Islam dalam Pengambilan Keputusan

Islam adalah agama yang "Rahmatan Lil 'Alamin", keberadaanya membawa kedamaian bagi umat semesta alam. Hal ini dapat kita lihat diantaranya dalam pengambilan keputusan kita dilarang dalam kondisi labil.

Kebenaran yang Dilematis

Kebenaran dalam beberapa hal ternyata tidak selalu berdampak baik bagi pelakunya. Dalam konteks ini kita harus tetap menyampaikan kebenaran tersebut sekalipun dilematis buat kita

Islam dan Olah Raga

Disebutkan bahwa, "Orang mukmin yang kuat lebih baik dan dicintai oleh Allah SWT., daripada mukmin yang lemah" So, keep healty, keep financial and pray

Lengkapilah Agamamu dengan Menikah

Salah satu ibadah yang enak dan berpahala banyak adalah melangsungkan pernikahan. Bagaimana tidak, karena nikah merupakan salah satu sunah para rasul "Sunanun min Sunanil Mursalin"

Memilih Teman

Teman menjadi orang yang paling mewarnai hidup kita, baik deri segi sikap tindakan dan sikap mental seseorang. Olehkarena itu Islam mengajarkan agar dalam bergaul kita benar benar berhati-hati karena "Al-Mu'asyarotu Muatsiroh"

Friday, April 17, 2020

Keutamaan Menyempurnakan Wudhu

Keutamaan Menyempurnakan Basuhan Anggota Wudhu


Bagaimana Cara Menyempurnakan Basuhan Anggota Wudhu

Sahabat syariatkita, salah satu alat yang bisa mendekatkan diri kita kepada Allah Subhanahu Wata’ala adalah wudu. Hal tersebut dikarenaka, dengan bersuci maka tentunya kita dapat kembali melakukan ibadah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Sehingga dikatakan:

مِفْتَاحُ اْلعِبَادَةِ الطَّهَارَةُ

“Kunci dari setiap ibadah adalah bersuci.”

Dalam hadis lian disebutkan:

الَطَّهُورُ شَطْرُ الايِمَانِ

"Bersuci adalah separih dari iman"

Dengan demikian ketika kita telah menunaikan wudhu, berarti kita telah memegang kendali ibadah yang akan kita laksanakan. 

==> Baca Juga: 

keutamaan menyempurnakan wudhu

Selain berfungsi sebagai kendali ibadah, faidah wudhu juga sangatlah banyak, diantaranya kelak umat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam akan dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan tangan dan kakinya mengeluarkan cahaya karena bekas basuhan air wudhunya. Hal ini sebagaimana dalam hadis:

 اِنَّ اُمَّتِيْ يُدْعَوْنَ يَوْمَ القيامَة غُرًّا مُحَجّلِيْنَ مِنْ اَثَارِ الوُضُوء فَمَن أسْتَطاعَ اَنْ يُطِيْلَ غُرَّتهُ فَلْيَفعَلْ

“Sesungguhnya umatku kelak akan dibangkitkan di hari kiamat dalam keadaan tangan dan kakinya mengeluarkan cahaya karena bekas air wudhu, maka barang siapa mampu memanjangkan basuhan tangan dan kakinya maka lakukanlah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari ayat di atas dapat kita pahami bahwa wudhu selain menjadi kunci ibadah, wudhu juga dapat menjadi penanda umat Rasulullah kelak di hari kiamat. 

Dengan demikian agar wudhu kita semakin sempurna, maka selain membasuh anggota wudhu yang diwajibkan, maka lebihkanlah basuhan melewati batas yang diwajibkan tersebut. Dengan demikian sempurnalah wudhu kita.

Doa-doa Sewaktu Membasuh Anggota Wudhu

Selain disunahkan melebihkan basuhan anggota wudhu, kita juga disunahkan membaca doa-doa ma’tsurah yaitu doa-doa yang biasa dilakukan para salafus-shaleh. 

Adapun doa-dao yang dibaca ketika berwudhu sesuai dengan tata urutannya adalah sebagai berikut:

1. Berkumur; adapun doa yang dica bersamaan kumur adalah


اَللّٰهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

"Ya Allah berikanlah pertolongan kepadaku, agar tetap dapat beribadah dan mensyukuri nikmat-Mu"

2 Menghirup air ke dalam hidung; adapun doanya adalah:


اَللّٰهُمَّ أَرِحْنِي رَائِحَةَ الجَـنَّةِ وَاَنْتَ عَنِّي رَاضٍ

"Ya Allah perkenankanlah aku mencium wanginnya surga, sedangkan Engkau ridha terhadapku"

3. Membasuh muka; adapun doanya


اَللّٰهُمَّ بَيِّضْ وَجْهِى يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوْهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوْهٌ

"Ya Allah putihkanlah wajahku, yaitu pada hari dimana wajah-wajah (orang yang engkau berikan taufik) menjadi putih, dan sebagian lagi hitam"

4.Membasuh kedua tangan; adapun doanya

Tangan kanan

اَللّٰهُمَّ اَعْطِنِى كِتاَبِى بِيَمِيْنِى وَحَاسِبْنِى حِسَاباً يَسِيْرًا

"Ya Allah berikanlah buku catatan amalku dari tangan kananku dan hisablah (amalku) dengan hisab yang ringan"

Tangan kiri

اَللّٰهُمَّ لاَ تُعْطِنِى كِتاَبِى بِشِمَالِى وَلاَمِنْ وَرَاءِ ظَهْرِىْ

"Ya Allah janganlah Engkau berikan buku catatan amalku dari tangan kiriku dan tidak pula dari belakangku"

5. Mengusap rambut repala; adapun doanya adalah:


اَللّٰهُمَّ حَرِّمْ شَعْرِيْ وَبَشَرِيْ عَلَى النَّارِ

"Ya Allah peliharalah rambutku dan kulitku dari api neraka"

6. Membasuh kedua telinga


اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ اْلقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ

"Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mendengarkan perkataan (yang baik) dan mengikuti kebaikannya"

7.Membasuk dua telapah kaki; adapun doanya adalah


اَلّلهُمَّ ثَبِّتْ قَدَمِيْ يَوْمَ تَزِلُّ فِيْهِ اْلَأْقَدَامُ

“Ya Allah, tetapkanlah kedua kakiku pada hari (dimana) kaki-kaki (orang yang tidak mendapatkan taufil Allah) tergelincir ke dalam (neraka)”


Keterangan:
  • Antara isytinsyaq ( meniup air) dan istinsyar (meniupkan air ke dalam hidung) hendaklan dilakukan secara bersamaan
  • Doa-doa tersebut hendaknya dilafalkan di dalam hati, mengingat sewaktu kita berwudhu kadang di lakukan di tempat yang ghoiru muhtarimah, seoerti di kamar mandi dan lain sebagainya. 

