Thursday, April 16, 2020

8 Tanda Diterimanya Taubat

8 Tanda Diterimanya Taubat 


Cara Mengetahui Diterimanya Taubat

Sahabat syariatkita, mungkin diantara kita ada yang merasa sudah maksimal bertaubat kepada Allah Subhanahu Wata’ala, sudah berusaha sekuat tenaga, akal dan pikiran untuk menhindari keharaman. Akan tetapi di dalam lubuk hati kecilnya masih terpendam perasaan ingin berbuat baksiat, ingin berlaku murka dan jauh dari agama. Jikalalau hal ini masih saja menghantui pikiran sampai ke tindakan kita maka kita patut waspada, bahwa selama ini pertaubatan kita kepada Allah Subhanahu Wata’ala belum diterima.

Dalam sebuah hadis disebutkan:

اَلْأثِمْ مَا حَاكَ فِى صَدْرك وَكَرهْت اَنْ يطلعَ عليه الناسُ

“Dosa adalah gejolak di dalam dada yang mana engkau malu manakala ditampakkan kepada orang lain”

Dari hadis di atas tentunya dapat kita pahami bersama bahwa sesuatu yang terngiang di dalam jiwa, rasa gelisah, gundah gulana dan rasa-rasa lain yang manakala ditampakkan pada orang lain kita malu itulah dosa. Dalam hal ini setelah pertaubatan kita kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Akan tetapi masih saja ada luapan rasa untuk melakukan maksiat, maka hal tersebut menunjukkan bahwa hati dan jiwa kita masihlah harus ditempa dengan pertaubatan yang nasuha. Karena hanya taubat nasuha lah yang diterima oleh Allah Subhanahu Wata’ala.

8 Tanda Diterimanya Taubat 

Setelah kita memahami kondisi jiwa yang senantiasa berubah-ubah, kadang keimanan yang di atas kadang juga di bawah. Kadang nafsu kita menang tapi kadang juga nasfu tunduk pada kepatuhan terhadap aturan Allah Subhanahu Wata’ala. 

8 tanda diterimanya taubat

Dinamika-dinamika sebagaimana di atas menunjukkan bahwa sifat basyariyah kita memegang peranan. Karena kita adalah manusia yang mana suatu waktu iman dapat bertambah dan di waktu yang lain kadang juga berkurang. Kendatipun demikian, kita dapat mengetahui tanda-tandanya, apakah taubat kita diterima oleh Allah Subhanahu Wata’ala atau tidak.

==> Baca Juga: 

8 Tanda Diterimanya Taubat

Menurut As-Syaikh Muhammad Amin Kurdi Al- Irdibily As-Syafi'i menyebutkan 8 tanda-tanda diterimanya taubat seorang hamba sebagai berikut:

1. Menjaga lisan dari perbuatan dosa

Ciri diterima taubat yang pertama adalah lisan terjaga dari perbuatan dosa. Hal ini mengandung pengertian bahwa orang yang sudah sampai pada tingkatan taubat nasuha, maka ia sangatlah takut manakala mengunakan mulutnya untuk berkata-kata yang bertengangan dengan ajaran agama. Ia sangat berhati-hati dalam bertutur kata. 

Dengan demikian, orang yang taubatnya diterima oleh Allah Subhanahu Wata’ala dapat dilihat diantaranya yaitu dari lisan yang dinukannya. Sehingga orang yang taubatnya diterima maka ia tidaklan menggunakan lisannya uintuk berbohong, menggunjing orang lain, menghardis anak yatim, dan tidak pula menggunakan untuk berkata-kata yang tidak bermanfaat. Semua perkataan ataupun sesuatu yang keluar dari lisannya adalah hanya untuk ketakwaan  kepada Allah Subhanahu Wata’ala seperti berdzikir, membaca Al-Qur’an menasehati teman yang berbuat dosa dan hal lain yang diperintahkan ileh agamanya.

