Islam dalam Pengambilan Keputusan

Islam adalah agama yang "Rahmatan Lil 'Alamin", keberadaanya membawa kedamaian bagi umat semesta alam. Hal ini dapat kita lihat diantaranya dalam pengambilan keputusan kita dilarang dalam kondisi labil.

Kebenaran yang Dilematis

Kebenaran dalam beberapa hal ternyata tidak selalu berdampak baik bagi pelakunya. Dalam konteks ini kita harus tetap menyampaikan kebenaran tersebut sekalipun dilematis buat kita

Islam dan Olah Raga

Disebutkan bahwa, "Orang mukmin yang kuat lebih baik dan dicintai oleh Allah SWT., daripada mukmin yang lemah" So, keep healty, keep financial and pray

Lengkapilah Agamamu dengan Menikah

Salah satu ibadah yang enak dan berpahala banyak adalah melangsungkan pernikahan. Bagaimana tidak, karena nikah merupakan salah satu sunah para rasul "Sunanun min Sunanil Mursalin"

Memilih Teman

Teman menjadi orang yang paling mewarnai hidup kita, baik deri segi sikap tindakan dan sikap mental seseorang. Olehkarena itu Islam mengajarkan agar dalam bergaul kita benar benar berhati-hati karena "Al-Mu'asyarotu Muatsiroh"

Sunday, May 17, 2015

puasa sesuai tuntunan ralulullah

Puasa Sesuai Tuntunan Syariat Yang Diajarkan Rasulullah

Puasa merupakan media bagi seseorang untuk lebih mendekatkan dirinya kepada Allah, dimana seseorang yang menjalankan puasa akan diberikan kebahagiaan tidak hanya di dunia saja, akan tetapi kenikmatan yang jauh lebih dahsyat tiada bandinganya yaitu bertemu Allah SWT. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis:

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ الْإِفْطَارِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ
Arti:

“Orang yang berpuasa itu memiliki dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Tuhannya.”

Selain dapat bertemu dengan Allah SWT., ibadah orang yang berpuasa juga akan dilipatgandakan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, orang yang berpuasa dianjurkan untuk mengamalkan amalan-amalan sunah dan menjauhi perbuatan yang makruh dikerjakan selama berpuasa. Dalam artikel ini, saya akan sedikit berbagi tentang sunah-sunah puasa dan hal yang makruh dikerjakan bagi orang yang sedang berpuasa.

Download Doa Shalat Tarawih Lengkap Beserta Artinya di Sini 

Sunah-sunah Puasa

Diantara sunah-sunah puasa adalah:
1.     Makan sahur, meskipun hanya sedikit. Disebutkan dalam hadis:

عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ:  تَسَحَّرُوْا فَاِنَّ فِى السَّحُوْرِ بَرَكَةً. (متفق عليه)

"Dari Anas bin Malik ra., ia berkata, Rasulullah saw. pernah bersabda, 'Hendaklah kalian makan sahur, ka-rena dalam sahur itu ada berkahny.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2.     Mengakhirkan makan sahur selama belum terbit fajar (sampai waktu imsak, kira-kira 10 menit sebelum subuh)
.
وَعَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ﷺ ثُمَّ قُمْنَا اِلَى الصَّلَاةِ، قِيْلَ: كَمْ كَانَ بَيْنَهُمَا؟ قَالَ: خَمْسُوْنَ اٰيَةً. (متفق عليه)

"Dari Zaid bin Tsabit ra., ia berkata, kami bersahur bersama Rasulullah saw. kemudian bangun untuk salat subuh. Ketika ditanya, 'Berapa lama di antara sahur hingga salat subuh?'Jawabnya, 'Sekedar orang membaca 50 ayat'." (HR. Bukhari dan Muslim)

3.     Menyegerakan berbuka telah masuk maghrib. Dalam hal ini, Rasulullah saw. bersabda:

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ قَالَ: لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ. (متفق عليه)

"Dari Sahal bin Saad ra., bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, 'Orang masih tetap dalam kebaikan selama ia menyegerakan berbuka puasa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis lain, Imam Turmudzi meriwayatkan:

وَلِلتِّرْمِذِيِّ مِنْ حَدِيْثِ اَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: اَحَبُّ عِبَادِيْ اِلَيَّ اَعْجَلُهُمْ فِطْرًا.