Demikian semoga bermanfaat, mungkin Anda juga tertarik dengan artikel kami yang lain:


Reff:
Kitab Tanwirul Qulub, 1994. Beirut: Daar Al-Fikr

Thursday, April 16, 2020

8 Tanda Diterimanya Taubat

8 Tanda Diterimanya Taubat 


Cara Mengetahui Diterimanya Taubat

Sahabat syariatkita, mungkin diantara kita ada yang merasa sudah maksimal bertaubat kepada Allah Subhanahu Wata’ala, sudah berusaha sekuat tenaga, akal dan pikiran untuk menhindari keharaman. Akan tetapi di dalam lubuk hati kecilnya masih terpendam perasaan ingin berbuat baksiat, ingin berlaku murka dan jauh dari agama. Jikalalau hal ini masih saja menghantui pikiran sampai ke tindakan kita maka kita patut waspada, bahwa selama ini pertaubatan kita kepada Allah Subhanahu Wata’ala belum diterima.

Dalam sebuah hadis disebutkan:

اَلْأثِمْ مَا حَاكَ فِى صَدْرك وَكَرهْت اَنْ يطلعَ عليه الناسُ

“Dosa adalah gejolak di dalam dada yang mana engkau malu manakala ditampakkan kepada orang lain”

Dari hadis di atas tentunya dapat kita pahami bersama bahwa sesuatu yang terngiang di dalam jiwa, rasa gelisah, gundah gulana dan rasa-rasa lain yang manakala ditampakkan pada orang lain kita malu itulah dosa. Dalam hal ini setelah pertaubatan kita kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Akan tetapi masih saja ada luapan rasa untuk melakukan maksiat, maka hal tersebut menunjukkan bahwa hati dan jiwa kita masihlah harus ditempa dengan pertaubatan yang nasuha. Karena hanya taubat nasuha lah yang diterima oleh Allah Subhanahu Wata’ala.

8 Tanda Diterimanya Taubat 

Setelah kita memahami kondisi jiwa yang senantiasa berubah-ubah, kadang keimanan yang di atas kadang juga di bawah. Kadang nafsu kita menang tapi kadang juga nasfu tunduk pada kepatuhan terhadap aturan Allah Subhanahu Wata’ala. 

8 tanda diterimanya taubat

Dinamika-dinamika sebagaimana di atas menunjukkan bahwa sifat basyariyah kita memegang peranan. Karena kita adalah manusia yang mana suatu waktu iman dapat bertambah dan di waktu yang lain kadang juga berkurang. Kendatipun demikian, kita dapat mengetahui tanda-tandanya, apakah taubat kita diterima oleh Allah Subhanahu Wata’ala atau tidak.

==> Baca Juga: 

8 Tanda Diterimanya Taubat

Menurut As-Syaikh Muhammad Amin Kurdi Al- Irdibily As-Syafi'i menyebutkan 8 tanda-tanda diterimanya taubat seorang hamba sebagai berikut:

1. Menjaga lisan dari perbuatan dosa

Ciri diterima taubat yang pertama adalah lisan terjaga dari perbuatan dosa. Hal ini mengandung pengertian bahwa orang yang sudah sampai pada tingkatan taubat nasuha, maka ia sangatlah takut manakala mengunakan mulutnya untuk berkata-kata yang bertengangan dengan ajaran agama. Ia sangat berhati-hati dalam bertutur kata. 

Dengan demikian, orang yang taubatnya diterima oleh Allah Subhanahu Wata’ala dapat dilihat diantaranya yaitu dari lisan yang dinukannya. Sehingga orang yang taubatnya diterima maka ia tidaklan menggunakan lisannya uintuk berbohong, menggunjing orang lain, menghardis anak yatim, dan tidak pula menggunakan untuk berkata-kata yang tidak bermanfaat. Semua perkataan ataupun sesuatu yang keluar dari lisannya adalah hanya untuk ketakwaan  kepada Allah Subhanahu Wata’ala seperti berdzikir, membaca Al-Qur’an menasehati teman yang berbuat dosa dan hal lain yang diperintahkan ileh agamanya.

2. Menjaga perutnya dari makanan haram

Tanda kedua, orang yang taubatnya diterima yaitu dapat dilihat dari cara ia memberikan asupan makanan ataupun rezeki pada tubuhnya. Ia sangat takut manakala perutnya kemasukan barang yang haram sekalipun sedikit. Ia sangat takut manakala apa yang ia makan adalah hasil dari korupsi, haril dari menipu orang lain dan hasil dari dana penggelapan. Sehingga orang yang taubatnya sudah diterima oleh Allah Subhanahu Wata’ala niscaya ia akan bersemboyan, “satu puluk’an halal luwek becik tinimbang sak piring nanging haram” (satu suapan makanan halal lebih baik daripada satu piring tetapi makanan haram.

3. Menjaga matanya dari melihat yang dilarang oleh agama

Tanda diterimanya taubat selanjutnya adalah terjaga matanya dari melihat yang haram. Ia tidak melihat selain muhrimnya, ia tidak menyaksikan pertunjukanyang mengandung unsur kemaksiatan, dan ia tidak pula memandang dunia dengan rasa tamak ingin memilikinya. Akan tetapi karunia mata yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala semuanya ia gunakan untuk ketaatan kepadanya, ia gunakan untuk mengambil ibrah dari hal-hal yang ada di sekelilingnya, sehingga dapat menambah keimanan kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

4. Menjaga kedua tangannya dari mengerjakan perbuatan yang dilarang agama

Tanda selanjutnya adalah orang yang diterima taubatnya dapat diketahui dari cara ia menggunakan karunia Allah Subhanahu Wata’ala yang berupa kedua tangan. Ia sama sekali tidak menggunakan untuk kemaksiatan, seperti membantu orang lain melakukan dosa, menyuap dan memukul orang lain tanpa sebab. Akan tetapi anugerah kedua tangannya hanya digunakan untuk kemaslahatan seperti bekerja halal, menolong orang lain dna lain sebagainya.

