Islam dalam Pengambilan Keputusan

Islam adalah agama yang "Rahmatan Lil 'Alamin", keberadaanya membawa kedamaian bagi umat semesta alam. Hal ini dapat kita lihat diantaranya dalam pengambilan keputusan kita dilarang dalam kondisi labil.

Kebenaran yang Dilematis

Kebenaran dalam beberapa hal ternyata tidak selalu berdampak baik bagi pelakunya. Dalam konteks ini kita harus tetap menyampaikan kebenaran tersebut sekalipun dilematis buat kita

Islam dan Olah Raga

Disebutkan bahwa, "Orang mukmin yang kuat lebih baik dan dicintai oleh Allah SWT., daripada mukmin yang lemah" So, keep healty, keep financial and pray

Lengkapilah Agamamu dengan Menikah

Salah satu ibadah yang enak dan berpahala banyak adalah melangsungkan pernikahan. Bagaimana tidak, karena nikah merupakan salah satu sunah para rasul "Sunanun min Sunanil Mursalin"

Memilih Teman

Teman menjadi orang yang paling mewarnai hidup kita, baik deri segi sikap tindakan dan sikap mental seseorang. Olehkarena itu Islam mengajarkan agar dalam bergaul kita benar benar berhati-hati karena "Al-Mu'asyarotu Muatsiroh"

Wednesday, November 13, 2019

Mencintai Rasulullah SAW


MENCINTAI RASULULLAH

Sahabat syariatkita, sebagaimana kita ketahui bahwa di kalangan kaum muslimin khususnya di Indonesia (red. Nahdiyyin), banyak yang menggelar acara maulid mulai dari Al-Barzanji, Ad-Diba’i, Maulid Syaroful Anam, Maulilid Simtudduror dan lain sebagainya. Hal ini tentunya bukan tiada dasar, melaikan bukti kecintaan mereka kepada Baginda Nabi Agung SAW. Ekspresi bukti kecintaan tentunya bisa diterjemahkan berbeda antara seseorang dengan lainnya. Dalam Hal ini, ekspresi kegembiraan Abu Lahab yang disebutkan dalam kitab Madarijussu’ud atas kelahiran Baginda Nabi Agung Muhammad SAW. Adalah dengan memerdekakan Tsuwaibah Al-Aslamiyah yang merupakan hambasahayanya. Tidak tanggung-tanggung, Abu Lahab memerdekakan tanpa syarat apapun melainkan hanya sebab ia memberikan kabar gembira atas kelahiran Rasulullah SAW.

Buat mereka yang tidak sepaham dengan acara maulid Nabi, dan menganggapnya adalah hal baru dalam agama yang tertolak, penulis perlu menjelaskan bahwa dalam hal ibadah dikenal 2 terminologi yaitu ibadah mahdhoh dan ghoiru mahdhoh. Ibadah mahdhol adalah ibadah yang sifatnya tauqifi dan di dalam nas dijelaskan cara pelaksanaannya sebagaimana solat yang dikerjakan dalam sehari 5 kali, di dalamnya dijelaskan pula sebagai salah satu contoh solat dzuhur adalah 4 rokaat maka orang yang melakukan solat dzuhur sebanyak 5 rokaat atau kurang dari itu, ini yang dinamakan muhdats dan jelas mardud atau tertolak. Akan tetapi ibadah yang sifatnya ghoiru mahdhoh atau yang bersifat ijtihadi maka kita tentunya harus mendasarkan pada salah satu imam madzhab dan para salafussalih terdahulu sebelum kita.

Terlepas dari perbedaan pandangan sebagaimana di atas, setidaknya dalam pelaksanaan maulid setidaknya terdapat rangkaian yang merupakan aplikasi daripada perintah Allah SWT., dan Rasulullah SAW.,  yang terangkum dalam 3 poin utama yaitu:

1. Allah SWT., memerintahkan kita agar bersholawat kepada Nabi SAW.
2. Perintah berdoa
3. Perintah meneladani Rasulullah SAW.
Bagaimana bisa dikatakan perayaan maulid merupakan bukti kecintaan kepada Rasulullah SAW., ya jelas iya. Bagaimana tidak; 3 aspek di atas kan telah mewakili; pertama membaca solawat kepada Nabi SAW., adalah perintah Allah SWT., (baca keteranganlengkapnya di sini), kedua doa merupakan inti ibadah sehingga dikatakan ad-du’a u mukhhul ibadah (baca keterangan lengkapnya di sini), ketiga perintah meneladani akhlak Rasulullah hanya dapat dilakukan manakala kita mengetahui akhlah baginda Rasulullah SAW; karena di dalam maulid dijelaskan dengan gamblang sifat dan akhlah Rasulullah SAW. Bagaimana bisa kita menjustifikasi acara maulid haram orang di dalamnya membaca siroh nabi.

