hakikat atau haqiqoh diibaratkan sebagai mutiara. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Atho’illah dalam kitabnya:

وَشَرِيْعَةٌ كَسَفِيَنةٍ وَالطَّارِقَةُ كَاالْبَحْرِ ثُمَّ الْحَقِيَقُة دُرٌّ غُلَى

"Syariat laksana bahtera, thoriqoh laksana lautan dan haqikat (haqiqoh) laksana untaian mutiara"

Dalam hal ini seseorang yang hendak mendapatkan mutiara sudah barang tentu ia harus menggunakan bahtera. Setelah ia memiliki bahtera barulah ia dapat berselancar mengarungi dalamnya samudera dan mengambil mutiara dari dalam lautan. 

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang sering berargumen tanpa dilandasi ilmu agama dengan mengatakan, “Saya kan bisa mendapatkan mutiara sebanyak dan sekehendak saya hanya dengan pergi ke toko mutiara saja.” Baca artikelnya klik di sini.

Akan tetapi kita juga perlu ingat bahwasanya sampai kapanpun yang namanya perahu tidak akan bisa berlayar manakala hanya ditaruh di daratan, tanpa membawanya ke lautan. Setelah sampai ke lautan ia haus menebar jaring, memasang alat-alat yang diperlukan agar ikan ataupun mutiara yang menjadi bidikannya dapat berhasil ditangkap dan dinaikkan ke atas kapal. Setalah hal ini dilakukan maka barulai ia dapat merasakan enaknya ikan yang ia tangkap, mendapatkan indahnya mutiara yang berhasil ia ambil dari dalam lautan. Begitulan hubungannya antara syariat, thoriqoh dan haqiqoh (hakikat). 

Orang yang telah mengikrarkan dirinya dengan kalimah syahadat, bahwasanya tidak ada Ilah (Tuhan) yang Pantas disembah selain Dia, dan bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam adalah utusanya dengan mengucapkan:

اشهد ان لا اله الا الله واشهد ان محمدا رسول الله

Maka menurut Imam Atho’illah ia diibaratkan seperti orang sudah memiliki bahtera atau kapal. Akan tetapi ia tidak akan bisa menjalankan syariat agama Islam manakala ia tidak bisa menjalankan kapal yang ia miliki. Setelah ia berhasil menjalankan kapalnya di lautan (yang dalam posisi ini disebut toriqoh), maka ia pun harus terus menjaga kapalnya agar senantiasa dalam keadaan aman, tidak bocor di tengaah lautan dan tidak pecah saat dihantap badai. Ia juga harus memastikan semua kendali di dalam kapal berfungsi dengan baik, bahan bakarnya cukup serta ada orang atau nahkoda yang telah tersertifikasi yang dapat mengemudikan kapal tersebut. Sehingga dalam kapal atau syariah haruslan dilengkapi dengan Standar Operating Procedure (SOP) yang baik. Inilah gambaran kompleksitas syariah yang mengatur sedemikian banyaknya cakupan ibadah dan muamalah kita dalam kehidupan kita sehari-hari. 

Selanjutnya setelah kapal dipastikan dapat berlayar sesuai dengan SOP, maka agar ia dapat menghasilkan tangkapan ikan atau mendapatkan mutiara dari dalam lautan (yang dalam hal ini yaitu wushul dengan Allah Subhanahu Wata’ala) maka sudah seharusnya ia memahami karakteristik lautan, kedalamannya, di wilayah mana saja yang terdapat gunung es agar kapalnya tidak menabrak, serta di daerah mana saja yang terdapat kandungan mutiara dan ikan yang bisa ia tangkap. Sehingga dalam hal ini seseorang yang hendak wushul kepada Allah haruslah memahami ilmu toriqoh.

Dengan demikian dalam menjalankan syariat Islam, mutlak diperlukan sinergitas antara fiqih dan tasawuf serta peran masing-masing. Jadi tidak parsial atau berjalan sendiri-sendiri. Dengan sinergitas maka beribadah dapat berjalankan sesuai tuntunan akidah Islam yang benar, dan juga dalam pelaksanaan tidak kelihatan kaku.

