Islam dalam Pengambilan Keputusan

Islam adalah agama yang "Rahmatan Lil 'Alamin", keberadaanya membawa kedamaian bagi umat semesta alam. Hal ini dapat kita lihat diantaranya dalam pengambilan keputusan kita dilarang dalam kondisi labil.

Kebenaran yang Dilematis

Kebenaran dalam beberapa hal ternyata tidak selalu berdampak baik bagi pelakunya. Dalam konteks ini kita harus tetap menyampaikan kebenaran tersebut sekalipun dilematis buat kita

Islam dan Olah Raga

Disebutkan bahwa, "Orang mukmin yang kuat lebih baik dan dicintai oleh Allah SWT., daripada mukmin yang lemah" So, keep healty, keep financial and pray

Lengkapilah Agamamu dengan Menikah

Salah satu ibadah yang enak dan berpahala banyak adalah melangsungkan pernikahan. Bagaimana tidak, karena nikah merupakan salah satu sunah para rasul "Sunanun min Sunanil Mursalin"

Memilih Teman

Teman menjadi orang yang paling mewarnai hidup kita, baik deri segi sikap tindakan dan sikap mental seseorang. Olehkarena itu Islam mengajarkan agar dalam bergaul kita benar benar berhati-hati karena "Al-Mu'asyarotu Muatsiroh"

Wednesday, November 12, 2014

Kumpulan Hadis Tentang Adzan

HADIS-HADIS SEPUTAR ADZAN

Adzan merupakan seruan yang dikumandangkan oleh seorang muadzin, guna mengabarkan kepada kaum muslimin bahwa waktu shalat telah tiba. Adzan dalam Islam pertama kali dilakukan oleh sahabat Bilal ra. di atas Kabah. Meskipun demikian, dalam perkembangannya, adzan ternyata tidak hanya identik untuk menyerukan mengenai datangnya waktu shalat, akan tetapi adzan juga digunakan untuk sesuatu yang besar; seperti ketika ada angin puting beliung, kelahiran seorang bayi dan menguburkan mayat dan lain sebagainnya.

Para pembaca yang budiman, berikut saya nukilkan beberapa hadis shahih yang berkiatan dengan adzan, dengan harapan bagi kita yang belum mengetahui tentang dasar hukum dan ketentuannya, dapat menyelami makna dan dasarnya sehingga apa yang saya tulis ini bermanfaat bagi para pembaca khususnya kaum muslim dimanapun Anda berada. Adapun hadis-hadis tersebut saya klasifikasikan sebagai berikut:

Permulaan Diperintahkannya Adzan

حَدَّثَنَا عِمْرَانُ بْنُ مَيْسَرَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا خَالِدٌ الْحَذَّاءُ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: ذَكَرُوا النَّارَ وَالنَّاقُوسَ فَذَكَرُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى فَأُمِرَ بِلَالٌ أَنْ يَشْفَعَ الْأَذَانَ وَأَنْ يُوتِرَ الْإِقَامَة

“'Imran bin Maisarah bercerita kepada kami, 'Abdul Warits bercerita kepada kami, Khalid Al Hadza' bercerita kepada kami dari Abu Qilabah dari Anas bin Malik, ia berkata, ‘Orang-orang menuturkan tentang api dan lonceng (dalam mengusulkan cara memanggil shalat). Lalu ada juga di antara mereka yang mengusulkan seperti kebiasaan orang-orang Yahudi dan Nahrani. Maka Bilal diperintahkan untuk mengumandangkan adzan dengan dua kali dua kali dan iqamat dengan bilangan ganjil.’" (Dikutip dari Sahih Bukari, hadis No. 568)

Ketentuan Bacaan Adzan

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ قَالَ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ سِمَاكِ بْنِ عَطِيَّةَ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ: أُمِرَ بِلَالٌ أَنْ يَشْفَعَ الْأَذَانَ وَأَنْ يُوتِرَ الْإِقَامَةَ إِلَّا الْإِقَامَةَ