CINTA RASULULLAH BAGIAN DARI IMAN

Bagaimana tidak, Rasulullah SAW dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, beliau bersabda:

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ

“Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman berkata, telah mengabarkan kepada kami Syu'aib berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Az Zanad dari Al A'raj dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Maka demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, tidaklah beriman seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya dan anaknya."


Dari hadis di atas dapat kita pahami bahwa keimanan seseorang ternyata belum lengkap atau tidak akan menjadi sempurna manakala kita tidak cinta kepada Rasulullah, terlebih membencinya. (wal iyadzu billah). Bahkan kecintaan kita kepada Rasulullah harus kita posisikan lebih tinggi dibanding kecintaan kita kepada orang tua dan anak kita. Perayaan maulid ini lah yang merupakan salah satu ekspresi kita untuk menunjukkan kecintaan terhadap Rasulullah SAW.

Lebih ekstrim lagi, Imam Bukhori dalam riwayat lain menyebutkan:

حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ صُهَيْبٍ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ح و حَدَّثَنَا آدَمُ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Ibrahim berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu 'Ulayyah dari Abdul 'Aziz bin Shuhaib dari Anas dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam Dan telah menceritakan pula kepada kami Adam berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Qotadah dari Anas berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah beriman seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya dan dari manusia seluruhnya."

Dapat kita pahami dari hadis di atas, bukti keimanan kita kepada Allah SWT., selain menaruh kecintaan terhadap Rasulullah SAW., lebih tinggi dari kecintaan terhadap orang tua dan anak juga terhadap manusia secara umum. Artinya apa, kecintaan kita yang teramat tinggi terhadap Rasululullah SAW., melebihi yang lain mengindikasikan keimanan kita yang sempurna terhadap Allah SWT.

CINTA TERHADAP ALLAH DAN RASULULLAH MENDATANGKAN MANISNYA IMAN


Jika mencintai Rasulullah merupakan salah satu tanda keimanan seseorang, maka mencintai Allah dan Rasul-Nya dapat mendatangkan manisnya Iman. Apa itu manisnya iman? Manisnya iman adalah ibarat seseorang yang telah membidangi sesuatu dan mendalaminya pasti akan timbul kecintaan lebih dan menikmati sesuatu yang dicintainya tersebut. Orang yang telah merasakan manisnya imas, maka dalam melakukan ibadahnya pastilah ia akan menikmati, khusyu', merasakan Allah SWT. hadir dalam sendi kehidupannya, Allah dekat dengannya sehingga ia tidak gempar dan takut dalam mengarungi bahtera kehidupan. Sehingga berbeda jauh dengan orang yang dalam hidupnya jauh dari Allah jauh dari Rasulullah, maka dipastikan ia akan cepat mudah putus asa manakala ada terpaat dan ujian hidup, frustasi jika espektasi tidak terpenuhi sehingga kehidupannya akan jauh dari nilai-nilai ajaran Islam. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَمُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ أَبِي عُمَرَ وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ جَمِيعًا عَنْ الثَّقَفِيِّ قَالَ ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim dan Muhammad bin Yahya bin Abu Umar serta Muhammad bin Basysyar semuanya dari ats-Tsaqafi berkata Ibnu Abu Umar telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab dari Ayyub dari Abu Qilabah dari Anas dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dia berkata, "Tiga perkara jika itu ada pada seseorang maka ia akan merasakan manisnya iman; orang yang mana Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya, mencintai seseorang yang ia tidak mencintainya kecuali karena Allah, dan benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran tersebut sebagaimana ia benci untuk masuk neraka."

Pada dasarnya kecintaan kita terhadap sesuatu terlebih kepada Allah dan Rasulullah SAW., pastilah akan mendatangkan perasaan simpati dan terlebih sampai pada empati terhadap yang dicintai, sehingga orang yang mencintai akan mengupayakan segala susuatu apapun demi yang dicintainya. Inilah ekspresi pelaksanaan maulid, kita melaksanakannya karena murni kecintaan kita terhadap Nabi kita, menjalankan perintal Allah SWT dan upaya meneladani perilaku beliau dengan membaca siroh dalam maulid tersebut.

mencintai rasulullah


Demikian semoga bermanfaat, mungkin Anda juga tertarik dengan artikel kami yang lain:

Dapatkan Artikel Kami Gratis

Ketik email Anda di sisi:

Kami akan mengirimkannya untuk Anda

Quality Content