"Dalam riwayat Turmudzi dari hadis Abu Hurairah ra., dari Nabi saw., beliau bersabda, AllahAzza wa Jalla berfirman: 'Hamba-Ku yang paling Aku cintai ialah mereka yang menyegerakan berbuka puasa.”

4.     Membaca doa ketika berbuka sebagai berikut:

اَللّٰهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلٰى رِزْقِكَ اَفْطَرْتُ وَبِكَ اٰمَنْتُ.

"Ya Allah, karena Engkaulah hamba berpuasa dan dengan rezeki-Mu hamba berbuka dan kepada-Mulah hamba beriman."

5.     Menjauhi ucapan-ucapan yang tidak senonoh, misalnya berkata-kata yang keji, seperti mencela, bohong dan sebagainya.

عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلهِ حَاجَةٌ فِيْ اَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ. (رواه البخاري وابو داود واللفظ له)

"Dari Abu Hurairah ra., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, 'Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta, perbuatan dusta dan perbuatan bodoh, maka Allah tidak butuh akan lapar dan dahaga mereka.” (HR. Bukhari dan Abu Dawud)

عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ: اِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ اَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، فَاِنْ سَابَّهُ اَحَدٌ اَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ اِنِّيْ صَائِمٌ. (متفق عليه)

"Dari Abu Hurairah ra., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, 'Apabila salah seorang dari kamu berpuasa, maka jangan berbicara yang keji dan jangan membuat huru-hara dan kalau ada orang yang memaki atau mengajak berkelahi, maka katakanlah, 'Aku berpuasa.”  (HR. Bukhari dan Muslim)

6.     Memperbanyak amal kebajikan, bersedekah, mem-baca Al-Qur'an dan sebagainya. Disebutkan dalam hadis:

عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ اَجْرِهِ غَيْرَ اَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ اَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ. (رواه الترمذي)

"Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani ra., dari Nabi saw., beliau bersabda, 'Barang siapa yang memberi makanan untuk berbuka puasa kepada orang yang berpuasa, maka baginya memperoleh pahala sama seperti orang yang berpuasa itu tanpa kurang sedikit pun.” (HR. Turmudzi)

7.     Memperbanyak itikaf di masjid. Rasulullah saw. bersabda:
عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ قَالَ: مَنْ قَامَ رَمَضَانَ اِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. (متفق عليه)
"Dari Abu Hurairah ra., ia berkata, bahwasanya Rasulullah saw. telah bersabda, 'Barang siapa yang beribadah pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ اِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ اَيِ الْعَشْرُ الْاَخِيْرَةُ مِنْ رَمَضَانَ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَاَحْيَا لَيْلَهُ، وَاَيْقَظَ اَهْلَهُ. (متفق عليه)
"Dari Aisyah ra., ia berkata, 'Adalah Rasulullah saw. apabila masuk sepuluh hari, maksudnyasepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadhan, makabeliau menjauhi istrinya, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا اَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْاَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ، حَتّٰى تَوَفَّاهُاللهُ عَزَّ وَجَلَّ، ثُمَّ اعْتَكَفَ اَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ. (متفق عليه)

"Dari Aisyah ra.,bahwasanya Nabi saw. beritikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga beliau meninggal dunia, kemudian sesudah beliau meninggal dunia istri-istrinya beritikaf."  (HR. Bukhari dan Muslim)

Hal-hal yang Makruh Dilakukan KetikaPuasa

Ada beberapa hal yang boleh dikerjakan pada waktu puasa di bulan Ramadhan, akan tetapi makruh hukumnya, yaitu:
1.     Berkumur-kumur secara berlebihan.
2.     Mencoba rasa (mencicipi) makanan.
3.     Melakukan bekam, cacar dan suntik. Sebagaimana disebutkan dalam hadis:

عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: اَوَّلُ مَا كُرِهَتِ الْحِجَامَةُ لِلصَّائِمِ اَنَّ جَعْفَرَ بْنَ اَبِيْ طَالِبٍ اِحْتَجَمَ وَهُوَ صَائِمٌ، فَمَرَّ بِهِ النَّبِيُّ ﷺ فَقَالَ: اَفْطَرَ هٰذَانِ، ثُمَّ رَخَّسَ النَّبِيُّ ﷺ بَعْدُ فِى الْحِجَامَةِ لِلصَّائِمِ، وَكَانَ اَنَسٌ يَحْتَجِمُ وَهُوَ صَائِمٌ. (رواه الداروقطني وقواه)

"Dari Anas bin Malik ra., ia berkata, permulaan di-makruhkannya bekam (diambil darah) bagi orang yang berpuasa ialah ketika Jafar bin Abu Thalib berbekam padahal ia sedang berpuasa, kemudian Nabi saw. me-lewatinya dan bersabda, 'Dua orang ini berbuka puasa.' Kemudian Nabi saw. memberi kelonggaran berbekam bagi orang yang berpuasa, dan sahabat Anas berbekam sedangkan ia berpuasa.” (HR. Daruquthni dan dikuatkannya)
4.     Bersiwak atau bersikat gigi setelah tergelincirnya matahari.


Demikian artikel tentang sunah-sunah puasa dan hal yang hendak dijauhi (makruh) ketika berpuasa. Hal tersebut akan lebih sempurna manakala orang yan berpuasa menanti dan mengetahui keutamaan yang luar biasa yaitu mendaatkan malam lailatul qodar. Semoga bermanfaat. Demikian artikel tentang sunah-sunah puasa dan hal yang hendak dijauhi (makruh) ketika berpuasa semoha bermanfaat. Mungkin Anda juga tertarik dengan artikel kami yang lain:


7 amalan sunah puasa & 4 amalan makruh puasa yang harus dijauhi


Saturday, May 16, 2015

Pembahasan Syarat dan Rukun Puasa

Pembahasan Syarat dan Rukun Puasa 


Sahabat syariatkita, banyak orang Islam beranggapan bahwa puasa hanya sekedar menahan lapar, tidak makan dan minum saja. Akan tetapi, substansi lain yang justru lebih penting terkait dengan diterimanya ibadah puasa malah tidak diperhatikan, sehingga mereka puasa tetapi tidak mendapatkan pahala sama sekali, mereka hanya mendapatkan rasa lapar dan haus saja. Mereka menjalankan puasa tapi syahwat mereka juga masih saja berdusta dengan puasanya. Mereka berpuasa akan tetapi tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu 'Alaihi Wasallam. (Baca Puasa Sesuai Dengan Tuntunan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam di sini) 


Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah dalam sebuah hadis:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ اِلَّا الْجُوْعُ وَالْعَطَشُ

“Banyak orang yang berpuasa, akan tetapi mereka tidak mendapatkan (pahala) puasanya, kecuali hanya rasa lapar dan haus.”

pembahasan syarat dan rukun puasa


Berdasarkan hadis di atas, maka agar kita mendapatkan pahala dari puasa yang kita lakukan, sudah barang tentu harus menjalankan syarat dan rukunnya dengan baik dan benar. Oleh karena itu marilah kita memahami syarat dan rukun puasa yang akan saya jelaskan sebagai berikut:  

Syarat dan Rukun Puasa

1. Syarat Puasa

Syarat puasa dapat dibedakan menjadi dua, yaitu syarat wajib dan syarat sah. Yang dimaksud syarat wajib puasa adalah, syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang melaksanakan puasa. Artinya, puasa tidak dianggap sah kecuali dilakukan oleh orang-orang yang memenuhi syarat-syarat tersebut. 

Adapun syarat-syarat wajib puasa adalah sebagai berikut:
  1. Beragama Islam.
  2. Sudah baligh atau mukallaf, anak-anak belumlah diwajibkan  berpuasa, tetapi apabila kuat mengerjakannya, boleh diajak berpuasa sebagai latihan.
  3. Istitho'ah atau kuat, artinya mampu menjalankan puasa. Dalam hal ini orang sakit dan orang yang sudah tua, maka mereka diperbolehkan meninggalkan puasa, tetapi wajib membayar fidyah.
Sedangkan yang dimaksud syarat sah puasa adalah, syarat tambahan yang harus dimiliki oleh orang yang hendak menjalankan puasa. Hal ini dikarenakan orang yang telah memenuhi syarat wajib puasa, belum tentu puasanya dianggap sah, jika tidak melaksanakan syarat-syarat sahnya puasa. 