5. Menjaga kedua kakinya, sehingga tidak melanhkah kecuali untuk ketaatan kepada Allah Subhanahu Wata’ala

Tidak dapat dipungkiri bahwa kaki adalah salah satu sumber orang dapat melakukan ketaatan dan kemaksiatan. Ketaatan seperti berjalan ke masjid, keluar rumah mencari nafkah untuk keluarga dan menjenguk tetangga ataupun saudara yang sakit. Sumber kemaksiatan seperti melangkahkan kaki untuk mengadu domba orang lain, menyebar kebencian melangkah menuju tempat-tempat maksiat dan lain sebagainya. Orang yang taubatnya diterima oleh Allah Subhanahu Wata’ala maka ia tidak menggunakan kakinya kecuali untuk sesuatu yang dibenarkan oleh agama.

6. Menjaga hatinya dari rasa iri, dengki hasud dan hal lain yang dilarang oleh agama

Orang yang melakukan taubat nasuha maka dalam hatinya sudah tidak ada lagi rasa iri, dengki, hasud dan segala sifat tercela yang dilarang oleh agama. Akan tetapi, orang yang sudah pada level “taubat nasuha” maka hatinya penuh dengan rasa belas kasihan, penuh kasih sayang kepada sesama muslim. Ia melihat bahwasanya muslim apapun tingkat dan derajatnya maka semuanya makhluk Allah Subhanahu Wata’ala yang harus disayangi.
  

7. Menjaga telinganya dari mendengarkan sesuatu yang haram didengarkan

Tanda ketuhuh adalah, orang yang diterima taubatnya dapat dilihat dari kehati-hatiannya mendengarkan sesuatu yang haram. Ia hanya mendengarkan hal-hal yang bermanfaat, dan jauh dari mendengar hal-hal yang tidak bermanfaat 

8. Melakukan segala sesuatu dengan mengharapkan ridha Allah Subhanahu Wata’ala

Tanda terakhir diteriomanya taubat seseorang adalah dapat diketahui dari ketulusan hatinya. Maka apapun yang dilakukan olehnya, tiada sama sekali karena mengharapkan imbalan jasa dari orang lain, amalnya jauh dari riya’ dan sum’ah. Tidak pula ingin dipuji oleh orang lain, semua yang dilakukannya karena semata-mata mengharapkan ridha Allah Subhanahu Wata’ala. 


Reff:
Kitab Tanwirul Qulub, 1994. Beirut: Daar Al-Fikr

Taubat Nasuha; Syarat dan Maknanya

Taubat Nasuha; Syarat dan Maknanya 


Makna Taubat Nasuha

Taubat adalah janji seorang hamba kepada Tuhannya untuk tidak mengulangi kesalahan dan dosa yang pernah diperbuatnya. Orang yang bertaubat kepada Allah Subhanahu Wata’ala berarti ia telah berniat dan berjanji tidak melakukan dosa dan meminta ampunan kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Yang menjadi permasalahan di kalangan umat Islam sekarang adalah, banyak diantara mereka sudah bertaubat dengan beristighfar meminta ampunan Allah Subhanahu Wata’ala bahkan melakukan shalat taubat, akan tetapi setelah itu mereka kembali lagi melakukan dosa yang sama, bahkan melakukan dosa lain yang lebih besar (mudah-mudahan kita diselamatkan Allah Subhanahu Wata’ala dari segala dosa dan diampuni dosanya). Maka yang demikian ini tentunya belum dinamakan taubat nasuha atau taubat sebenar-benar taubat kepada allah Subhanahu Wata’ala.

taubat nasuha


Kendatipun demikian, orang yang bertaubat kepada Allah Subhanahu Wata’ala dengan menyesali kesalahan dan dosa yang ia lakukan, sekalipun sesekali melakukan kesalahan lagi, ia masih termasuk ke dalam hamba Allah Subhanahu Wata’ala yang patut mendapatkan ampunan, hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis:

مَا اَصَرَّ مَنِ اسْتَغْفَرَ وَاِنْ عَادَ فِى الْيَوْمِ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Tidak dikatakan pendosa, yaitu orang yang meminta ampunan kepada Allah Subhanahu Wata’ala, sekalipun dalam sehari ia mengulangi (kesalahan) sebanyak 70 kali” (HR. Abu Dawud danTirmidzi)

Kendatipun demikian, kita tidak boleh lengah dengan berpegang terhadap hadis di atas. Hadis di atas yaitu menggambarkan bahwa rahmat Allah adalah sangat luas untuk semua hamba-Nya. Allah Subhanahu Wata'ala senantias menerima taubat hamma selama ia mau bertaubat dan meminta ampunan kepada-Nya. (Baca: Tata Cara Dan Dasar Shalat Taubat di Sini)

==> Baca Juga: 

Dengan demikian, makna taubat nasuha adalah taubat yang di lakukan dengan sebenar-benarnya bertaubat kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Tidak ada lagi keinginan untuk kembali melakukan maksiat ataupun melanggar apa yang telah di larang oleh agama. Inilah taubat nasuha yang diterima oleh-Nya. 

Hal di atas mengandung pengertian bahwa taubat yang dilakukan hamba selagi masih terulang dan terulang lagi, maka belum dinamakan taubat nasuha. Taubat yang belum sampai pada tingkatan “nasuha” maka memerlukan pertaubatan lagi yang lebih serius agar taubatnya diterima oleh Allah Subhanahu Wata’ala. 

