Islam dalam Pengambilan Keputusan

Islam adalah agama yang "Rahmatan Lil 'Alamin", keberadaanya membawa kedamaian bagi umat semesta alam. Hal ini dapat kita lihat diantaranya dalam pengambilan keputusan kita dilarang dalam kondisi labil.

Kebenaran yang Dilematis

Kebenaran dalam beberapa hal ternyata tidak selalu berdampak baik bagi pelakunya. Dalam konteks ini kita harus tetap menyampaikan kebenaran tersebut sekalipun dilematis buat kita

Islam dan Olah Raga

Disebutkan bahwa, "Orang mukmin yang kuat lebih baik dan dicintai oleh Allah SWT., daripada mukmin yang lemah" So, keep healty, keep financial and pray

Lengkapilah Agamamu dengan Menikah

Salah satu ibadah yang enak dan berpahala banyak adalah melangsungkan pernikahan. Bagaimana tidak, karena nikah merupakan salah satu sunah para rasul "Sunanun min Sunanil Mursalin"

Memilih Teman

Teman menjadi orang yang paling mewarnai hidup kita, baik deri segi sikap tindakan dan sikap mental seseorang. Olehkarena itu Islam mengajarkan agar dalam bergaul kita benar benar berhati-hati karena "Al-Mu'asyarotu Muatsiroh"

Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Thursday, October 29, 2020

Maulid Nabi Muhammad SAW

Membedah Nasab Nabi dari Kitab Maulid Al Barzanji


Siapakah Nasab Nabi Muhammad SAW berdasarkan kitab maulid Al Barzanji, dan mengapa umat Nabi Muhammad SAW disebut KHOIRO UMMAH atau umat terbaik. Simak kajianya ya, semoga bermanfaat. Like dan share kajian ini ke teman kalian ya, agar semakin banyak yang mengetahui dan mendapatkan kemanfaatan dari kajian Gus Baha ini. Jika kalian mendapatkan ilmu baru silahkan subcribe channel Dakwah Digital agar tidak ketinggalan kajian terbaru dari Gus Baha.


Tuesday, April 7, 2020

Keutamaan Nisfu Sya'ban

Keutamaan Malam Nisfu Sya’ban


Memahami Keistimewaan Bulan Sya’ban

Sahabat syariatkita, berbicara mengenai keistimewaan bulan Sya’ban atau biasanya orang Jawa menyebutnya dengan istilah bulan Ruwah, memanglah terkandung keistimewaan yang luar biasa yaitu bagi mereka yang mengetahuinya. Sehingga dalam Jawa ada istilah “Ruwahan”. 

keutamaan nisfu sya'ban


Ruwahan adalah serangkaian acara mendekatkan diri kepada Allah SWT. yang diselenggarakan oleh kebiasaan orang Jawa dalam ritual menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Berkenaan dengan hal ini, Rasulullah SAW dalam sebuah hadis bersabda:

مَنْ فَرِحَ بِدُخُوْلِ رَمَضَانَ، حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهَ عَلَى النِّيْرَانِ 

“Barangsiapa yang bersukacita dengan kedatangan bulan Ramadhan, maka Allah skan menjaga tubuhnya dari api neraka”.

Acara ruwahan atau yang dikenal dengan peringatan malam “Nisyfu Sya’ban” dalam tradisi Jawa biasanya diisi dengan pembacaan Surah Yasin sebanyak tiga kali dan ditutup dengan membaca do’a Nisyfu Sya’ban.

Mengenai kemuliaan bulan Sya’ban di dalam Al-Qur’an Surah At-Taubah ayat 36 disebutkan sebagai berikut:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ.

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan Ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”. (Q.S. At-Taubah : 36)

Ayat di atas menjelaskan bahwa dalam kurun satu tahun terdapat 4 bulan yang mulia, diantaranya adalah bulan Sya’ban. Keistimewaan ini yaitu terletak pada malam nishfu Sya’ban atau pertengahan bulan Sya’ban. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis:

عَنْ عَلِىّ بْنِ اَبِى طَالِبٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا كاَنَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ, فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا نَهَارَهَا. فَإِنَّ اللهَ يَنْزِلُ فِيْهَا لِغُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلىَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا. (رواه ابن ماجه)

“Dari Ali bin Abi Thalib, berkata: Rasulullah Saw. bersabda: Apabila telah sampai pada malam Nishfu Sya’ban, bangunlah dan hidupkanlah malamnya dan berpuasalah pada siang harinya. Karena sesungguhnya Allah Swt pada malam itu turun ke langit dunia pada saat terbenamnya matahari sampai ke langit dunia”. (HR. Ibnu Majah)

Maksud daripada Allah SWT turun ke langit dunia pada malam Nishfu Sya’ban adalah menunjukkan perhatian Allah SWT terhadap keadaan umat-Nya sangat besar di saat itu. 

Namun yang perlu diperhatikan adalah, bahwa sifat turun dan datang adalah sifat turun dan datang yang sesuai dengan Dzat Allah SWT., dan hal ini tentunya berbeda dengan sifat turun dan datang makhluk, dan kita juga harus meyakini bahwa sifat Allah SWT. berbeda dengan makhluk-Nya.

==> Baca Artikel Juga: Hukum Riba & Bunga Bank, Hukum Bank Titil, Tata Cara Berwudhu Sesuai Tuntunan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallah

Nisyfu Sya’ban Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW

Bulan Sya’ban merupakan bulan yang sangat mulia. Dalam bulan ini, Rasulullah SAW. memperbanyak menjalankan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ini bukan berarti selain bulan Sya’ban ibadah Rasulullah biasa-biasa saja, melainkan kapanpun dan dimanapun Ibadah Rasulullah SAW senantiasa meningkat dan bertambah.