Sulaiman bin Harb bercerita kepada kami dengan berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Simak bin 'Athiyyah dari Ayyub dari Abu Qalabah dari Anas bin Malik, ia berkata, Bilal diperintahkan untuk mengumandangkan adzan dengan genap (dua kali dua kali) dan mengganjilkan iqamat, kecuali kalimat iqamat 'Qad qaamatish shalah (shalat telah dikumandangkan)'." (Dikutip dari Sahih Bukari, hadis No. 570)

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا خَالِدٌ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: أُمِرَ بِلَالٌ أَنْ يَشْفَعَ الْأَذَانَ وَأَنْ يُوتِرَ الْإِقَام قَالَ: إِسْمَاعِيلُ فَذَكَرْتُ لِأَيُّوبَ فَقَالَ إِلَّا الْإِقَامَةَ

“'Ali bin 'Abdullah bercerita kepada kami, Isma'il bin Ibrahim bercerita kepada kami, Khalid dari Abu Qilabah dari Anas bin Malik berkata, ‘Bilal diperintahkan untuk mengumandangkan kalimat adzan dengan genap (dua kali dua kali) dan mengganjilkan iqamat." Isma'il berkata, "Aku sampaikan masalah ini kepada Ayyub, lalu ia berkata, 'Kecuali kalimat iqamat 'Qad qaamatish shalah (shalat telah dikumandangkan)'." (Dikutip dari Sahih Bukari, hadis No. 572)

Keutamaam Mengumandangkan Adzan

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يَسْمَعَ التَّأْذِينَ فَإِذَا قَضَى النِّدَاءَ أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ بِالصَّلَاةِ أَدْبَرَ حَتَّى إِذَا قَضَى التَّثْوِيبَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطِرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ يَقُولُ اذْكُرْ كَذَا اذْكُرْ كَذَا لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ لَا يَدْرِي كَمْ صَلَّى

'Abdullah bin Yusuf bercerita kepada kami dengan berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Abu Az Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Jika panggilan shalat (adzan) dikumandangkan maka setan akan lari sambil mengeluarkan kentut hingga ia tidak mendengar suara adzan. Apabila panggilan adzan telah selesai maka setan akan kembali. Dan bila iqamat dikumandangkan setan kembali berlari dan jika iqamat telah selesai dikumandangkan dia kembali lagi, lalu menyelinap masuk kepada hati seseorang seraya berkata, 'Ingatlah ini dan itu'. Dan terus saja dia melakukan godaan ini hingga seseorang tidak menyadari berapa rakaat yang sudah dia laksanakan dalam shalatnya." (Dikutip dari Sahih Bukari, hadis No. 573)

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ سُمَيٍّ مَوْلَى أَبِي بَكْرٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِيرِ لَاسْتَبَقُوا إِلَيْهِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Abdullah bin Yusuf bercerita kepada kami dengan berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Sumayya mantan budak Abu Bakar, dari Shalih dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Seandainya manusia mengetahui apa (kebaikan) yang terdapat pada adzan dan shaf awal, lalu mereka tidak akan mendapatkannya kecuali dengan cara mengundi, niscaya tmereka akan melakukannya. Dan seandainya mereka mengetahui kebaikan yang terdapat dalam bersegera (menuju shalat), niscaya mereka akan berlomba-lomba. Dan seandainya mereka mengetahui kebaikan yang terdapat pada shalat 'Isya dan Shubuh, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun harus dengan merangkak." (Dikutip dari Sahih Bukari, hadis No. 580)