Syarat-syarat Taubat Nasuha dan Keterangannya

Adapun syarat-syarat taubat sebagaimana disebutkan oleh As-Syaikh Muhammad Amin Kurdi dalam kitab Tanwirul Qulub adalah sebagai berikut:

  1. Menyesali dosa yang telah dilakukan
  2. Berazam atau berbulat tekat tidak akan mengulangi dan kembali melakukan dosa lagi
  3. Mengembalikan hak-hak orang lain atau pihak lain yang pernah di dzalimi 


Adapun ketiga syarat taubat sebagaimana di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:

Menyesali dosa yang telah dilakukan

Seorang yang telah bertaubat hendaknya ia mendidik dirinya agar membiasakan melaksanakan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Hal tersebut ditempuh agar kebiasaan maksiat ataupu dosa yang pernah dilakukan tidak terulang kembali. Dengan membiasakan melakukan ketaatan inilah, maka nafsu yang senantiasa mengajak kepada maksiat akan terkalahkan dengan nafsu mutmainnah yang bisa mengantarkan seseorang menuju ketenangan beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Berazam atau berbulat tekat tidak akan mengulangi dan kembali melakukan dosa lagi
Berazam atau berbulat tekat untuk tidak mengulangi kesalahan yang serupa merupakan langkah tazkiyatun nafs dari sifat-sifat tercela. Orang yang memiliki azam maka akan ditolong oleh Allah Subhanahu Wata’ala dalam melaksanakan kebaikan-kebaikan dan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Hal tersebut dikarenakan, orang yang memiliki azam yang kuat untuk tidak lagi melakukan dosa dan kesalahan berarti ia telah menaruh harapan yang besar untuk mendapatkan rahmat Allah Subhanahu Wata’ala. Disebutkan di dalam Al-Qur’an:

وَلا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

”....jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)

Dengan demikian sekalipun orang tersebutpernah berbuat dosa dan salah, selagi masih munya keinginan kuat untuk tidak mengulangi kesalahan dan dosa yang dilakukan, serta senantiasa mengharapkan rahmat dan ampunan Allah Subhanahu Wata’ala maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya.

Mengembalikan hak-hak orang lain atau pihak lain yang pernah di dzalimi

Orang yang bersalah atau berdosa adakalanya dilakukan kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan adakalanya kesalahan tersebut berhubungan dengan manusia. Adapun kesalahan yang berhubungan dengan Haqqullah atau haknya Allah Subhanahu Wata’ala maka ia wajib bertaubat dan beristighfar dari dosa dan dosa yang dilakukan. Jikalau meninggalkan kewajiban berupa shalat maka ia wajib mengkodho’ atau mengganti sejumlah shalat yang pernah ia tinggalkan. 

Dan jikalau ia kesalahan tersebut berhubungan dengan haqqul adamiy atau hak-hak makhlul Allah Subhanahu Wata’ala, maka selain ia harus minta maaf dengan yang bersangkutan, maka jikalau ada barang ataupun sesuatu yang pernah diambil ia harus mengembalikannya, jikalau tidak maka ia harus meminta keikhlasan dari orang yang bersngkutan.

Dengan menjaga taubat sesuai dengan ajaran syariat yang dicontohka noleh Rasulullag Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, berarti ia telah berupaya menjadi hamba Allah Subhanahu Wata’ala yang berbudi luhur dan mencoba meraih keselamatan dinia dan akhirat. Semoga kita termasuk di dalamnya. Amin   

Demikian semoga bermanfaat, mungkin Anda juga tertarik dengan artikel kami yang lain:


Reff:
Kitab Tanwirul Qulub, 1994. Beirut: Daar Al-Fikr

Dasar Hukum Shalat Taubat

Dasar Hukum Shalat Taubat


Shalat Taubat

shalat taubat adalah shalat sunah yang dilakukan dengan tujuan memimta ampunan kepada Allah Allah Subhanahu Wata’ala dari segala dosa yang telah di lakukan. Oleh karena ingin memantapkan niat dan tidak ingin mengulangi lagi kesalahan yang pernah dia lakukan, maka seseorang melakukan shalat taubat. Dengan harapan segala kesalahannya diampuni Allah Subhanahu Wata’ala dan taubatnya diterima-Nya.

Shalat taubat merupakan serangkaian dari menjalankan salah satu dari syarat-syarat taubat yang berjumlah 3 (baca syarat-syarat taubat di sini).

dasar hukum shalat taubat


Dengan melakukan shalat taubat, berarti kita telah mengikrarkan diri kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan menyesali atas dosa-dosa dan kesalahan yang telah dilakukannya, serta berniat tidak akan pernah melakukan dosa lagi kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Dasar Hukum Shalat Taubat

Adapun dasar hukum dilakukannya shalat taubat adalah hadis Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallah yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Imam Baihaqi, sebagai berikut:

مَا مِنْ رَجُلٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا ثُمَّ يَقُوْمُ فَيَتَطَهَّرُ ثُمَّ يُصَلِّيْ ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللهَ اِلَّا غَفَرَ لَهُ ثُمَّ قَرَأَ هٰذِهِ الْاٰيَةَ: وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْۤا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللهُ، وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ. اُولٰۤـئِكَ جَزَۤاءُهُمْ مَّغْفِرَةٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهَارُ خَالِدِيْنَ فِيْهَا. (رواه ابو داود والنسائي وابن ماجه والبيهقي)

“Tiada seorangpun yang berbuat dosa, kemudian ia segera bergegas dan berwudhu, kemudian shalat lalu memohon ampunan kepada Allah, pasti Allah akan memberikan ampunan baginya. Setelah itu dibacanya ayat ini: 'Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzhalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui. Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya.” (HR. Abu Dawud, Nasa'i, Ibnu Majah dan Baihaqi)

Dari hadis di atas dapat kita pahami bahwa seseorang yang hendak bertaubat dan meminta ampunan kepada Allah Subhanahu Wata’ala, maka dianjurkan melakukan shalat taubat. Dan hal ini juga merupakan pengamalan dari ayat-ayat Al-Qur’an sebagaimana di atas.

Bilangan Rakaat dan Doa Shalat Taubat

Jumlah bilangan shalat taubat, yaitu dapat dikerjakan sebanyak 2, 4 atau 6 rakaat. Adapun surah yang dibaca selama shalat boleh surah apa saja, akan tetapi dianjurkan membaca surah Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surah Al-Ikhlas pada rakaat yang kedua. 