Karena kecintaan beliau terhadap bulan Sya’ban, sehingga bulan ini sering disebut sebagai bulan Rasulullah SAW. Dalam sebuah riwayat disebutkan:

اِنَّ رَجَبَ شَهْرُ اللهِ وَشَعْبَانَ شَهْرِيْ وَرَمَضَانَ شَهْرُ اُمَّتِيْ

“Bahwasanya Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulan ku (Rasulullah). dan Ramadhan adalah bulan umat ku”

Diantara kegemaran Baginda Nabi Agung Muhammad SAW. di dalam kemuliaan bulan Sya’ban yaitu beliau gunakan untuk menjalankan ibadah puasa, sebagaimana dalam hadis:

عن أبى سلمة بن عبد الرحمن عن ام سلمة: ان رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يصوم شعبان ورمضان. (رواه احمد بن حنبل)

“Dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Umu Salamah, sesungguhnya Rasulullah Saw. menjalankan puasa pada bulan Sya’ban dan Ramadhan”. (HR. Ahmad bin Hanbal)

Jadi jelaslah bagi kita, meskipun pada kenyataan Allah SWT, senantiasa melihat dan memperhatikan seluruh makhluknya; kapanpun dan dimanapun, namun khusus untuk malam Nisyfu Sya’ban ada perhatian khusus sehingga kita perlu meningkatkan ibadah dan pendekatan diri kita kepada Allah SWT. 

Dalam hal ini, kita bisa mengisinya dengan ibadah puasa sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan juga dengan aneka ibadah-ibadah lain sepanjang tidak terdapat unsur kesyirikan, agar kita memperoleh kemuliaan-kemuliaan yang terkandung dalam malam Nishfu Sya’ban.

Hikmah Bulan Sya’ban

Sahabat syariatkita, disebutkan oleh salah satu ulama kurun ke-3 hijriyah yaitu As-Syaikh Utsman bin Hasan Asy-Syakir Al-Khowairy dalam kitabnya, bahwa pada malam Nishfu Sya’ban Rasulullah SAW didatangi oleh malaikat Jibril dan berkata, “Wahai Muhammad, ini adalah malah dimana Allah SWT membuka pintu-pintu langit dan rahmat. Maka berdirilah dan shalatlah, angkat kepalamu dan tanganmu seraya berdoa.” Nabipun bertanya, “Malam apa gerangan wahai Jibril?” Ia menjawab, “Ini adalah malam dimana Allah SWT membuka 300 pintu rahmat, Allah SWT mengampuni semua makhluk yang tidak mempersekutukan-Nya, kecuali tukang sihir, tenung, peminum arak, pezina, pemakan harta riba, orang yang durhaka terhadap kedua orang tuanya, orang yang bermuka dua, dan orang yang memutuskan tali silaturrahmi.” Allah SWT tidak akan memberikan ampunan kepada mereka sebelum mereka bertobat. Kemudian Rasulullah SAW melakukan sholat dan menangis di dalam sujudnya seraya berdoa, “Ya Allah, aku mohon perlindungan kepada-Mu dari siksa dan murka-Mu. Dan sungguh aku tidak bisa menghitung pujiku untuk-Mu, sebagaimana Engkau memuji Dirimu Sendiri, maka bagi-Mu segala puji hingga Engkau meridhai ku.”

Demikian semoga bermanfaat, mungkin Anda juga tertarik dengan artikel kami yang lain:


Reff:
Ahmad bin Hanbal, Imam, TT. Musnad Ahmad bin Hanbal; Juz 6, Beirut : Darul Fikr
‘Abdul Ghani An-Nablusi, Imam, 2004. Keutamaan Hari dan Bulan dalam Islam; Terj. Muzammal Noer, Yogyakarta : Mitra Pustaka
Abi Abdillah; Muhammad bin Yazid, Al-Hafidz, TT. Sunan Ibnu Majah, Jilid 1, Beirut: Darul Fikr
Hasan Asy-Syakir, Utsman, 1994. Durrotun Nasihin, Beirut: Darul Fikr

Saturday, April 4, 2020

Biografi Imam Bukhari Lengkap

BIOGRAFI IMAM BUKHARI
(194 H – 252 H / 810 M – 870 M)

Nama dan Kemuliaan Nasab Imam Bukhori

Nama lengkap beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah bin Badzbah Al-Ja’fiy Al-Bukhari. Beliau mendapatkan gelar sebagai imamul muslimin (pemimpin kaum muslim), qudwatul muwahhidin (panutan orang yang meng-Esakan Allah), dan sayyidul muhadditsin (penghulu ahli hadis).

Imam Bukhari lahir pada hari Jum’at 13 Syawal 194 H. (810 M.) di kota Bukhara, sebuah kota kecil, sekarang termasuk wilayah Uzbekistan yang dulu menjadi negara bagian Uni Soviet. Beliau lebih dikenal dengan nama Imam Bukhari (menisbatkan kota kelahiran beliau).

Meskipun imam Bukhari tumbuh dalam keadaan yatim, akan tetapi kemuliaan beliau terpancar begitu dahsyat. Hujjah beliau mampu membuat decak kagum ulama di zamanya. Ini dikarenakan sanad hadis dan keilmuan beliau sampai kepada Rasulullah SAW., argumen beliau dengan kecerdasan yang dimiliki mampu menumbangkan orang-orang yang menguji kualitas hadisnya. Sehingga ulama kurun salaf (generasi awal) dan ulama kholaf (generasi akhir) tidak pelak menerima dan mengakui kehebatan ilmunya. 


Alim Sejak Kecil 

Sejak masih kecil, Imam Bukhari sudah menguasai ilmu bahasa Arab. Beliau senang berada di perpustakaan sembari mempelajari dan mendengarkan ilmu-ilmu hadis. Layaknya ahli hadis, Imam Bukhari sebelum menaruh perhatiannya terhadap kodifikasi hadis, beliau terlebih dahulu sudah hafal Al-Qur’an sejak kecil. Tercatat beliau pertama kali mempelajari hadis yaitu pada tahun 205 H. atau pada usia beliau sekitar 9 tahun.

biografi imam Bukhari


Kealiman beliau terbukti diantaranya sewaktu beliau belajar kepada ahli hadis yang paling terkenal di kotanya (Bukhara) yaitu Abu Ahmad; Muhammad bin Yusuf Al-Baikandi, sang guru justru merasa segan manakala Imam Bukhari duduk di depannya. Hal tersebut dikarenakan kecerdasan dan kesempurnaan ilmunya yang sangat jarang dijumpai pada waktu itu. 