Demikian semoga bermanfaat, mungkin Anda juga tertarik dengan artikel kami yang lain:

Source:
Kitab Al-Hikam Karya Imam Ibnu Atho'illah As-Skandary

Wednesday, August 17, 2016

Hakikat Iman Kepada Allah & Cara Menjaganya

HAKIKAT KEIMANAN KEPADA ALLAH 

KENALI DAN KOREKSI KEIMANAN


Alhamdulillah, setelah cukup lama vakum dari dunia tulis-menulis dalam kesempatan ini diizinkan oleh Allah kembali men-share artikel dengan harapan tentunya dapat membawa manfaat bagi sahabat blogger sekalian.

Dilihat dari perspektif etimologi, kata iman tentunya berasal dari bahasa Arab yang selanjutnya dapat saya jelaskan sebagai berikutKata iman adalah bentuk masdar dari kata kerja:

أَمَنَ – يُؤْمِنُ - اِيْمَانًا

Dari kata  tersebut iman dapat diartkan sebagai suatu keyakinan akan adanya Tuhan dengan syarat dan rukun yang tentunya sudah dijelaskan sebagaimana dalam kitab tauhid. Dalam hal ini seseorang yang meyakini akan adanya Allah dengan dibarengi dengan pengamalan terhadap seluruh ajaran syariat maka sudah barang tentu ia termasuk dalam kategori iman. Hal ini sebagaimana dalam hadis:

قَالَ يَامُحَمَّدُ فَاَخْبِرْنِى عَنِ لْاِيْمَانُ؟ قَالَ اَلْاِيْمَانُ اَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّيْنَ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ

“(Jibril bertanya kepada nabi), wahai Muhammad terangkan kepadaku apakah iman itu? beliau menjawab, iman adalah engkau percaya pada Allah SWT., malaikat-malaikat-Nya, percaya kepada kitab-kitab-Nya, percaya pada Nabi-Nabi-Nya, dan engkau percaya takdir (baik dan jelek)."


Akan tetapi yang perlu kita cermati bersama apakah keimanan tersebut sudah dibarengan dengan ajaran syariat?

Sahabat sekalian, salah satu pesan Rasulullah SAW. yang sudah sepatutnya kita pegang teguh adalah sebagaimana pertanyaan beliau kepada sahabat Abu Dzarr, dimana tiada hentinya beliau mengingatkan masalah yang satu ini. Hal ini dikarenakan tanpanya manusia tiada artinya dihadapan Allah SWT.  Apakah gerangan? Ya… masalah iman. Iman yang merupakan pondasi, barometer dan tolok ukur seorang muslim yang taat dan yang maksiat melanggar aturan syariat. Dalam momentum tersebut, Rasulullah SAW. Berpesan kepada sahabat Abu Dzarr:

يَا اَبَا ذَرٍّ، جَدِّدُ السَّفِيْنَةَ فَإِنَّ الْبَحْرَ عَمِيْقٌ

“Wahai abu dzarr, perbaharuilah perahumu karena lautan itu sangat dalam”.

Dalam pesan tersebut Rasulullah SAW. menganalogikan iman yang diibaratkan tak ubahnya seperti perahu. Perahu hanya dapat berjalan manakala medianya pas dan benar yaitu di atas air. Bisa kita bayangkan manakala perahu kita letakkan di atas daratan, tentu tiada pernah bisa berlayar. Kendatipun demikian, perahu dengan media yang tepat sudah ditempatkan diatas air belum tentu menjamin perahu tersebut tetap eksis dan tetap bulus berlayar di atas air. Hal tersebut dikarenakan banyak tantangan yang siap menerpa dan menerjang perahu kapan saja mulai dari badai, ombak, karang dan yang paling menyeramkan adalah fenomena gunung es yang kesemuanya itu siap menghanyutkan dan menenggelamkan kapal jikalau tidak diantisipasi sedini mungkin.