Setelah selesai mengerjakan shalat taubat, maka disunahkan membaca doa sebagai berikut:

اَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِيْ لَا اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ تَوْبَةَ عَبْدٍ ظَالِمٍ لَا يَمْلِكُ لِنَفْسِهِ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُوْرًا.

“Saya memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung, yang tiada Tuhan melainkan Dia, Tuhan yang hidup terus selalu jaga. Saya bertaubat kepada-Nya, selaku taubatnya seorang hamba yang banyak berdosa, yang tidak mempunyai daya upaya untuk berbuat madharat atau manfaat, untuk mati atau hidup maupun bangkit nanti.”

Dianjurkan pula memperbanyak doa sayyidul istighfar (doa induk istighfar) sebagai berikut:

اَللّٰهُمَّ اَنْتَ رَبِّيْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَاَنَا عَبْدُكَ وَاَنَا عَلٰى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ. اَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ اَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَاَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَأِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اَنْتَ.

“Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tiada tuhan melainkan Engkau yang telah menciptakan aku, dan aku adalah hamba-Mu. Dan aku pun dalam ketentuan serta janji-Mu sedapat mungkin aku lakukan. Aku berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan yang telah aku kerjakan, aku mengakui nikmat-Mu yang Engkau limpahkan kepadaku, dan aku mengakui dosaku, karena itu berilah ampunan kepadaku, sebab tidak ada yang dapat memberi peng-ampunan, kecuali hanya Engkau.”

Wednesday, April 15, 2020

Dalil Keutamaan Shalat Sunah Fajar 2 Rakaat

Dalil Keutamaan Shalat Sunah Fajar 2 Rakaat


Keutamaan Shalat Sunah Fajar

Sahabat syariatkita, mungkin di antara kita masih ada yang melamnya begadang sampai tidur larut malam, sehingga subuhnya kesiangan. Tapi ini pakai redaksi “mungkin” ya sahabat? Sehingga apa, ketika subuhnya sudah mepet maka kita bisa ketinggalan shalat sunah yang pahalanya sebih baik daripada dunia beserta seluruh isinya. Dahsyat bukan? Simak ya, keterangan lengkap keutamaan shalat sunah fajar 2 rakaat beserta dalilnya di sini.

Mengenai keutamaaan shalat sunah fajar, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا. (رواه مسلم) 

“Dari Aisyah ra. bahwasanya Nabi saw. telah bersabda, 'Dua rakaat fajar (shalat sunah yang dikerjakan sebelum subuh) itu lebih baik dari dunia dan segala isinya.” (HR. Muslim)

Sangat jelas sekali bukan sahabat, keutamaan shalat sunah fajar. Yaitu bahwa shalat sunah fajar atau shalat sunah dua rakaat sebelum shalat subuh, memiliki keutamaan berupa pahala yang sangat luar biasa.

dalil keutamaan shalat sunah fajar 2 rakaat


Dalam riwayat lain, dari Abu Hurairah RA. bahwa Rasulullah SAW. bersabda:

لَا تَدَعُوْ رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ وَاِنْ طَرَدَتْكُمُ الْخَيْلُ. (رواه احمد وابو داود والبيهقي والطحاوي)

“Janganlah kalian meninggalkan dua rakaat sunah fajar, meskipun kalian dikejar tentara berkuda.” (HR. Abu Dawud, Baihaqi dan Thahawi)

Imam Ahmad dan Muslim meriwayatkan dari Aisyah RA. bahwa ia berka:

مَا رَاَيْتُهُ اِلٰى شَيْءٍ مِنَ الْخَيْرِ اَسْرَعَ مِنْهُ اِلَى الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ.

“Saya belum pernah melihat Rasulullah saw. demikian rajin dan cepatnya mengerjakan suatu kebajikan, sebagaimana rajin dan cepatnya dalam melaksanakan dua rakaat shalat fajar.”

Ketentuan Dalam Pelaksanaan Shalat Sunah Fajar

Sebagaimana disebutkan di atas, bahwasanya shalat sunah fajar sangat dianjurkan untuk dilaksanakan, hal ini mengingat pahal ayang sangat besar dalam mengerjakan shalat sunah fajar tersebut.

==> Baca Juga: 

Akan tetapi, mengingat waktu shalat subuh yang pendek dibandingkan waktu shalat maktubah lainnya, maka Rasulullah SAW. dalam melaksanakan shalat sunah fajar, dilaksanakan dengan cara ringan dan cepat. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam hadis, dari Aisyah RA. sebagai berikut:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّى الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْغَدَاةِ فَيُخَفِّفُهُمَا حَتّٰى اِنِّيْ لَاَشُكُّ اَقْرَأَ فِيْهِمَا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ اَمْ لَا؟ (رواه احمد وغيره)

“Bahwasanya Rasulullah saw. shalat dua rakaat sebelum subuh dan melaksanakannya dalam waktu yang cepat. Karena demikian cepatnya sehingga saya ragu-ragu apakah dalam dua rakaat itu beliau membaca surah Fãtiœah atau tidak.” (HR. Ahmad dan lainnya)

Waktunya dalam melaksanakan shalat sunah fajar itu, sama seperti membaca surah Fãtiœah, sebagaimana dalam hadis dinyatakan oleh Aisyah:

كَانَ قِيَامُ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِى الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الْفَجْرِ قَدْرَ مَا يَقْرَأُ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ. (رواه احمد والنسائي والبيهقي ومالك والطحاوي)

“Rasulullah saw. berdiri dalam shalat sunah fajar ini dua rakaat sebelum shalat subuh, hanya kira-kira se-kedar untuk membaca surah Fãtiœah.” (HR. Ahmad, Nasa'i, Baihaqi, Malik dan Thahawi)

Surah Yang Dibaca Dalam Shalat Sunah Fajar 

Sebagaimana dianjurkan mempercepat pelaksanaan shalat sunah fajar, maka agar tidak memakan waktu banyak, surah yang dibaca pun haruslah surah yang pendek-pendek. 