Adapun yarat-syarat sahnya puasa sebagai berikut:

  1. Islam.
  2. Tamyiz (berakal), artinya dapat membedakan antara yang baik dan buruk. Tegasnya bukan anak yang terlalu kecil atau orang gila.
  3. Suci dari haid dan nifas. Wanita yang sedang haid dan nifas tidak sah jika mereka berpuasa, tetapi wajib qadha pada waktu lain sebanyak bilangan puasa yang ia tinggalkan.
  4. Tidak di dalam hari-hari yang dilarang untuk berpuasa, yaitu di luar bulan Ramadhan.

2. Rukun Puasa

Adapun rukun puasa adalah sebagai berikut:
1. Niat
Yaitu menyengaja puasa Ramadhan, setelah terbenam matahari hingga sebelum fajar shadiq. Artinya pada malam harinya, dalam hati telah tergerak (berniat), bahwa besok harinya akan mengerjakan puasa wajib Ramadhan. Adapun puasa sunah, niatnya boleh dilakukan pada pagi harinya 
.
عَنْ حَفْصَةَ اُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا اَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ. رواه الخمسة، وقال الترمذي والنسائي الى ترجيح وقفه، وصححه مرفوعا ابن خزيمة وابن حبان، وللدارقطني: لَا صِيَامَ لِمَنْ لَمْ يَفْرِضْهُ مِنَ اللَّيْلِ.

"Dari Hafshah; Ummul-Mukminin ra., bahwasanya Nabi saw. bersabda, 'Barang siapa yang tidak menetapkan akan berpuasa sebelum fajar, maka tidak sah puasanya'." HR. Imam yang lima, Nasa'i dan Turmudzi cenderung mentarjih mauqufnya, tapi disahkan secara marfu‘ oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dan dalam riwayat Daruquthni: "Tidak sah puasanya bagi orang yang tidak menetapkannya dari malam harinya."

2.   Meninggalkan segala yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar shadiq hingga terbenam matahari.

Hal-hal yang Membatalkan Puasa

Adapun yang membatalkan puasa ialah:
  1. Memasukkan sesuatu ke dalam lubang rongga badan dengan sengaja, seperti makan, minum, merokok, memasukkan benda ke dalam telinga atau ke dalamhidung hingga melewati pangkal hidungnya. Akan tetapi jika hal tersebut dilakukan karena lupa, maka tidak membatalkan puasa. Adapun memasukkan sesuatu kedalam badan tetapi tidak melalui rongga, seperti suntik di lengan, di paha, di punggung atau tempat lainnya, maka tidak membatalkan puasa. Hal tersebut dikarenakan paha atau punggung bukan termasuk lubang rongga badan.
  2. Muntah dengan sengaja. Adapun muntah yang terjadi karena tidak disengaja, maka tidak membatalkan puasa.
  3. Haid dan nifas, wanita yang haid dan nifas haram mengerjakan puasa, tetapi wajib mengqadha sebanyak hari yang ditinggalkan pada waktu haid dan nifas.
  4. Jima‘pada siang hari atau pada waktu fajar shadiq telah tampak.
  5. Gila walaupun hanya sebentar.
  6. Mabuk atau pingsan sepanjang hari.
  7. Murtad, yakni keluar dari agama Islam.

Hukum Orang Jima' (Bersetubuh) Pada Siang Hari di Bulan Ramadhan

Dalam hal orang batal puasa karena jima' i siang hari, maka selain puasanya batal, ia juga diwajibkan membayar denda atau kifarah. Adapun kifarah orang yang batas puasa karena jima' adalah memerdekakan hamba sahaya, berpuasa dua bulan berturut-turut, dan memberi makan 60 orang miskin, dengan tata urutan yan gtelah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis:

عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ رَجُلًا وَقَعَ بِاِمْرَأَتِهِ فِيْ رَمَضَانَ فَاسْتَفْتٰى رَسُوْلَ اللهِ ﷺ عَنْ ذٰلِكَ، فَقَالَ: هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً؟ قَالَ: لَا. وَهَلْ تَسْتَطِيْعُ صِيَامَ شَهْرَيْنِ؟ قَالَ: لَا. فَاَطْعِمْ سِتِّيْنَ مِسْكِيْنًا. (رواه مسلم)

“Dari Abu Hurairah ra., bahwasanya seorang laki-laki pernah bercampur dengan istrinya di siang hari pada bulan Ramadhan, lalu ia minta fatwa kepada Rasulullah saw. tentang itu. Maka Nabi saw. bersabda, 'Adakah engkau mempunyai budak (untuk dimerdekakan)?' Ia menjawab, 'Tidak.' Nabi bersabda lagi, 'Kuatkah engkau puasa dua bulan berturut-turut?'Ia menjawab, 'Tidak.' Nabi bersabda lagi, 'Kalau begitu berilah makan orang miskin sebanyak enam puluh orang'." (HR. Muslim)


Demikian semoga bermanfaat, mungkin Anda juga tertarik dengan artikel kami yang lain:


Reff:
-     Bajuri (Syarah Fathul Qarib)
-     Sahih Bukhari

Pengertian Puasa, Dasar Hukum & Cara Mengetahui Masuknya Bulan Puasa

Pengertian Puasa, Dasar Hukum & Cara Mengetahui Masuknya Bulan Puasa


Menurut bahasa shiyam/puasa berarti menahan diri. Sedangkan menurut istilah syara' ialah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari, karena perintah Allah semata-mata, dengan disertai niat dan syarat-syarat tertentu.

pengertian puasa,dasar hukum dan cara mengetahui masuknya bulanpuasa


Puasa Ramadhan adalah salah satu sendi ibadah yang dilakukan pada bulan Ramadhan, selama satu bulan (29 atau 30 hari). Adapun dasar hukum puasa adalah sebagaimana firman Allah swt.:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ. اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّـكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ. شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ يُرِيْدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ. (البقرة:١٨٣ - ١٨٥)

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.Tetapi barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yangbenar dan yang batil).Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur." (QS. Al-Baqarah/2: 183-185)

Di dalam hadis juga dijelaskan tentang kewajiban puasa, sebagaimana sabda Nabi saw.:

بُنِيَ الْاِسْلَامُ عَلٰى خَمْسٍ: شَهَادَةِ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَاَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَاِقَامِ الصَّلَاةِ، وَاِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَـجِّ الْبَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ. (رواه البخاري ومسلم)
"Islam ditegakkan atas lima dasar: Bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mengerjakan salat, mengeluarkan zakat, mengerjakan haji dan berpuasa pada bulan Ramadhan." (HR. Bukhari dan Muslim)

وَعَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ اِلَّا الصِّيَامَ فَاِنَّهُ لِيْ وَاَنَا اَجْزِيْ بِهِ، وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَاِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ اَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، فَاِنْ سَابَّهُ اَحَدٌ اَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: اِنِّيْ صَائِمٌ. وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ اَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ، لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا: اِذَا اَفْطَرَ فَرِحَ، وَاِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ. (متفق عليه، وهذا لفظ رواية البخاري)

"Dan dari Abu Hurairah ra., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, Allah telah berfirman, 'Semua amal anak Adam untuknya, kecuali puasa, maka sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.' Dan puasa itu sebagai perisai, makajika seorang sedang berpuasa, janganlah berkata keji atau berteriak, dan kalau seorang mencaci maki padanya atau mengajak berkelahi, maka hendaknya dikatakan padanya, 'Aku berpuasa.' Demi Allah yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orangyang berpuasa  itu lebih harum di sisi Allah dari bau (misik) kasturi. Bagi orang yang berpuasa itu ada dua kesenangan yang menggembirakan, yaitu ketika ia berbuka puasa dan ketika ia menghadap Tuhannya, maka ia gembira karena menerima pahala puasanya." (HR. Bukhari dan Muslim, adapun redaksinya dari Imam Bukhari)