Mengeraskan Suara Adzan

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي صَعْصَعَةَ الْأَنْصَارِيِّ ثُمَّ الْمَازِنِيِّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ قَالَ لَهُإِنِّي أَرَاكَ تُحِبُّ الْغَنَمَ وَالْبَادِيَةَ فَإِذَا كُنْتَ فِي غَنَمِكَ أَوْ بَادِيَتِكَ فَأَذَّنْتَ بِالصَّلَاةِ فَارْفَعْ صَوْتَكَ بِالنِّدَاءِ فَإِنَّهُ لَا يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلَا إِنْسٌ وَلَا شَيْءٌ إِلَّا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Abdullah bin Yusuf bercerita kepada kami dengan berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abu Sha'sha'ah Al Anshari Al Mazini dari Bapaknya bahwa ia mengabarkan kepadanya, bahwa Abu Sa'id Al Khudri berkata kepadanya, "Aku lihat kamu suka kambing dan lembah (pengenmbalaan). Jika kamu sedang mengembala kambingmu atau berada di lembah, lalu kamu mengumandangkan adzan shalat, maka keraskanlah suaramu. Karena tidak ada yang mendengar suara mu'adzin, baik manusia, jin atau apapun dia, kecuali akan menjadi saksi pada hari kiamat." Abu Sa'id berkata, "Aku mendengarnya dari Rasulullah saw." (Dikutip dari Sahih Bukari, hadis No. 574)

Menggerakkan Mulut Sewaktu Adzan

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَوْنِ بْنِ أَبِي جُحَيْفَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ رَأَى بِلَالًا يُؤَذِّنُ فَجَعَلْتُ أَتَتَبَّعُ فَاهُ هَهُنَا وَهَهُنَا بِالْأَذَانِ

Muhammad bin Yusuf bercerita kepada kami dengan berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari 'Aun dari Bapaknya, bahwa dia melihat Bilal mengumandangkan adzan. Aku lalu memperhatikan mulutnya bergerak ke sana dan ke sini saat mengumandangkan adzan." (Dikutip dari Sahih Bukari, hadis No. 598)

Bacaan Ketika Mendengar Adzan

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَزِيدَ اللَّيْثِيِّ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا سَمِعْتُمْ النِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ
Abdullah bin Yusuf bercerita kepada kami dengan berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari 'Atha bin Yazid Al Laitsi dari Abu Sa'id Al Khudri, bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Apabila kalian mendengar adzan, maka jawablah seperti apa yang diucapkan mu'adzin." (Dikutip dari Sahih Bukari, hadis No. 576)

Doa Setelah Adzan

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَيَّاشٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعَيْبُ بْنُ أَبِي حَمْزَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Ali bin 'Ayyasy bercerita kepada kami dengan berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'aib bin Abu Hamzah dari Muhammad Al Munkadir dari Jabir bin 'Abdullah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa berdo'a setelah mendengar adzan, ‘allahumma rabba haadzihid da'watit tammah washshalaatil qaa'imah. aati muhammadanil wasiilata walfadliilah wab'atshu maqaamam mahmuudanil ladzii wa'adtah’ (Ya Allah. Rabb Pemilik seruan yang sempurna ini, dan Pemilik shalat yang akan didirikan ini, berikanlah wasilah (perantara) dan keutamaan kepada Muhammad. Bangkitkanlah ia pada kedudukan yang terpuji sebagaimana Engkau telah jannjikan) '. Maka ia berhak mendapatkan syafa'atku pada hari kiamat." (Dikutip dari Sahih Bukari, hadis No. 579)

Adzan Sebelum Subuh

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ قَالَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ قَالَ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ التَّيْمِيُّ عَنْ أَبِي عُثْمَانَ النَّهْدِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَمْنَعَنَّ أَحَدَكُمْ أَوْ أَحَدًا مِنْكُمْ أَذَانُ بِلَالٍ مِنْ سَحُورِهِ فَإِنَّهُ يُؤَذِّنُ أَوْ يُنَادِي بِلَيْلٍ لِيَرْجِعَ قَائِمَكُمْ وَلِيُنَبِّهَ نَائِمَكُمْ وَلَيْسَ أَنْ يَقُولَ الْفَجْرُ أَوْ الصُّبْحُ وَقَالَ بِأَصَابِعِهِ وَرَفَعَهَا إِلَى فَوْقُ وَطَأْطَأَ إِلَى أَسْفَلُ حَتَّى يَقُولَ هَكَذَا وَقَالَ زُهَيْرٌ بِسَبَّابَتَيْهِ إِحْدَاهُمَا فَوْقَ الْأُخْرَى ثُمَّ مَدَّهَا عَنْ يَمِينِهِ وَشِمَالِهِ