Selain telah menghafal Al-Qur’an, sejak usia masih muda belia, Imam Bukhari telah menghafal puluhan ribu hadis. Sehingga ahlul ma’rifah (para pemuka agama) pada waktu itu, menjadikan Imam Bukhari sebagai sang maha guru. Mereka rela duduk di belakang beliau, di pinggir-pinggir jalan demi mendengarkan dan mengumpulkan hadis dari beliau.

Pengembaraan Mencari Ilmu

Pada tahun ke-210 H. dimana usia beliau masih sekitar 14 tahun, Imam Bukhari diajak Ibundanya dan saudaranya melakukan Ibadah Haji ke Mekah. Akan tetapi selesai menunaikan ibadah haji, Imam Bukhari tidak langsung kembali ke Bukhara yaitu kota kelahirannya, melainkan beliau mengembara menemui mayoritas raja-raja di tanah timur untuk terus memperdalam ilmu hadisnya. Diantara negara yang beliau singgahi adalah Khurasan, Al-Jabal, Irak, Hijaz, Mesir dan Syam. 

Dalam posisi beliau memperdalam ilmu hadis di negara-negara yang beliau singgahi, justru para ulama dan tokoh agama di negara tersebut (tertarik) dan belajar mengambil ilmu dari Imam Bukhari. Diantara ulama yang belajar kepada Imam Bukhari adalah Imam Ahmad bin Hambal (pendiri Madzhab Hambali).

Selain memperdalam ilmu hadis, dalam pengembaraan mencari ilmu Imam Bukhari juga memperdalam ilmu fiqih. Dalam hal ini beliau mengambil ilmu fiqih dari ulama-ulama Syafi’iyah, dan beliau menjadikan Madzhab Asy-Syafi’i RadhiyAllahu Anhu sebagai pedoman dalam keagamaannya (madzhab fiqihnya). 

Setelah dirasa cukup dari pengembaraan, dan ilmu beliau telah matang semuanya, beliau mulai mengkodifikasikan dan memetakan hadis-hadis yang beliau hafal. Semua hadis yang beliau hafal selanjutnya diklasifikasikan berdasarkan tingkat kesahihan hadisnya.     

Ujian Kualitas Hadis Imam Bukhari

Gelar Al-Imamul Muhadditsin yang disandang oleh Imam Bukhari dan diakui oleh seluruh A’immatul Muslimin nampaknya tidak diraih begitu saja. Akan tetapi kualitas dari hadis yang beliau riwayatkan, seluruhnya telah melalui ujian oleh para ahli hadis pada zamannya. 

Untuk membuktikan kesahihan hadis yang beliau riwayatkan pernah pada suatu ketika, para ulama ahli hadis di Bagdad bersepakat hendak menguji kedzabitan (kuatnya hafalan) Imam Bukhari. Para ulama hadis tersebut terdiri dari 10 orang yang masing-masing memiliki 10 pertanyaan hadis yang sudah di bolak-balik atau ditukar antara sanad dan matannya. Tujuan dari pada itu semua tiada lain adalah untuk mengetahui sejauhmana kedzabitan dan kesahihan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Apakah beliau mampu membedakan hadis yang ditukar sanad dan matannya dan mengembalikan dengan sanad dan matan yang sebenarnya atau beliau tidak mengetahui sanad dan matan yang di tukar tersebut.

Dalam majelis tersebut, dihadirkanlah Imam Bukhari yang disaksikan pula oleh Muhadditsin dari dalam dan luar kota. Bahkan diundang juga ulama hadis dari Khurasan. Satu demi satu 10 ulama hadis yang menguji Imam Bukhari menanyakan 10 hadis yang telah mereka persiapkan sebelumnya. Dan jawaban beliau terhadap setiap hadis yang dikemukakan oleh penanya pertama ialah “saya tidak mengetahuinya”.

Demikianlah setelah selesai penanya pertama, majulah penanya kedua dengan satu-persatu pertanyaan hadis yang sudah dipersiapkan dan seterusnya sampai selesai penanya yang kesepuluh dengan hadis-hadisnya. Akan tetapi dari keseluruhan penanya yang menanyakan hadis kepada Imam Bukhari, beliau selalu menjawab dengan kalimat “saya tidak mengetahuinya”. Yang berarti keseluruhan hadis yang telah dibalik sanad dan matannya tersebut sama sekali belum pernah dijumpai oleh Imam Bukhari selama meriwayatkan hadis.

Setelah Imam Bukhari mengetahui gelagat para penanya tersebut yang bermaksud mengujinya, maka Imam Bukhari pun menerangkan yang sebenarnya dengan detil  tentang hadis yang sanad-sanad dan matannya telah dirubah dan dibolak-balikkan tersebut. Para ulama yang hadir dalam majelis tersebut sontak semuanya tercengang dan mengakui kedzabitan dan kepandaian beliau, ketelitiannya dan kehafalannya dalam ilmu-ilmu hadis.

Guru-guru Hadis dan Murid Imam Bukhari

Diantara ulama-ulama ahli hadis imam Bukhari sdalah seperti Makky bin Ibrahim, ‘Abdullah bin ‘Usman Al-Marwazy, ‘Abdullah bin Musa Al-‘Abbasy, Abu ‘Ashim As-Syaibany dan Muhammad bin ‘Abdullah Al-Anshary.

Adapun ulama-ulama besar dan tokoh hadis yang pernah menimba ilmu hadis dari beliau, antara lain seperti Imam Muslim, Abu Zur’ah, Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Khuzaimah dan Imam An-Nasa’i. 

Kehidupan dan Karomah Imam Bukhari
Beliau adalah orang yang sangat wira’i atau waro’ (menjauhkan diri dari kemewahan dunia). Selama hidupnya beliau habiskan untuk berpuasa dan menahan lapar, sampai-sampai beliau setiap harinya hanya makan satu buah kurma atau kacang. Beliau juga selalu menjaga wudhu’nya, sampai-sampai beliau jarang sekali ke kamar kecil.

Imam bukhari tidak pernah melakukan jual beli, apa yang beliau makan tidak lain adalah harta dari peninggalan orang tuanya karena jelas halalnya. Ayahanda Imam Bukhari pernah berkata. “Seluruh harta peninggalanku adalah halal dan tidak ada syubhat apalagi haramnya.”