Memulai Puasa Bulan Ramadhan

Puasa ramadhan dapat dimulai dengan salah satu dari empat hal sebagai berikut:
a.     Melihat bulan (ruyatul hilal) setelah terbenamnya matahari pada akhir bulan Syaban dengan ditetapkan oleh hakim syari, sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ ﷺ قَالَ: اِذَا رَاَيْتُمُوْهُ فَصُوْمُوْا، اِذَا رَاَيْتُمُوْهُ فَافْطِرُوْا. فَاِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوْا لَهُ. (رواه البخاري ومسلم والنسائي وابن ماجه)

"Dari Ibnu Umar ra., Rasulullah saw. bersabda, 'Apabila kamu melihat bulan (Ramadhan), hendaklah berpuasa, dan apabila kamu melihat bulan (Syawal) hendaklah kamu berbuka. Maka jika tidak tampak olehmu, maka hendaklah kamu perhitungkan jumlahnya haridalam satu bulan'." (HR. Bukhari, Muslim, Nasa'i dan Ibnu Majah)

Kewajiban puasa juga dapat ditetapkan dari kesaksian orang adil (dapat dipercaya), yang mengatakan bahwasanya ia benar-benar melihat bulan. Ataupun kesaksian seorang wanita, orang fasik atau anak-anak. Hal tersebut berdasarkan hadis:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: تَرَاءَى النَّاسُ الْهِلَالَ فَاَخْبَرْتُ النَّبِيَّ ﷺ اَنِّيْ رَاَيْتُهُ، فَصَامَ وَاَمَرَ النَّاسَ بِصِيَامِهِ. (رواه ابو داود وصححه الحاكم وابن حبان)
"Dari Ibnu Umar ra., ia berkata, 'Orang-orang memper-hatikan terbitnya hilal (awal bulan), lalu saya beritahukan kepada Nabi saw., bahwa saya melihatnya, maka beliau berpuasa dan menyuruh orang-orang berpuasa'." (HR. Abu Dawud dan disahkan oleh Hakim dan Ibnu Hibban)

Dalam riwayat lain disebutkan:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا اَنَّ اَعْرَابِيًّا جَاءَ اِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: اِنِّيْ رَاَيْتُ الْهِلَالَ. فَقَالَ: اَتَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: اَتَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَاَذِّنْ فِى النَّاسِ يَا بِلَالُ اَنْ يَصُوْمُوْا غَدًا. (رواه الخمسة وصححه ابن خزيمة وابن حبان ورجح النسائي ارساله)
"Dari Ibnu Abbas ra., bahwasanya seorang Arab Badui datang kepada Nabi saw. lalu ia berkata, 'Saya telah melihat hilal,' lalu Nabi saw. bersabda, 'Apakah engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan melainkan Allah?' Ia menjawab, 'Ya.' Beliau bersabda, 'Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad itu utusan Allah?'Dijawabnya, 'Ya.'Lalu beliau bersabda, 'Beritahukanlah kepada orang-orang hai Bilal, supaya mereka berpuasa besok'."(HR. Imam yang lima dan disahkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban, dan Nasa'i mentarjih mursalnya)

b.     Apabila bulan tidak terlihat, maka penetapan awal Ramadhan dapat dilakukan dengan cara menyempurnakan bilangan bulan Syaban menjadi 30 hari(istikmal).

c.      Penetapan hakim syari akan awal bulan Ramadhan berdasarkan keterangan saksi yang adil, sekurang-kurangnya seorang laki-laki, bahwa ia melihat bulan.

d.   Dengan cara berijtihad bahwasanya telah masuk bulan Ramadhan, sepertii jtihadnya orang yang berada dalam tawanan perang, atau orang yang berada dalam penjara.

Mengenai penetapan bulan Ramadhan, baik dengan cara ruyah (melihat bulan), ataupun istikmal adalah sesuai dengan firman Allah swt.:

هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَآءً وَّالْقَمَرَ نُوْرًا وَّقَدَّرَهٗ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللهُ ذٰلِكَ اِلَّا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ. (يونس: ٥)


"Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu melainkan dengan benar.Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui." (QS. Yùnus/10: 5)

Demikian semoga bermanfaat, mungkin Anda juga tertarik dengan artikel kami yang lain:

Dapatkan Artikel Kami Gratis

Ketik email Anda di sisi:

Kami akan mengirimkannya untuk Anda

Quality Content