2. Menjaga perutnya dari makanan haram

Tanda kedua, orang yang taubatnya diterima yaitu dapat dilihat dari cara ia memberikan asupan makanan ataupun rezeki pada tubuhnya. Ia sangat takut manakala perutnya kemasukan barang yang haram sekalipun sedikit. Ia sangat takut manakala apa yang ia makan adalah hasil dari korupsi, haril dari menipu orang lain dan hasil dari dana penggelapan. Sehingga orang yang taubatnya sudah diterima oleh Allah Subhanahu Wata’ala niscaya ia akan bersemboyan, “satu puluk’an halal luwek becik tinimbang sak piring nanging haram” (satu suapan makanan halal lebih baik daripada satu piring tetapi makanan haram.

3. Menjaga matanya dari melihat yang dilarang oleh agama

Tanda diterimanya taubat selanjutnya adalah terjaga matanya dari melihat yang haram. Ia tidak melihat selain muhrimnya, ia tidak menyaksikan pertunjukanyang mengandung unsur kemaksiatan, dan ia tidak pula memandang dunia dengan rasa tamak ingin memilikinya. Akan tetapi karunia mata yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala semuanya ia gunakan untuk ketaatan kepadanya, ia gunakan untuk mengambil ibrah dari hal-hal yang ada di sekelilingnya, sehingga dapat menambah keimanan kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

4. Menjaga kedua tangannya dari mengerjakan perbuatan yang dilarang agama

Tanda selanjutnya adalah orang yang diterima taubatnya dapat diketahui dari cara ia menggunakan karunia Allah Subhanahu Wata’ala yang berupa kedua tangan. Ia sama sekali tidak menggunakan untuk kemaksiatan, seperti membantu orang lain melakukan dosa, menyuap dan memukul orang lain tanpa sebab. Akan tetapi anugerah kedua tangannya hanya digunakan untuk kemaslahatan seperti bekerja halal, menolong orang lain dna lain sebagainya.

5. Menjaga kedua kakinya, sehingga tidak melanhkah kecuali untuk ketaatan kepada Allah Subhanahu Wata’ala

Tidak dapat dipungkiri bahwa kaki adalah salah satu sumber orang dapat melakukan ketaatan dan kemaksiatan. Ketaatan seperti berjalan ke masjid, keluar rumah mencari nafkah untuk keluarga dan menjenguk tetangga ataupun saudara yang sakit. Sumber kemaksiatan seperti melangkahkan kaki untuk mengadu domba orang lain, menyebar kebencian melangkah menuju tempat-tempat maksiat dan lain sebagainya. Orang yang taubatnya diterima oleh Allah Subhanahu Wata’ala maka ia tidak menggunakan kakinya kecuali untuk sesuatu yang dibenarkan oleh agama.

6. Menjaga hatinya dari rasa iri, dengki hasud dan hal lain yang dilarang oleh agama

Orang yang melakukan taubat nasuha maka dalam hatinya sudah tidak ada lagi rasa iri, dengki, hasud dan segala sifat tercela yang dilarang oleh agama. Akan tetapi, orang yang sudah pada level “taubat nasuha” maka hatinya penuh dengan rasa belas kasihan, penuh kasih sayang kepada sesama muslim. Ia melihat bahwasanya muslim apapun tingkat dan derajatnya maka semuanya makhluk Allah Subhanahu Wata’ala yang harus disayangi.
  

7. Menjaga telinganya dari mendengarkan sesuatu yang haram didengarkan

Tanda ketuhuh adalah, orang yang diterima taubatnya dapat dilihat dari kehati-hatiannya mendengarkan sesuatu yang haram. Ia hanya mendengarkan hal-hal yang bermanfaat, dan jauh dari mendengar hal-hal yang tidak bermanfaat 

8. Melakukan segala sesuatu dengan mengharapkan ridha Allah Subhanahu Wata’ala

Tanda terakhir diteriomanya taubat seseorang adalah dapat diketahui dari ketulusan hatinya. Maka apapun yang dilakukan olehnya, tiada sama sekali karena mengharapkan imbalan jasa dari orang lain, amalnya jauh dari riya’ dan sum’ah. Tidak pula ingin dipuji oleh orang lain, semua yang dilakukannya karena semata-mata mengharapkan ridha Allah Subhanahu Wata’ala. 


Reff:
Kitab Tanwirul Qulub, 1994. Beirut: Daar Al-Fikr

0 Komentar:

Post a Comment

Blog Archive

Dapatkan Artikel Kami Gratis

Ketik email Anda di sisi:

Kami akan mengirimkannya untuk Anda

Quality Content