Adapun dianatara karomah ataupun keberkahan dari Imam Bukhari adalah ketika kitab beliau dibaca secara berjamaan (di majlis-majlis taklim) akan dapat menolak marahabaya dan berkasiat untuk kesembuhan dari sakit dengan ijin Allah Subhanahu Wata’ala.

Imam As-Sya’roni menyebutkan, bahwa dengan hanya menyebut nama beliau Imam Muhammad isma’il Al-Bukhori dapat digunakan sebagai wasilah (perantara) meminta turunnya rahmat Allah Subhanahu Wata’ala.

Karya-karya Imam Bukhari

Kitab Al-Jami’ As-Shahih(الجامع الصحيح) .

Kitab ini yaitu berisikan kumpulan hadis-hadis shahih yang berjumlah 600.000 hadis sahih yang beliau persiapkan selama kurang lebih 16 tahun lamanya. Untuk menjaga kualitas hadis tersebut, beliau sangat berhati-hati dalam menuliskan tiap hadis pada kitabnya. Salah satu ikhtiyar untuk menjaga kesahihan hadis diantaranya adalah setiap hendak menulis kitabnya, beliau senantiasa terlebih dahulu mandi dan bersalat istikharah, minta petunjuk baik kepada Allah, tentang hadis yang akan ditulisnya. 

Kitab tersebut berisikan hadis-hadis shahih semuanya, berdasarkan pengakuan beliau sendiri, ujarnya: “Saya tidak memasukkan dalam kitabku ini kecuali shahih semuanya.”

Dari total 600.000 hadis terdapat sebanyak 6.397 buah dengan yang terulang-ulang, dan yang belum dihitung mu’allaq dan mutabi’ nya. Terdapat perbedaan pendangan mengenai jumlah yang mu’allaq, ada yang mengatakan 1.341 buah, dan yang mutabi’ sebanyak 384 buah, jadi seluruhnya berjumlah 8.122 buah, di luar yang maqthu’ dan mauquf. Sedang jumlah yang asli saja, yakni tanpa yang berulang, tanpa mu’allaq dan mutabi’ 2.513 buah.

Kitab Al-Jami’ As-Shahih ini merupakan kitab hadis yang paling shahih setelah Al-Qur’an.
Selain kitab Al-Jami’ As-Shahih, juga terdapat karangan beliau seperti:
Qadhaya Al-Ahahabah wa Al-Tabi’in. (قضايا الصحابة والتابعين)
Al- Tarikh Al-Kabir. (التاريخ الكبير)
Al-Tarikh  Al-Awsath. (التاريخ الأوسط)
Al-‘Adab  Al-Munfarid. (الأدب المنفرد)
Birr  Al-Walidain. (بر الوالدين)

Beliau wafat pada malam Sabtu selesai salat ‘Isya’, tepat pada malam Idul Fitri tahun 252 H. (870 M.), dan dikebumikan sehabis salat dhuhur di Khirtank, suatu kampung tidak jauh dari kota Samarkand.

Demikian semoga bermanfaat, mungkin Anda juga tertarik dengan artikel kami yang lain:


Reff:
Ammaroh, Muhammad Mustofa, 2002. Jawahirul Bukhori, Beirut: Darul Fikr
Basthul Birr, Maftuh, 1999. Manaqib 50 Wali Agung, Lirboyo: MMQ

Thursday, April 2, 2020

Biografi Imam Hanafi Lengkap

Imam Abu Hanifah


Kelahiran dan Kemuliaan Nasab Imam Abu Hanifah

Nama lengkap neliau adalah Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit Al-Kufiy. Beliau berasal dari keturunan bangsa persi. Beliau dilahirkan pada tahun ke-80 H. Disebutkan oleh Ismail bin Hamad bin Abu Hanifah yang merupakan cucu Imam Abu Hanifah; bahwa diantara sebab kemuliaan yang disandang oleh beliau karena dahulu Tsabit Al-Kufy; ayah Abu Hanifah pergi mengunjungi Ali Bin Abi Thalib sembari membawa Imam Abu Hanifah yang kala itu masih kecil. Beliau meminta agar didoakan untuk dirinya dan keluarganya, lantas Sahabat Ali-pun mendoakan keberkahan untuknya dan keluarganya.

Layaknya orang mulia di jazirah Arab, Imam Abu Hanifah memiliki paras muka tampan, postur tubuh yang tinggi dan ideal. Beliau fasih dalam bertutur kata, suaranya bagus serta enak didengar. Beliau senang mengenakan minyak wangi, bagus dalam pergaulan, tidak membicarakan hal yang tidak berguna, penuh kasih sayang. Beliau adalah sosok yang sangat disegani oleh masyarakat.

Pengembaraan Mencari Ilmu

Sebagai salah satu ulama pendiri madzhab, beliau dikenal sebagai sosok yang sangat ahli dalam bidang fiqih, cermat dalam berpendapat, terutama dalam permasalahan-permasalahan yang pelik dan rumit.

Seluruh kehidupan Imam Abu Hanifah, digunakan dan didesikasikan sepenuhnya untuk mencari dan meneliti hadis. Dalam perjalanan beliau mencari ilmu, Imam Abu Hanifah pernah berguru dengan Imam Anas bin Malik yaitu tatkala beliau datang ke Kufah. Bahkan dalam sebuah riwayat ada yang menyebutkan bahwa beliau pernah bertemu sampai dengan 7 sahabat.

Diantara sifat haris atau kecintaan beliau terhadap ilmu sebagaimana disampaikan adalah, pernah suatu waktu ketika di Bashroh ada yang bertanya kepada beliau mengenai suatu permasalahan akan tetapi beliau belum bisa memberikan jawabannya. Lantas beliau memutuskan untuk terus memperdalam ilmunya lagi. Sehingga belia tinggal bersama salah satu guru fiqihnya yaitu As-Syaikh Hammad selama 10 tahun.