Begitu pula dengan iman, karena iman tidak selamanya selalu istiqomah/konstan tapi fluktuatif oleh karena itu amat sangat tepat jikalau kita dituntut untuk senantiasa memperbaiki keimanan kita agar keimanan kita tetap terkontrol dan pada akhirnya mendapat ridho dan naungan-Nya. Amin. Mengenai hal ini Rasulullah mengajarkan sebuah doa kepada kita sebagaimana dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim berikut:

اَلَّلهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِيْنِكَ الَلَّهُمَ يَا مُصَرِّفَ الْقُلُوْبِ صَرِّفْ قَلْبِى عَلَى طَاعَتِكَ (رواه مسلم)

“Wahai Dzat yang membolak-balikan hati, tetapkan dan kuatkanlah hatiku (agar tetap berada pada) agama-Mu (Islam). Wahai Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hatiku agar senantiasa taat kepada-Mu. (HR. Muslim)


Dari sisi kita sedari disni kita dituntut untuk senantiasa memperbaiki kualitas keimanan kita, agar keimanan kita kepada Allah SWT. Senantiasa terjaga kestiqomahannya. Hal lain yang tidak kalah pentingnya yaitu kita harus evaluasi dan mengupgrade apakah keimanan kita selama ini sudah berjalan sesuai dengan alur yang dibenarkan oleh syariat? Atau justru malah sebaliknya. Manakala sebaliknya sudah menjadi kewajiban kita untuk sesegera mungkin memperbaikinya. Sekian semoga bermanfaat

http://syariatkita.blogspot.co.id/

Sumber:
Kitab Riyadhussalihin Cet. PT. Karya Toha Putra

Video agar iman kita selalu terjaga oleh Ust. Abdussomad

Baca Juga: 

Thursday, November 27, 2014

Jalan Menuju Allah Melalui Metode Tasawuf

CARA MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH MELALUI METODE TASAWUF

Tidak dapat dipungkiri bahwa tujuan hidup yang hakiki bagi manusia menurut syari’at Islam adalah tidak hanya berorientasi pada masalah dunia saja, akan tetapi jauh melebihi dari itu semua. Islam memformulasikan kehidupan bagi umatnya, agar selain di dunia dapat hidup bahagia, esensi penting lainnya yaitu mempersiapkan kebahagian hakiki di akhirat nanti.

Dalam hal ini, seseorang pertama kalinyatelah dikenalkan mengenai hakikat kehidupannya, sebagaimana difirmankan Allah dalam Al- Qur’an Surah al-Bayyinah ayat 5 sebagai berikut:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Dan mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan Zakat”

Berdasarkan ayat di atas, jelaslah bahwa hakikat dari kehidupan manusia tiada lain hanyalah untuk mengabdikan diri kepada Allah dengan cara menjalankan syariat Islam dalam semua lini kehidupan. Perlu diingat sobat blogger, bahwa mendekatkan diri kepada Tuhan tidak bisa hanya dari satu sisi saja (salat dan ibadah mahdhah lainnya), akan tetapi harus balance (antara vertikal dan horizontal). Dalam arti jika kita ingin dekat dengan Tuhan, selain harus melakukan kebaktian langsung kepada-Nya, kita pun dituntut untuk berbuat baik dengan sesama kita seperti menolong orang lain.

Orang yang dari segi ubudiyahnya baik; dalam arti ibadahnya rutin bahkan amalan sunahnya selaluy dijalankan. Akan tetapi perangainya jahat, ia sering menyakiti temannya, bicaranya senantiasa menyinggung orang lain, dan suka menggunjing dan membicarakan aib orang lain. Jika demikian halnya, bagaimana mungkin orang tersebut dapat dekat dengan Allah? padahal ayat di atas jelas mengajarkan keseimbangan antara ibadah mahdhah (vertikal) dan ghoiru mahdhah (horizontal).