“Ahmad bin Yunus bercerita kepada kami dengan berkata, telah menceritakan kepada kami Zuhair, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Sulaiman At Taimi dari Abu 'Utsman Al Hindi dari 'Abdullah bin Mas'ud dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Adzannya Bilal tidaklah menghalangi seorang dari kalian, atau seseorang dari makan sahurnya, karena dia mengumandangkan adzan saat masih malam supaya orang yang masih shalat malam dapat pulang untuk mengingatkan mereka yang masih tidur. Dan Bilal adzan tidak bermaksud memberitahukan masuknya waktu fajar atau shubuh." Beliau berkata dengan isyarat jarinya, beliau angkat ke atas dan menurunkannya kembali hingga berkata seperti ini." Zuhair menyebutkan, "Beliau berisyarat dengan kedua jari telunjuknya, salah satu jarinya beliau letakkan di atas yang lainnya, kemudian membentangkannya ke kanan dan kirinya." (Dikutip dari Sahih Bukari, hadis No. 586)

Sekian sobat semoga bermanfaat, bagi sobat yang ingin artikel yang lain follow blog ane ya... tks

Hadis-hadis Seputar Adzan



Tuesday, November 11, 2014

Khasiat Daging Kambing Menurut Islam

Khasiat Daging Kambing Menurut Islam

Sahabat syariatkita, mengkonsumsi daging kambing sudah menjadi kegemaran di semua kalangan. Terutama mereka yang menginginkan vitalitas (jangan mis persepsi ya... vitalitas kan banyak macamnya). Akan tetapi mengkonsumsi daging kambing juga menjadi pantangan bagi semua orang terutama mereka yang menderita kolesterol, pada ya kolesterol yang terkandung kolesterol atau lemak jahat yang terkandung di dalam daging kambimng justru lebih kecil dibandingkan dengan daging sapi terlebih lagi daging ayam. Daging ayam malahan yang justru menempati rangking satu (tidak percaya baca di sini).

Yang jelas pastilah apapun yang kita konsumsi pastilah ada plus dan minusnya, plus di khasiat minus di dompet. Plus di dompet minus kandungan protein dan khasiatnya, disini akan saya ungkapkan bagaimana tatacara yang baik mengkonsumsi daging kambing dalam kacamata Islam.


Sate Kambing Ala Rasulullah SAW

Bagi kalangan pecinta sate, boleh jadi makanan yang satu ini merupakan menu favorit yang tidak hanya lezat di lidah, tetapi juga memiliki khasiat yang sangat luar biasa terutama untuk menambah vitalitas pria dewasa, sehingga keberadaan makanan ini banyak sekali dijumpai di daerah yang berhawa dingin seperti puncak, dataran tinggi dieng bandungan dan lain sebagainya. Keunggulan menu yang satu ini yaitu dapat meningkatkan tekanan darah yang tentunya dapat menjadikan suhu tubuh meningkat.

Meskipun demikian, tidak jarang pula banyak orang yang menjauhi makanan ini, karena kandungan kolesterolnya yang cukup tinggi. Berdasarkan data medis, orang yang menderita hipertensi sangat dianjurkan untuk menghindari makanan ini. Hal tersebut dikarenakan dapat menambah tekanan darah yang tentunya akan dapat membahayakan bagi kesehatannya jika mengkonsumsinya terlalu berlebihan.


Vitalitas identikkah dengan sate?

Banyak kalangan maupun praktisi yang menceritakan langsung tentang manfaat sate, terutama sate kambing muda. Sate kembing muda menurut penuturan mereka (kebanyakan pengantin baru) mampu menambah gairah dan libido dalam bercinta. Sehingga menu yang satu ini banyak digemari oleh mereka. Bagaimana menurut sobat blogger, benarkah hal tersebut?


sate kambing


Jika ada opini demikian, maka sudah pasti hal tersebut benar adanya, karena ada orang yang sudah membuktikannya. Hal tersebut jika dianalisa dari segi medis, dapat dijelaskan bahwa sate dapat meningkatkan tekanan darah, sehingga ketika intensitas tekanan darah seseorang naik, maka pacuan energi yang dihasilkan dan disuplai ke seluruh anggota badan melalui tekanan darah tersebut pun turut pula naik. Meskipun demikian, vitalitas tidak mutlak berasal dari sate, karena masih banyak makananan yang dapat menghasilkan energi serupa, seperti di korea terkenal dengan pasak bumi, di jawa ada purwoceng dan lain sebagainya.