Guru-guru Mulia dan Murid Imam Abu Hanifah

Selain dengan Imam Anas bin Malik, beliau juga pernah belajar langsung dengan para ulama yang terkenal pada masa itu seperti Atha’ bin Abi Rabbah yang merupakan syaikh besarnya, Asy-Sya’bi, Adi bin Tsabit, Abdurrahman bin Hurmuj Al-A’raj, Amru bin Dinar, Thalhah bin Nafi’, Nafi’ Maula Ibnu Umar, Qotadah bin Di’amah, Qois bin Muslim, Abdullah bin Dinar, Hamad bin Abi Sulaiman; guru fiqihnya, Abu Ja’far Al-Baqir, Ibnu Syihab Az-Zuhri, Muhammad bin Munkandar, dan masih banyak lagi.

biografi imam abu hanifah lengkap


Adapun orang-orang yang menimba ilmu kepada Imam Abu Hanifah dan meriwayatkan darinya diantaranya adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Abul Hajaj di dalam kitrab Tahdzibnya adalah: Ibrahin bin Thahman seorang alim dari Khurasan, Abyadh bin Al-Aghar bin Ash-Shabah, Ishaq Al-Azroq, Asar bin Amru Al-Bajali, Ismail bin Yahya Al-Sirafi, Al-Harits bin Nahban, Al-Hasan bin Ziyad, Hafsh bin Abdurrahman Al-Qadhi, Hamad bin Abu Hanifah, Hamzah temannya penjual minyak wangi, Dawud Ath-Tha’i, Sulaiman bin Amr An-Nakha’i, Su’aib bin Ishaq, Abdullah ibnul Mubarok, Abdul Aziz bin Khalid At-Turmudzi, Abdul karim bin Muhammad Al-Jurjani, Abdullah bin Zubair Al-Qurasy, Ali bin Zhibyan Al-Qodhi, Ali bin Ashim, Isa bin Yunus, Abu Nu’aim, Al-Fadhl bin Musa, Muhammad bin Bisyr, Muhammad bin Hasan Assaibani, Muhammad bin Abdullah Al-Anshari, Muhammad bin Qoshim Al-Asadi, Nu’man bin Abdus Salam Al-Asbahani, Waki’ bin Al-Jarah, Yahya bin Ayub Al-Mishri, Yazid bin Harun, Abu Syihab Al-Hanath As-Samaqondi, dan Al-Qodhi Abu Yusuf.

Sifat Waro' dan Keteguhan Hati Imam Abu Hanifah

Sebagai seorang yang alim, Imam Abu Hanifah lebih memilih hidup sederhana dengan ilmunya daripada hidup mewah. Sehingga beliau menghindar dari dunia dan jabatan yang pernah ditawarkan kepadanya daripada harus tinggal di lingkungan istana dengan beban yang berat dalam memutuskan suatu perkara. Sifat waro’ inilah yang beliau pertahankan sampai akhir hayatnya.

Pada masa dinasti Bani Umayyah tepatnya periode pemerintahan Marwan yang merupakan salah seorang raja Kufah, beliau pernah didatangi oleh salah satu anak buah raja Marwan yang bernama Hubairoh, meminta agar Imam Abu Hanifah berkenan menjadi Qodhi (hakim) di Kufah.

Beliau yang memang seorang ulama yang wira’i (hendak menjauhi harta dan kedudukan dari sang raja) maka beliau menolak permintaan tersebut dan memilih segala konsekuensi yang diberikan kepadanya. Sebagai konekuensinya maka beliau dihukum cambuk sebanyak 110 kali.

Komentar para ulama terhadap Imam Abu Hanifah

Berikut ini beberapa penilaian para ulama tentang Abu Hanifah, diantaranya:

1. Imam As-Syafii 

“Barangsiapa ingin mutabahir (memiliki ilmu seluas lautan) dalam masalah fiqih hendaklah dia belajar kepada Abu Hanifah”

2. Yahya bin Ma’in 

“Abu hanifah laa ba’sa bih”, beliau tidak berdusta dalam menyampaikan hadis, beliau adalah orang yang tsiqoh; tidak membicarakan suatu hadiskecuali yang beliau hafal.

3. Abdullah ibnul Mubarok

“Kalaulah Allah Subhanahu Wata’ala tidak menolong saya melalui Abu Hanifah dan Sufyan Ats-Tsauri maka saya hanya akan seperti orang biasa”. Dan beliau juga berkata, “Abu Hanifah adalah orang yang paling faqih”. Dan beliau juga pernah berkata, “Aku berkata kepada Sufyan Ats-Tsauri, ‘Wahai Abu Abdillah, orang yang paling jauh dari perbuatan ghibah adalah Abu Hanifah, saya tidak pernah mendengar beliau berbuat ghibah meskipun kepada musuhnya’ kemudian beliau menimpali ‘Demi Allah, dia adalah orang yang paling pandai, dia tidak menghilangkan kebaikannya dengan perbuatan ghibah’.” Beliau juga berkata, “Aku datang ke kota Kufah, aku bertanya siapakah orang yang paling wara’ di kota Kufah? Maka penduduk Kufah semuanya menjawab Abu Hanifah”. 

4. Al-Qodhi Abu Yusuf 

“Saya tidak melihat seseorang yang lebih tahu tentang tafsir hadisdan tempat-tempat pengambilan fiqih hadisdari Abu Hanifah”.

5. Fudhail bin Iyadh

“Abu Hanifah adalah seorang yang faqih, terkenal dengan wara’-nya, termasuk salah seorang hartawan, sabar dalam belajar dan mengajarkan ilmu, sedikit bicara, menunjukkan kebenaran dengan cara yang baik, menghindari dari harta penguasa”. Qois bin Rabi’ juga mengatakan hal serupa dengan perkataan Fudhail bin Iyadh.

6. Hafsh bin Ghiyats

“Pendapat Abu Hanifah di dalam masalah fiqih lebih mendalam dari pada syair, dan tidaklah ada orang yang mencelanya kecuali dia itu orang yang jahil tentangnya”.

7. Al-Khuroibi berkata

“Tidaklah orang itu mensela Abu Hanifah melainkan dia itu orang yang pendengki atau orang yang jahil”.

8. Sufyan bin Uyainah berkata,

“Semoga Allah merahmati Abu Hanifah karena dia adalah termasuk orang yang menjaga shalatnya (banyak melakukan shalat)”.