Berkenaan dengan hal tersebut, Rasulullah saw. dalam sebuah hadis menjelaskan:

اَلْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Orang muslim adalah orang yang tidak menyakiti orang muslim lainnya; baik dengan mulut yang berupa memaki, membentak dan lain sebagainya. Ataupun juga dengan tangannya seperti memukul.

Selain hal di atas, orang yang dekat dengan Tuhannya, niscaya ia akan senantiasa menjaga keseimbangan jasmani dan rohani, material spiritual, atau yang lebih luas sama dengan dunia dan akhirat. Upaya tersebut akan berhasil manakala ia mampu membawa diri mendekatkan diri dengan Ilahi Rabbi dan mampu pula adaptasi dengan lingkungan dunia yang ia jalani. Allah berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“Dan carilah pada apa yang telah   di anugrahkan Allah kepadamu (kebahagiaan)negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaan dari (kenikmatan) duniawi.” (Q.S. Al-Qoshosh ayat: 77)

Ketika kita kelah menjalankan ketentuan agama dengan sebaik mungkin, maka tiba saatnya kita menata diri. Dalam hal ini seseorang dapat melakukan upaya pendekatan diri dengan Tuhan melalui metode tasawuf, dengan tahapan-tahapan sebagai berikut:

Tahap Takhalli (pembersihan diri dari sifat tercela)

Tahap takhalli, merupakan tahapan dasar yang dirasa paling berat. Seseorang yang berkomitmen ingin mendekatkan diri dengan Allah, maka ia dituntut untuk dapat mengalahkan semua hawa nafsunya. Hal tersebut dikarenakan, nafsu merupakan seseutu yang prosentase besarnya justru dapat menjauhkan diri dari Allah. Hal tersebut sebagaimana dalam firman Allah:

إن ألنفس لأمارة بالسوء

Oleh karena itu, dalam tahap awal ini seseorang harus dapat menghindarkan dirinya dari segala bentk maksiat seperti menyakiti orang lain, dan menjauhi sifat-sifat negetif lainnya.

Tahap Tahalli (melakukan amaliyah kebaikan)

Tahapan ini dapat ditempuh dengan melakukan aktivitas-aktivitas yang suci, dimana seseorang sudah mulai. Dalam tahapan ini hati seserrang yang sudah kosong dari dosa selanjutnya diisi dengan amal-amal kebaikan, seperti shalat puasa dan lain sebagainya. Dalam tahapan ini, seseorang dapat menempuhnya diantaranya dengan melakukan amaliah agama seperti:

1.         Shalat
Secara naluti, shalat merupakan hubungan yang sangat luar biasa antara manusia dengan Tuhannya. Dalam shalat, manusia tidak pandang bulu dituntut untuk berdiri khusuk dan tunduk kepada Allah, Tuhan pencipta alam semesta. Keadaan semacam ini akan membekalinya dengan suatu  tenaga rohani yang menimbulkan perasaan tenang, jiwa yang damai dan hati yang tentram. Disamping menyeru Tuhan, juga menemukan harapan-harapan dan ketakutan-ketakutan kita, dengan memunculkan diri yang paling dalam menuju diri kita sendiri.

Ketika shalat dapat dijalankan dengan khusuk, maka seluruh fikiran akan tenang dan terlepas dari segala urusan dunia yang membuat jiwa seseorang menjadi gelisah. Setelah menjalankan shalat, maka seseorang akan senantiasa dalam keadaan tenang sehingga secara bertahap kegelisahan itu akan mereda dan menghilang. Sehingga dengan langkah demikian seseorang lebih merasa dekat dengan Allah.

2.          Puasa
Puasa merupakan bentuk konsekuensi hamba dengan Tuhannya. Dengannya ia berkomitmen menahan diri dari makan, minum dan berhubungan suami istri mulai terbit fajar hingga terbenam matahari (magrib), karena mencari ridha Illahi. Disini keimananlah yang mendorong untuk berpuasa, sehingga ia mampu menjalankan seperti apa yang di perintahkan Allah.