Fenomena sate sebagaimana di atas, sebetulnya telah lebih dulu ada sebelum hal tersebut heboh seperti sekarang, dimana dahulu Rasulullah saw. pernah mengkonsumsinya pada saat menggali parit, tepatnya yaitu menjelang persiapan strategi Perang Khandak. Oleh karena itulah, perang tersebut dinamakan Perang Khandak yang berarti parit.

Adapun peristiwa tersebut yaitu sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Kitab Musnadnya sebagai berikut:

حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ حَدَّثَنَا أَبِي عَنِ ابْنِ إِسْحَاقَ حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ مِينَاءَ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ عَمِلْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْخَنْدَقِ قَالَ فَكَانَتْ عِنْدِي شُوَيْهَةُ عَنْزٍ جَذَعٌ سَمِينَةٌ قَالَ فَقُلْتُ وَاللَّهِ لَوْ صَنَعْنَاهَا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَأَمَرْتُ امْرَأَتِي فَطَحَنَتْ لَنَا شَيْئًا مِنْ شَعِيرٍ وَصَنَعَتْ لَنَا مِنْهُ خُبْزًا وَذَبَحَتْ تِلْكَ الشَّاةَ فَشَوَيْنَاهَا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَلَمَّا أَمْسَيْنَا وَأَرَادَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الِانْصِرَافَ عَنْ الْخَنْدَقِ قَالَ وَكُنَّا نَعْمَلُ فِيهِ نَهَارًا فَإِذَا أَمْسَيْنَا رَجَعْنَا إِلَى أَهْلِنَا قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ صَنَعْتُ لَكَ شُوَيْهَةً كَانَتْ عِنْدَنَا وَصَنَعْنَا مَعَهَا شَيْئًا مِنْ خُبْزِ هَذَا الشَّعِيرِ فَأُحِبُّ أَنْ تَنْصَرِفَ مَعِي إِلَى مَنْزِلِي وَإِنَّمَا أُرِيدُ أَنْ يَنْصَرِفَ مَعِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَحْدَهُ قَالَ فَلَمَّا قُلْتُ لَهُ ذَلِكَ قَالَ نَعَمْ ثُمَّ أَمَرَ صَارِخًا فَصَرَخَ أَنْ انْصَرِفُوا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى بَيْتِ جَابِرٍ قَالَ قُلْتُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ فَأَقْبَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَقْبَلَ النَّاسُ مَعَهُ قَالَ فَجَلَسَ وَأَخْرَجْنَاهَا إِلَيْهِ قَالَ فَبَرَكَ وَسَمَّى ثُمَّ أَكَلَ وَتَوَارَدَهَا النَّاسُ كُلَّمَا فَرَغَ قَوْمٌ قَامُوا وَجَاءَ نَاسٌ حَتَّى صَدَرَ أَهْلُ الْخَنْدَقِ عَنْهَا