Adapun surah yang sunah dibaca dalam shalat sunah fajar sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad adalah surah Al-Kãfirùn dan surah Al-Ikhlas. Berikut hadisnya:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقْرَأُ فِيْ رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ بِقُلْ يَۤا اَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ وَقُلْ هُوَ اللهُ اَحَدٌ، يُسِرُّبِهَا. (رواه احمد والطحاوي)

“Bahwasanya Rasulullah saw. dalam melaksanakan shalat sunah fajar ini membaca qul yã ayyuhal-kãfirùn dan qul huwallãhu aœad, dan dibacanya tidak keras suarany.”  (HR. Ahmad dan Thahawi)

Sedangkan dalam kitab I’anatut Thalibin; Bisyarkhi Fathil Mu’in dijelaskan bahwa surah yang disunahkan dibaca dalam shalat sunah fajar adalah surah Al-Insyirah untuk rakaat pertama dan Surah Al-Fill pada rakaat yang kedua.

Doa Setelah Shalat Sunah Fajar

Adapun setelah selesai shalat sunah fajar dua rakaat, maka kita dianjurkan untuk membaca doa sebagai berikut:

اَللّٰهُمَّ رَبَّ جِبْرِيْلَ وَاِسْرَافِيْلَ وَمِيْكَائِيْلَ وَمُحَمَّدٍ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم اَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ. 3×

“Ya Allah, Tuhan dari Malaikat Jibril, Israfil, Mikail dan Nabi Muhammad saw., saya memohon perlindungan-Mu ya Allah dari siksa api neraka 3x.”

Selain itu kita juga disunahkan membaca istighfar dengan lafal berikut sebanyak 3 kali. Hal ini sebagaimana dalam hadis:

مَنْ قَالَ صَبِيْحَةَ يَوْمِ الْجُمُعَةِ قَبْلَ صَلَاةِ الْغَدَاةِ: اَسْتَغْفِرُ اللهَ الَّذِيْ لَا اِلٰـهَ اِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، غَفَرَ اللهُ تَعَالٰى ذُنُوْبَهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ.

“Siapa saja di waktu pagi hari Jum‘at sebelum shalat subuh membaca: Astagfirullãhal-aÈím lã ilãha illã huwal-œayyul-qayyùmu wa atùbu ilaihi, tiga kali maka Allah akan mengampunkan dosanya walaupun dosanya seperti buih laut.”

Demikian semoga bermanfaat, mungkin Anda juga tertarik dengan artikel kami yang lain:

Urutan Kesunahan Dalam Berwudhu

Urutan Kesunahan Dalam Berwudhu


Sahabat syariatkita, sebagai tambahan pahala biasanya ketika kita mengerjakan kewajiban tentunya kita akan melaksanakannya sesuai dengan tuntunan syariat yang diajarkan oleh baginda Agung Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Selain mendapatkan pahala dobel, artinya kita tidak hanya mendapatkan pahala dari menjalankan kewajiban syariat saja akan tetapi juga mendapatkan pahala karena mengerjakan kesunahan sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah. 

Titik poin disinilah yang kadang ada sebagian orang yang menganggap sepele, artinya espektasi ia dari menjalankan ibadah mungkin hanya sekedar menggugurkan kewajiban saja. Sedangkan disisi lain, jikalau kita benar-benar memperhatikan ketentuan syariat dengan tidak hanya mengerjakan rukun yang menjadi kewajiban saja akan tetapi juga mengerjakan kesunahan yang dituntunkan oleh syariat maka tidak terasa kita telah mendapatkan pahala dobel; yaitu pahala wajib dan pahala sunah. 

urutan kesunahan dalam berwudhu


Hal-hal sebagaimana di atas akan menjadi kebiasaan dan dapat mendarah daging jika kita telah terbiasa dan membiasakan diri melakukan kesunahan-kesunahan yang diajarkan oleh syariat. Ada yang berpendapat, tujuan kita ibadah bukannya hanya karena Allah Ta'ala? Kalau berbicara hal itu, para sahabat sudah pada tahu dong ya... Karena di dalam Al-Qur'an sendiri disampaikan bahwa:

اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاِتيْ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

"Inna sholatii wanusukii wamahyaaya wa mamaati lillahi robbil 'alamiin"  

"Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam."

Sudah tidak diragukan lagi bahwa pastilah segala bentuk ibadah kita, tiada lain hanyalah untuk Allah semata. Inilah tujuan yang memang harus dipertahankan. Akan tetapi sama-sama melakukan ibadahnya, sama sama mengerjakan sholat, sama-sama dzikir dan ibadah lain bukankah kit aakan lebih baik manakala sesuai dengan tuntunan yang diajarkan Rasulullah melalui sunah-sunahnya. 

==> Baca Juga: 

Ibarat orang yang mendirikan bangunan, sama-sama membangun kenapa tidak sekalian yang bagus sehingga kita nyaman tinggal di dalamnya, jikalau orang berdagang kita sekiranya dapat menghasilkan untung lebih banyak mengapa kita tidak mengambilnya. Mungkin itu ibarat sederhana yang mudah ditangkap oleh akal, sehingga kita dalam beribadah pula termotivasi untuk mengerjakan kesunahan-kesunahan yang ada di dalamnya. Oke para sahabat, mengenai kesunahan-kesunahan berwudhu akan kami jelaskan dalam pembahasan berikut.

Kesunahan-kesunahan dalam berwudhu


Setelah kita mempelajari tatacara berwudhu yang benar sesuai yang diajarkan oleh syariat, tiba saatnya dalam pembahasan ini akan kami jelaskan tentang hal-ihwal yang sunah dikerjakan selama kita berwudhu. Adapun kesunahan berwudhu sedikitnya meliputi 3 aspek utama yaitu:
  1. Kesunahan yang bersifat qouli atau perkataan 
  2. Kesunahan yang bersifat fi'li atau berbuatan, dan 
  3. Kesunahan yang bersifat takyifi atau kesunahan yang berhunungan dengan tatacara wudhu


Kesunahan yang bersifat qouli

Kesunahan dari segi ini mengajarkan seorang mutawadhi' atau orang yang mengerjakan wudhu terlebih dahulu membaca tasmiyah atau basmalah. Adapun lafal tasmiyah yang mashur yaitu:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

"Bismillahirrohmanirrohimi"

Meskipun demikian dalam kondisi yang mepet, seperti misalkan iqomah atau panggilan solat sudah dikumandangkan maka kita hanya cukup membaca "Bismillah" saja dan kita telah mendapatkan kesunahan bertasmiyah.