Puasa sebagai salah satu inti dari ajaran Islam, telah mendorong umatnya bersifat hidup lebih disiplin dan bijaksana. Dengan demikian maka upaya mendekatkan diri dengan Tuhan semakin dekat untuk dicapai.

3.         Dzikir
Dzikir merupakan suatu aktivitas, dimana seseorang mengingat Allah dengan menyebut asma-asma yang pujian dan dapat pula memohon ampunan. Al-Qur’an memberikan petunjuk kepada umatnya bahwa dzikir itu bukan hanya dilakukan dengan mengekspresikan daya ingatan yang ditampilkan dengan komat-kamit lidah sambil duduk merenung saja, tetapi lebih dari itu, dzikir bersifat implementatif dalam berbagai variasi yang aktif dan kreatif. Dengan dzikir yang rutin maka tiada waktu yang terlewatkan dalam keseharian seseorang sehingga ia akan lebih dekat dengan Allah.

Dalam Al-Qur’an disebutkan:

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ أَلا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Dengan mengingat Allah, hati orang-orang yang beriman menjadi tenang. Ketahuilah dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang”

Tahap Tajalli (Buah Dari Ikhtiar Pendekatan Diri yaitu depan Melihat Kebesaran Allah)

Dalam tahapan ini, orang sudah mulai merasakan kedekatannya dengan Tuhannya. Hasil ini merupakan konsekuensi dari perbuatan, ucapan, sikap, gerak-gerik, martabat dan status yang baru yang kesemuanya di atasnamakan untuk Allah. Jika dalam tahapan tahalli, seseorang dituntut untuk  memfokuskan pada upaya memulai hubungan dengan manusia, maka dalam tahapan tajalli ia sudah lebih nyata dan jelas merasakan buah pendekatan diri yang dilakukannya. Dengan kata lain tajalli merupakan perasaan dimana seseorang benar-benar sudah merasa dekat dengan Allah, sehingga ia takjub akan kebesaran dan keagungannya.

Dari tahapan tahapan di atas insyaAllah kita akan lebih dekat dengan Tuhan kita, mendapatkan ridha rahmat dan karunia-Nya, sehingga kita dapat menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Amin  
Jalan Menuju Allah Melalui Metode Tasawuf



Tuesday, April 8, 2014

Fenomena Kemunculan Tasawuf

FENOMENA KEMUNCULAN TASAWUF


Berbicara mengenai tasawuf, sebenarnya hal tersebut belum pernah “ada” atau dikenal pada masa Nabi Muhammad Saw. dan Khulafaur Rasyidin r.a. Sebutan atau istilah tasawuf juga “tidak pernah dikenal” oleh para pengikut Nabi yang mendapat predikat ”shahabat” dan pada masa berikutnya, yaitu pada masa shahabat orang muslim yang tidak berjumpa dengan beliau, disebut tabi’in. Akan tetapi yang menarik yaitu, kenapa tasawuf sekarang menjadi trend para sufi untuk mendekatkan diri kepada Allah, bahkan Hujjatul Islam (Iman al-Ghazali) sendiri juga baru menemukan nikmatnya beribadah tatkala beliau menggeluti dunia tasawuf. Nampaknya inilah yang menjadi salah satu faktor pendorong para pengikutnya menjalankan ibadah dengan jalan sufi (tasawuf).