Nasehat-nasehat Imam Abu Hanifah

Beliau adalah termasuk salah seorang imam yang pertama kali berpendapat wajibnya mengikuti Sunnah dan meninggalkan pendapat-pendapatnya yang menyelisihi sunnah. Beliau mengatakan wajibnya mengambil hadis dan meninggalkan taqlid terhadap pendapat para imam yang menyelisihi hadits. 

Adapun nasihat-nasihat Imam Abu Hanifah diantaranya adalah:
  • Apabila telah shahih sebuah hadis maka hadis tersebut menjadi madzhabku.

Berkata Syaikh Nashirudin Al-Albani, “Ini merupakan kesempurnaan ilmu dan ketaqwaan para imam. Dan para imam telah memberi isyarat bahwa mereka tidak mampu untuk menguasai, meliput sunnah/hadiss ecara keseluruhan”.

Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh imam Syafii, “maka terkadang diantara para imam ada yang menyelisihi sunnah yang belum atau tidak sampai kepada mereka, maka mereka memerintahkan kepada kita untuk berpegang teguh dengan sunah dan menjadikan sunah tersebut termasuk madzhab mereka semuanya”.
  • Tidak halal bagi seseorang untuk mengambil/memakai pendapat kami selama dia tidak mengetahui dari dalil mana kami mengambil pendapat tersebut. Dalam riwayat lain, disebutkan dengan redaksi haram bagi orang yang tidak mengetahui dalilku, berfatwa dengan pendapatku. 

Imam Asy-Sya’roni dalam kitabnya Al-Mizan 1/62 berkata yang ringkasnya sebagai berikut, “Keyakinan kami dan keyakinan setiap orang yang tidak memihak terhadap Abu Hanifah, bahwa seandainya dia hidup sampai dengan dituliskannya ilmu Syariat, setelah para penghafal hadis mengumpulkan hadis-hadisnya dari seluruh pelosok penjuru dunia, maka Abu Hanifah akan mengambil hadits-hadis tersebut dan meninggalkan semua pendapatnya dengan cara qiyas. 
  • Apabila saya mengatakan sebuah pendapat yang menyelisihi kitab Allah yaitu Al-Qur’an dan hadis Rasulullah yang shahih, maka tinggalkan perkataanku.

Demikian semoga bermanfaat, mungkin Anda juga tertarik dengan artikel kami yang lain:


Reff:
Adz-Dzahabi, Imam. Siyarul A’lamin Nubala’, Beirut: Dar ar-Risalah
Katsir, Ibnu. Al-Bidayah wa an-Nihayah, Beirut: Darul Baz Beirut

Wednesday, March 25, 2020

Biografi Imam Malik Lengkap

BIOGRAFI IMAM MALIK 

 

NAMA DAN KEMULIAN NASAB IMAM MALIK


Beliau adalah Abu Abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amr bin Haris bin Gaiman bin Kutail bin Amr bin Haris al Asbahi. Dikenal Imam Mamik; sang perawi hadis dzobtut-tam dan tsiqqoh, sehingga karya beliau menjadi sangat fenomenal hingga saat ini. Beliau lahir di kota Madinah pada tahun 712 M dan wafat tahun 796 M.

Sebagaimana tokoh Arab yang lain, beliau berasal dari keluarga yang sangat terhormat, berstatus sosial tinggi, hingga ke kakek-kakek beliau. Kakek atau leluhur Imam Malik yaitu berasal dari Yaman, namun setelah nenek datuk-datuknya memeluk agama Islam, mereka pindah ke kota Madinah. Kemuliaan nasab Imam Malik menjadi sempurna ketika kakek beliau yang pertama memeluk agama Islam beliau bernama Abu Amir, tepatnya yaitu pada tahun ke-2 setelah Nabi Muhammad SAW hijrah menuju Madinah. Pada saat itu Madinah merupakan kota ilmu yang sangat terkenal, tak ayal ketika kakek-kakek beliau juga sangat berilmu karena tinggal di lingkungan yang sangat mendukung keilmuan saat itu. Sehingga tidak heran jikalau kakek beliau merupakan ulama terpandang di kota Madinah pada saat itu. 

biografi imam malik lengkap

ALIM SEJAK KECIL

Dalam usia beliau yang masih relatif muda, Imam Malik ternyata telah menguasai banyak disiplin ilmu. Kecintaan beliau terhadap ilmu menjadikan hampir seluruh hidupnya diabdikan dalam dunia pendidikan. Begitu alimnya Imam Malik sampai-sampai tidak kurang dari empat kepemimpinan khalifah mulai dari khalifahi Al-Mansur, Al-Mahdi, Hadi Harun, dan Al-Ma'mun, tercatat pernah menjadi murid beliau. Selain itu ulama besar seperti Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi'i pun pernah menimba ilmu dari Imam Malik. Belum lagi ilmuwan dan para ahli lainnya. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa murid beliau yang terkenal mencapai 1.300 orang.

Kendati beliau telah alim sejak kecil, akan tetapi sebagai ahlul ilmi beliau tidak mendapatkan serta-merta ayau sekonyong-konyong. Disebutkan dalam pengembaraan beliau mencari ilmu, Imam Malik diliputi oleh pengorbanan yang sangat luar biasa. Diriwayatkan sampai-sampai beliau rela mengorbankan apa saja demi ilmu yang beliau pelajarinya. Bayangkan sekaliber ulama besar Imam Malik ternyata beliau sampai harus rela menjual tiang rumahnya hanya untuk membayar biaya pendidikannya.


GURU-GURU IMAM MALIK

Sebagai ulama’ ahli hadis, beliau pertakali belajar dari kakeknya yang merupakan ulama ahli hadis Beliaupun turut menekuni pelajaran hadits kepada ayah dan paman-pamannya. 

Selain pada kakeknya, Imam Malik juga berguru kepada ulama-ulama terkenal di zamannya. Diantara guru-guru beliau yangterkenal adalah:

  • Nafi' bin Abi Nuaim
  • Ibnu Syihab az Zuhri
  • Abul Zinad
  • Hasyim bin Urwa
  • Yahya bin Said al Anshari, dan 
  • Muhammad bin Munkadir. 