Kesunahan yang bersifat fi'li

Kesunahan dari segi perbuatan atau kesunahan berwudu yang kaitanya dengan pekerjaan yaitu ada tujuh. Ketujuh sunah tersebut meliputi:

  1. Membasuh kedua telapak tangan sebelum berwudhu. Dalam hal ini sebelum seseorang mengerjakan wudhu dan mengambil air wudhu maka terlebih dahulu disunahkan membasuh dan membersihkan kedua telapak tangan agar kotoran yang ada di tangan hilang sehingga basuhan ke muka benar-benar menggunakan air yang bersih dan suci.
  2. Berkumur (madzmadzoh) untuk menghilangkan sisa kotoran atau makanan yang ada di mulut. Dengan berkumur maka kotoran di mulut akan hilang dal solatpun menjadi lebih khusyu'.
  3. Menyedot air ke dalam rongga hidung dan menyemprotkannya klembali (istinsyaq). Dengan menyedot air kedalam hidung dan membuangnya kembali maka semua kotoran yang ada di bulu hidung dapat keluar dan bersih. 
  4. Membasuh rambut dagu (jenggot) yang tebal atau tahlilullihyah. Jadi kesunahan dalam hal ini manakala ada orang yang janggutnya tebal maka ia harum membasuh hingga ke bagian dalam janggut tersebut.
  5. Membasuh jari-jari tangan hingga benar-benar rata atau tahlilul ashoobi'.  Kesunahan dalam hal ini dapat diperoleh dengan cara tasybiq atau memasukkan sebagian jari-jari kedua tangan pada jari yang lain.
  6. Membasuh seluruh kepala. Dalam hal ini, seorang akan memperolah kesunahan membasuh kepala dengan cara meratakan seluruh basuhan ke rambut kepala. Adapun membasuh sebagian rambut kepala (sedikitnya 3 helai) itulah yang wajib.
  7. Mengusap kedua telinga; baik telinga bagian dalam dan telinga bagian luar. Kesunahan dalam mengusap telinga yaitu dengan cara menaruh jari telunjuk kelubang hidung dan memutarkan ibu jari mengitari daun telinga.
  8. Membasuh jari-jari kaki hingga benar benar merata. Kesunahan dalam hai ini dapat diperoleh dengan cara memasukkan jari tangan kiri pada bagian bawah jari kaki secara berurutan mulai dari sela-sela antara jari jempol, begitu juga memasukkan jari tangan kanan pada jari kaki kiri secara berutan atau dengan cara yang sama.

Kesunahan dalam hal perbuatan ini untuk poin 2 dan 3 disunahkan untuk dikerjakan secara bersamaan. Yang artinya antara menyedot air ke dalam hidung dan berkumur dilakukan secara bersamaan.

Kesunahan yang bersifay kaifiyati

Kesunahan dalam hal ini meliputi dua hal yang mana jikalau kita mengerjakan sesuai dengan cara ini maka kita akan mendapatkan pahala kesunahan berwudu. Kedual hal tersebut yaitu:

  1. Mendahulukan basuhan anggota tubuh bagian kanan dan mengakirkan anggota tubuh bagian kiri. Contohnya jikalau kita membasuh kedua tangan, maka kita disunahkan membasuh tangan kanan terlebih dahulu  sebelum tangan kiri, begitu juga ketika mengusap kedua telinga dan membasuh kedua kaki. Dalam kesemuanya ini disunahkan mendahulukan anggota tubuh bagian kanan.
  2. Mengerjakan basukan dan usapan pada setiap anggota wudhu' sebanyak 3 kali. artinya ketika kita membasuh muka maka sunah dikerjakan sebanyak 3 kali begitu juga dengan anggota yang lain.


Demikian semoga bermanfaat, mungkin Anda juga tertarik dengan artikel kami yang lain:

Doa shalat tarawih dan witir lengkap beserta artinya

Doa shalat tarawih dan witir lengkap beserta artinya


Sahabat syariatkita, sebagaimana kita ketahui bahwa di bulan Ramadhan terdapat ibadah mahdhah antara hamba dan Rabnya, yang mana ibadah tersebut tidak bisa dikerjakan selain di bulan Ramadhan. 

Ibadah tersebut adalah berupa shalat tarawih, adapun shalat witir tetap dapat dilakukan di luar bulan suci Ramadhan. 

Doa shalat tarawih dan witir lengkap beserta artinya


Nah bagi Anda yang sedang mencari referensi doa tarawih, berikut saya suguhkan spesial untuk Anda lengkap dengan artinya. Tujuan kami mencantumkan beserta arti agar jikalau kita paham maknanya, maka harapannya adalah kita dapat berdoa dengan lebih khusyu’. 

Berikut redaksi lengkapnya: 

==> Baca Juga: 

Doa Sesudah Salat Tarawih

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا بِالْاِيْمَانِ كَامِلِيْنَ. وَلِفَرَائِضِكَ مُؤَدِّيْنَ. وَعَلَى الصَّلَوَاتِ مُحَافِظِيْنَ. وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ. وَلِمَا عِنْدَكَ طٰلِبِيْنَ. وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ. وَبِالْهُدٰى مُتَمَسِّكِيْنَ. وَعَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضِيْنَ. وَفِى الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ. وَفِى الْاٰخِرَةِ رَاغِبِيْنَ. وَبِالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ. وَبِالنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ. وَعَلَى الْبَلَايَا صَابِرِيْنَ. وَتَحْتَ لِوَاءِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ. وَعَلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنَ. وَفِى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ. وَعَلٰى سَرِيْرَةِ الْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ. وَبِحُوْرٍ عِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ. وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ. وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ اٰكِلِيْنَ. وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفِّيْنَ شَارِبِيْنَ. بِاَكْوَابٍ وَاَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِنْ مَعِيْنٍ. مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ اُولٰۤئِكَ رَفِيْقًا. ذٰلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفٰى بِاللهِ عَلِيْمًا. وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