Istilah tasawuf sebenarnya baru dikenalkan pada pertengahan abad ke-2 Hijriah, oleh Abu Hasyim al-Kufy (w. 250H) dengan meletakkan kata “ash-Shufi” di belakang namanya. Kendatipun demikian, sebenarnya sebelum itu telah ada ulama yang mendahuluinya dalam hal zuhud, wara’, tawakkal, dan dalam mahabbah. (Amin, 2002: 11)

Dipandang dari segi etimologis, para ahli ada yang berbeda pendapat mengenai asal kata tasawuf. Sebagian dari meraka menyatakan bahwa tasawuf berasal dari kata “shuffah” yang artinya emper Masjid Nabawi yang didiami oleh sebagian sahabat anshar. Sebagian lagi mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata “shaf”, yang artinya barisan. Sedangkan yang lain mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata “shaffa” yang artinya bersih, jernih. Pandapat yang lain mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata “shufanah” yaitu sebutan untuk kayu yang tumbuh di padang pasir, dan pendapat terakhir mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata “shuf” yang merupakan nama bagi bulu domba, sehingga orang yang mengenakan pakaian bulu domba biasanya disebut dengan “muthasawwif”, perilakunya disebut tasawuf. (Harun, 1990: 11)

Dari pegertian di atas berikut kami coba kemukakan alasan-alasan yang memperkuat beberapa pendapat tersebut (Asywadi, 1986: 18). 
1. Pendapat yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata “shuf”
Diantara pendapat ini yaitu sebgaimana yang dikatakan oleh Hasan al-Basri, “Aku telah bertemu dengan tujuh puluh Pasukan Bardar yang mengenakan bulu domba”.
2. Pendapat yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata “shaf”, yaitu dikarenakan ahli tasawuf itu berada pada barisan (shaf) pertama disisi Allah swt. Hal tersebut telah menjadi cita-cita yang tertinggi dan kesungguhan mereka dalam menghadap Allah SWT dengan sepenuh hati.
3. Sedangkan Pendapat yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata “shuffah” adalah hadis dari Abu Hurairah yang artinya, “Sesungguhnya aku telah melihat ahli shuffah memakai satu pakaian yang sempit, sebagaimana ada yang tidak mencapai dua lututnya, maka apabila dia rukuk, sahabat yang lain memeganginya, karena takut auratnya terlihat”.

Terlepas dari hal-hal di atas, untuk mencapai tujuan tasawuf seorang sufi harus melaksanakan berbagai tahapan atau yang sering dikenal dengan al-Mujahadah wa ar-Riyadlah. Sehingga tidak dibenarkan, jika seorang yang mengklaim seorang sufi akan tetapi ia memisahkan antara amaliyah kerohanian dengan syari’at agama Islam. Dalam kaitannya dengan hal ini, Abu Yazid al-Bushtami mengatakan, “Apabila kamu sekalian melihat seorang diberi keramat, sehingga ia mampu terbang di angkasa, maka janganlah sekali-kali kamu tergiur dengannya, sehingga kamu melihat bagaimana keadaan ia dalam menjalankan perintah dan meninggalkan larangan agama, serta bagaimana ia menjaga ketentuan-ketentuan syariat yang ada” (Asywadi, 1986: 18).

Dengan demikian dapat diambil pengertian bahwa tasawuf merupakan suatu latihan (ar-Riyadlah an-Nafsiyah), dengan tujuan untuk membersihkan, mempertinggi dan memperdalam kerohanianseseorang dalam rangka mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah, sehingga konsentrasi dalam setiap aktivitasnya tiasa lain hanya tertuju kepada Allah semata, inailah hakikat dari tasawuf. 

Dengan kata lain, tasawuf adalah bagian dri ajaran Islam,yang mengarahkan dan membentuk akhlak manusia untuk mencaai kebahagiaan dan kesempurnaan lahir dan batin, dunia dan akhirat. Oleh karena itu, siapapun bisa sampai pada predikat “mutasawwif” selamaia berbudi pekerti tinggi, sanggup menderita, lapar dan dahaga, senantiasa menjalankan ajaran dan syariat agama serta menjauhi sifat-sifat tercela. Hal inilah yang dikehendaki dalam tasawuf yang sebenarnya.



Demikian semoga bermanfaat, mungkin Anda juga tertarik dengan artikel kami yang lain:



fenomena kemunculan tasawuf

Dapatkan Artikel Kami Gratis

Ketik email Anda di sisi:

Kami akan mengirimkannya untuk Anda

Quality Content