Selain itu beliau juga berguru kepada Abdurrahman bin Hurmuz; ulama yang hidup di masa tabi'in ahli hadits, fikih, fatwa dan ilmu jadal (perdebatan). beliau juga berguru kepada Imam Jafar Shadiq dan Rabi Rayi.

KETEGASAN DAN KEDISIPLINAN IMAM MALIK

Karakteristik daripada pengajaran Imam Malik yang kita ketahui adalah disiplin, ketentraman, dan rasa hormat murid kepada gurunya. Prinsip ini senantiasa dijunjung tinggi oleh beliau sehingga beliau tidak segan-segan menegur keras murid-muridnya yang melanggar disiplin dan ketentuan yang telah ditetapkan oleh beliua. Kendati beliau orang yang tegas dan disiplin dalam menyampaikan ilmu, bukan berarti beliau adalah orang yang kasar dan pemarah. Melainkan beliau Imam Malik adalah orang yang sangat ramah dan penuh kasih sayang. Dikisahkan pada suatu saat ketika Khalifah Mansur sedang membahas sebuah hadits disampaikan dengan nada agak keras. Sang imam marah dan berkata, ''Jangan melengking bila sedang membahas hadits Nabi.'' 

"Seyogyanya Muridlah yang mendatangi sumber ilmu yaitu guru, bukan malah guru yang datang menjemput sang murid; Imam Malik"

Sikap tegas Imam Malik bukan bukan hanya untuk masyarakat kecil atau biasa saja, melainkan beliau tegas pula terhadap penguasa atau pemerintahan yang nyata-nyata perangainya menyimpang dan tidak sejalan dengan aqidah Islamiyah. Apapun resikonya, Imam Malik tetap menentang tanpa takut risiko yang dihadapinya. 

Pernah suatu saat Ja'far; gubernur Madinah saat itu yang masih keponakan Khalifah Abbasiyah; Al Mansur, meminta kepada seluruh penduduk Madinah melakukan bai'at (janji setia) kepada khalifah. Namun, Imam Malik yang saat itu baru berusia 25 tahun merasa tidak mungkin penduduk Madinah melakukan bai'at kepada khalifah yang tidak disukai oleh warganya. Ia pun mengingatkan gubernur tentang tak berlakunya bai'at tanpa keikhlasan seperti tidak sahnya perceraian yang dilakukan karena terpaksa. 

Ja'far meminta kepada Imam Malik agar tidak menyebarluaskan pandangannya tersebut kepada masyarakat, akan tetapi beliau ptetap pada prinsipnya. Gubernur Ja'far merasa terhina sekali. Ia pun memerintahkan pengawalnya menghukum dera Imam Malik sebanyak 70 kali. Dalam kondisi berlumuran darah, sang imam diarak keliling Madinah dengan untanya. Dengan peristiwa ini, Ja'far seakan mengingatkan kepada seluruh masyarakat bahkan kepada ulama yang mereka hormati, jika tidak ada hal yang dapat menghalangi kehendak sang penguasa.

Ketegasan beliau juga terlihat ketika Khalifah Bani Abbasiyyah; Harun Al-Rasyid, tertarik mengikuti ceramah Kitab Beliau Al-Muwatta'. Dalam hal ini, khalifah tidak hadis di majlis Imam Malik akan tetapi beliau mengutus seorang memanggil Imam Malik agar datang ke rumahnya namun Imam Malik memberikan nasihat kepada Khalifah Harun, ''Rasyid, dengan bertaka, “leluhur Anda adalah orang yang selalu melindungi pelajaran hadits, mereka amat menghormatinya. Bila sebagai khalifah Anda tidak menghormatinya, tak seorang pun akan menaruh hormat lagi. Manusia yang mencari ilmu, sementara ilmu tidak akan mencari manusia.''

Mengetahui kelakuan Ja’far; gubernur Madinah yang masih keponakan Khalifah Mansur, yang berlaku semena-mena kepada rakyatnya terutama kepada Imam Malik, khalifah Mansur-pun segera mengirim utusan untuk menghukum keponakannya dan memerintahkan untuk meminta maaf kepada sang imam. Untuk menebus kesalahan itu, khalifah meminta Imam Malik agar bermukim di kota Baghdad dan menjadi salah seorang penasihatnya. Sebagai fasilitas khalifah juga mengirimkan uang sebesar 3.000 dinar untuk keperluan perjalanan sang imam. Kendati demikian, hal ini ditolak oleh Imam Malik lebih suka tidak meninggalkan kota Madinah. Hingga akhir hayatnya, ia tak pernah pergi keluar Madinah kecuali untuk menunaikan ibadah haji. 

KARYA MONUMENTAL IMAM MALIK

Kitab Al-Muwatta' adalah kitab hadis karangan Imam Malik yang dihimpun dari sumber hadis-hadis sahih pilihan. Karya beliau dijadikan rujukan di seantero dunia pendidikan terutama di lingkungan pesantren. Al-Muwatta’ menjadi rujukan penting, khususnya di kalangan pesantren dan ulama kontemporer. Karya terbesar Imam Malik ini dinilai memiliki banyak keistimewaan. Ia disusun berdasarkan klasifikasi fikih dengan memperinci kaidah fikih yang diambil dari hadits dan fatwa para sahabat. 

Dunia Islam mengakui Al-Muwatta' sebagai salah satu karya terbaik yang tak ada duanya. Hal tersebut dikarenakan kitab Al-Muwatta’ merupakan kitab dengan sanad hadis pilihan yang mana sebelumnya kitab ini memuat 10 ribu hadits. Akan tetapi setelah melakukan penelitian lebih mendalam terhadap sanad dan rawi hadis Imam Malik hanya memasukkan 1.720 hadis saja. 

Selain kitab Al-Muwatta', Imam Malik juga menyusun kitab yang bernama Al-Mudawwanah Al-Kubra, yaitu kitab yang berisi fatwa-fatwa dan jawaban Imam Malik atas berbagai persoalan. 