“Ya Allah, jadikanlah kami (orang-orang) yang imannya sempurna, dapat menunaikan segala fardhu, menjaga salatnya, menunaikan zakat, menuntut/mencari segala kebaikan di sisi-Mu, mengharap ampunan-Mu senantiasa memegang teguh petunjuk-petunjuk-Mu, terlepas/terhindar dari segala penyelewengan, zuhud di dunia dan mencintai amal untuk bekal di akhirat, rela terhadap ketentuan-Mu, mensyukuri segala nikmat-Mu, tabah (sabar) menerima cobaan dan semoga nanti pada hari kiamat kami dalam satu barisan di bawah naungan panji-panji junjungan kami Nabi Muhammad saw. dan melalui telaga yang sejuk, masuk ke dalam surga, dan duduk di tahta kehormatan, didampingi oleh bidadari surga, dan mengenakan baju kebesaran dari sutera berwarna-warni, menikmati hidangan surga yang lezat, minum susu dan madu yang suci bersih dalam gelas-gelas dan kendi-kendi yang tak pernah kering, bersama-sama dengan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat pada mereka dari golongan para nabi, shiddiqin dan orang-orang yang syahid serta orang-orang shaleh. Dan baik sekali mereka menjadi teman-teman kami. Demikianlah kemurahan dari Allah swt. dan kecukupan dari Allah yang Maha Mengetahui. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.”

Download Doa Shalat Tarawih

Untuk Anda yang menginginkan download Do'a shalat tarawih lengkap format Pdf. dapat downlod di sini


Doa Sesudah Salat Witir

Adapun doa shalat witir kami sampaikan dalam dua versi; yaitu panjang dan pendek. Panjang bagi Anda yang ingin kandungan doanya mencakup lebih banyak dan pendek bagi Anda yang menghendaki meringkas, atau Anda sedang dalam keperluan sehingga butuh cepat-cepat.

Adapun antara doa yang panjang dan pendek, esensi yang terkandung adalah sama saja. Karena keduanya ada dasarnya dan ma’tsur. Berikut redaksi lengkap beserta artinya:

Doa witir lengkap

اَللّٰهُمَّ اِنَّا نَسْاَلُكَ اِيْمَانًا دَائِمًا. وَنَسْاَلُكَ قَلْبًا خَاشِعًا. وَنَسْاَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا. وَنَسْاَلُكَ يَقِيْنًا صَادِقًا. وَنَسْاَلُكَ عَمَلًا صَالِحًا. وَنَسْاَلُكَ دِيْنًا قَيِّمًا. وَنَسْاَلُكَ خَيْرًا كَثِيْرًا. وَنَسْاَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ. وَنَسْاَلُكَ تَمَامَ الْعَافِيَةِ. وَنَسْاَلُكَ الشُّكْرُ عَلَى الْعَافِيَةِ. وَنَسْاَلُكَ الْغِنَاءَ عَنِ النَّاسِ. اَللّٰهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلَاتَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَتَخَشُّعَنَا وَتَضَرُّعَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَنَا يَا اَللهُ يَا اَللهُ يَا اَللهُ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلٰى خَيْرِ خَلْقِهِ مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ. وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu (mohon diberi) iman yang langgeng, dan kami mohon kepada-Mu hati yang khusyuk, dan kami mohon kepada-Mu diberi ilmu yang bermanfaat, dan kami mohon ditetapkannya keyakinan yang benar, dan kami mohon (dapat melaksanakan) amal yang shaleh, dan kami mohon tetap dalam agama Islam, dan kami mohon diberi kebaikan yang melimpah-limpah, dan kami mohon memperoleh ampunan dan kesehatan, dan kami mohon kesehatan yang sempurna, dan kami mohon mensyukuri atas kesehatan kami, dan kami mohon kecukupan. Ya Allah, ya Tuhan kami, terimalah salat kami, puasa kami, rukuk kami dan khusyuk kami, ketundukan kami dan pengabdian kami, dan sempurnakanlah apa yang kami lakukan selama salat ya Allah, ya Allah, ya Allah Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dan semoga Allah memberi rahmat atas sebaik-baik makhluk-Nya, yaitu Muhammad beserta segenap keluarga dan sahabatnya semua. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam.”

Doa witir ringkas, yang ma’tsur dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam


اَللّٰهُمَّ اِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ. 3× اَللّٰهُمَّ اِنَّا نَسْئَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ. 3×

“Ya Allah, sesungguhnya Engkaulah Tuhan yang memberi ampun, dan Engkaulah Tuhan yang suka memberi ampun, karena itu ampunilah hamba, ya Allah, hamba mohon keridhaan-Mu dan surga, dan hindarkanlah hamba dari kemurkaan-Mu dan dari api neraka.”

Dalam hadis lain dinyatakan:

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقُوْلُ فِيْ اٰخِرِ وِتْرِهِ: اَللّٰهُمَّ  اِنِّيْ اَعُوْذُ بِرِضَاكَ مِنْ سُخْطِكَ، وَاَعُوْذُ بِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوْبَتِكَ، وَاَعُوْذُ بِكَ مِنْكَ، لَا اُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ اَنْتَ كَمَا اَثْنَيْتَ عَلٰى نَفْسِكَ.  (رواه احمد وابو داود والنسائي والترمذي وابن ماجه)

“Dari Ali ra., bahwasanya Rasulullah saw. biasa membaca pada akhir salat witir, yang artinya: 'Ya Allah aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemarahan-Mu dan aku berlindung dengan kemaafan-Mu dari azab-Mu. Aku berlindung kepada Engkau; aku tidak dapat menghinggakan puji bagi-Mu sebagaimana Engkau telah memuji diri-Mu sendiri.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Nasa'i, Turmudzi dan Ibnu Majah)



Reff:
Kitab Adzkar An-Nawawi
Fiqih Islam Lengkap

Dapatkan Artikel Kami Gratis

Ketik email Anda di sisi:

Kami akan mengirimkannya untuk Anda

Quality Content