PENINGGALAM IMAM MALIK

Tidak hanya karya monumental, Imam Malik juga meninggalkan warisan yang dijadikan sebagai pedoman dan rujukan dalam menjalankan syariat Islam. Tinggalan tersebut adalah pandangan fikih yang dijadikan rujukan keagamaan di kalangan Islam Sunni, yang disebut sebagai Mazhab Maliki. Selain fatwa-fatwa Imam Malik dan Al Muwatta', kitab-kitab seperti. 

Madzhab Maliki selain dikenal dengan konsistensinya dalam memegang teguh hadits sahih sebagai rujukannya, mazhab ini juga dikenal amat mengedepankan aspek kemaslahatan dalam menetapkan hukum. Urutan sumber hukum yang dikembangkan dalam Mazhab Maliki adalah Al-Qur'an, Sunnah Rasulullah SAW, amalan sahabat, tradisi masyarakat Madinah (amal ahli al Madinah), qiyas (analogi), dan Maslahah Mursalah (kemaslahatan yang tidak didukung atau dilarang oleh dalil tertentu). 

Sebagai madzhab yang sahih, mazhab Maliki pernah dijadikan mazhab resmi di kota-kota besar di jazirah Arab seperti; Mekah, Madinah, Irak, Mesir, Aljazair, Tunisia, Andalusia (kini Spanyol), Marokko, dan Sudan. 

Sunday, March 22, 2020

Peristiwa Isra’ Mi’raj Lengkap

Isra' dan Mi'rajnya Rasulullah



Sahabat syariat kita, salah satu rukun iman yang harus kita yakini dan pegeng teguh adalah iman kepada para Rasul Allah. Yang berarti kita meyakini bahwasanya Allah telah menurunkan para utusannya untuk sekalian umat manusia, berikut meyakini apa yang dibawa oleh rasul tersebut. Meyakini apa yang terjadi dan disampaikan oleh rasul diantaranya adalah peristiwa terjadinya isra’ dan mi’raj

Pengertian Isra’ dan Mi’raj



Isra` secara etimologi bahasa yaitu berasal dari kata ‘saro’ yang bermakna perjalanan di malam hari. Adapun dari segi terminologi, Isra` adalah perjalanan Rasulullah SAW., pada waktu malam hari mulai dari Masjidil Harom (Mekah) sampai ke Masjidil Aqso (Palestina). Dalam hal ini, Allah SWT., berfirman di dalam Al-Qur’an Surah Al-Isra’ ayat 1:


سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى  

"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha"


Sedangkan pengertian mi’raj secara etimologi merupakan isim alat yang berarti sesuatu yang digunakan untuk naik. Sedangkan pengertian mi’raj menurut istilah berarti peristiwa naiknya Nabi Muhammad SAW., dari Masjidil Aqso menuju Sidrotul Muntaha (langit ketujuh) .


Dengan demikian peristiwa isra’ mi’raj yang dialami oleh nabi Muhammad merupakan peristiwa yang diluar logika akal “khowariq”. Peristiwa ini tentunya harus diterima dengan keyakinan dan keimanan. Sehingga tidak heran manakala Rasulullah SAW., sehabis melakukan isra’ mi’raj justru banyak sahabat yang telah beriman justru kembali menjadi murtad.

Sahabat Yang Pertama Kali Mengimani Peristiwa Isra' Mi'raj

Tidak diragukan lagi bahwa setelah terjdinya peristiwa isra' dan mi'raj justru banyak kalangan sahabat yang kembali murtad, ia tidak meyakini akan peristiwa yang telah dialami oleh baginda Rasulullah SAW. Hal ini terjadi karena mereka menerima peristiwa tersebuthanya dengan akal sedangkan peristiwa isra' dan mi'raj merupakan perkara keimanan yang harus diterima oleh seorang mukmin.

Dalam kondisi semacam ini, Allah SWT., menguji keimanan seseorang dari berbagai segi tampillah sahabat Abu Bakar sebagai sahabat yang pertamakali membenarkan terjadinya peristiwa isra' dan mi'raj bahkan beliau bersabda, "jikalau ada kejadian yang diluar logika akal melebihi peristiwa isra'dan mi'raj, maka akulah orang yang pertama kali membenarkannya". Dengan peristiwa inilah sahabat Abu bakar mendapat gelar as-Siddiq yang berarti orang yang membenarkan terhadap peristiwa yang dialami oleh nabi. 

"jikalau ada kejadian yang diluar logika akal melebihi peristiwa isra'dan mi'raj, maka akulah orang yang pertama kali membenarkannya"

Verifikasi Peristiwa Isra' Mi'raj 

Sahabat syariatkita, hal yang dilakukan klarifikasi sampai tahapan verifikasi dan validasi ternyata bukan masalah dunia saja. Kejadian isra' dan mi'raj-pun tidak luput dari hal demikian. Peristiwa ini dimulai ketika para sahabat yang mendengar peristiwa isra' dan mi'raj yang dialami oleh baginda Rasulullah SAW. Mereka tidak serta merta menerima begitu saja justru banyak yang kembali menjadi murtad atau keluar dari ajaran Islam. Bagi mereka yang hendak memperdalam peristiwa ini dan mau menggalinya lebih jauh ada yang berpendapat bahwa jikalau Rasulullah saja tidak bisa terbang bagaimana peristiwa isra' dan mi'raj ini bisa terjadi pada beliau. Itulah diantara percakapan yang banyak terjadi di kalangan para sahabat waktu itu.

Sampai suatu saat sepakatlah orang-orang yang meragukan peristiwa isra' dan mi'raj mengumpulkan kelompoknya untuk meminta keterangan langsung dari baginda Rasulullah SAW. Diantaranya mereka menanyakan:
Kabar kafilah dagangan mereka?
Jikalau engkau Muhammad benar melakukan isra' dan mi'raj, berjalan sampai langit ke tujuh tentunya engkau dapat melihatkafilah kami di perjalanan, dapat menceritakan kabar dan peristiwa yang terjadi padanya. 

FainsyaAllah dilanjutkan...

peristiwa isra' mi'raj lengkap


Baca juga Artikel kami:


Dapatkan Artikel Kami Gratis

Ketik email Anda di sisi:

Kami akan mengirimkannya untuk Anda

Quality Content