“Telah bercerita kepada kami Ya'qub, telah bercerita kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq, telah bercerita kepadaku Sa'id bin Mina' dari Jabir bin Abdullah, ia berkata, ‘Kami bersama Rasulullah saw. mengerjakan galian Khondak. (Jabir bin Abdullah radliyallahu'anhuma) berkata, ‘Saya memiliki kambing kecil yang telah siap disate, yang masih muda.’ (Jabir bin Abdullah radliyallahu'anhuma) berkata, saya berkata, ‘Demi Allah akan saya persiapkan untuk Rasulullah saw. lalu saya menyuruh istriku lalu dia mengaduk sedikit gandum dan dijadikan roti untuk kami, lalu kambing tersebut disembelih dan kami menyatenya untuk Rasulullah saw. Tatkala sore hari dan Rasulullah saw. hendak meninggalkan Khondak. Kami memang mengerjakannya pada siang hari, jika telah sore maka kami kembali kepada keluarga kami.’ Saya (Jabir bin Abdullah ra.) berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami telah menyiapakan untuk Anda sate kambing, yang kami masak dan juga telah membuat roti dari gandum, maka saya sangat senang jika Anda mau pergi bersamaku ke rumahku. Saya menghendaki yang pergi ke rumahku hanya Rasulullah saw. saja.’ Namun tatkala saya katakan hal itu, beliau menjawab, ya, lalu beliau menyuruh seseorang untuk mengumumkannya dan mengajak mereka bersama Rasulullah saw. ke rumah Jabir. (Jabir bin Abdullah ra.) berkata, ‘Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Ro Ji'uun!’ Lalu datanglah Rasulullah saw. bersama para sahabatanya. Lalu beliau duduk dan kami menghidangkan untuk beliau, beliau mendo'akan agar mendapatkan barokah dan menyebut nama Allah, lalu beliau memakannya dan para sahabat bergiliran, jika sebagian telah selesai mereka berdiri dan yang lainnya datang sehingga semuanya yang membuat Khondak menikmatinya.”

Bagaimana sobat blogger, menarik bukan isi kandungan hadisnya? Ternyata makanan favorit kita dahulu juga merupakan salah satu menu yang pernah dinikmati oleh Baginda Agung Rosulillah SAW. Terlepas dari fenomena sate kambing yang dapat menambah vitalitas bagi konsumennya, dari hadis di atas penulis dapat menggaris bawahi hal-hal sebagai berikut:

1.  Meskipun bagi sebagian orang sate dianggap sebagai menu yang pentang untuk dikonsumsi, akan tetapi dibalik itu semua ternyata sate mengandung suplemen enegri yang cukup baik bagi tubuh, karena ia dapat meningkatkan dan menambah stamina untuk bekerja.
2.    Mengkonsumsi sate sebaiknya dilakukan manakala kita sedang mengerjakan pekerjaan fisik yang cukup berat dan melahkan. Dengan mengkonsumsi sate tersebut maka semangat kerja akan tumbuh kembali.
3.    Hindari mengkonsumsi sate manakala kita tidak sedang melakukan aktivitas fisik yang berat, karena hal tersebut akan berpengaruh pada tekanan darah yang tinggi, dimana ketika hal tersebut tidak disalurkan makan akan membahayakan bagi tubuh kita.

Semoga hadis di atas dapat menambah wawasan kita, terutama mengenai waktu yang baik untuk mengkonsumsi sate sebagaiman ayang dahulu pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. Bagi sobat yang menginginkan artikel sejenisnya dapat memfollow blog ini terimakasih. 


Monday, November 10, 2014

Tujuh Golongan Yang Mendapatkan Naungan Allah

TUJUH GOLONGAN YANG AKAN MENDAPATKAN NAUNGAN ALLAH TA‘ALA


Sobat blogger yang se-akidah yang dirahmati Allah, kita mengetahui bahwa hidup di dunia hanyalah sementara saja, kehidupan hakiki dan abadi hanyalah kelak di akhirat. Orang yang menanam benih-amal kebaikan tentunya nanti akan menuainya di sana sekalipun hanya seberat semut hitam ataupun atom sekalipun. Akan tetapi, pernahkan terpikir di benak hati kita, jikalau kita akan selamat kelak di akhirat, ataukah kita hanya akan menjadi wakud (bahan bakar) api neraka? (Naudzu billahi mindzalik) semoga kita tidak termasuk kedalam golongan ini. Amin...

Dari apa yang saya utarakan di atas, jika kita ditanya sudah barang tentu jawabannya adalah setiap orang akan selamat dunia dan akhirat, meskipun orang tersebut adalah orang yang ahli maasi (sering durhaka kepada Allah). Tetapi bekal apa yang sudah kita persiapkan untuk menuju kesana? Jika Anda adalah orang yang hidup di lingkungan orang shaleh dan Anda turut mengikuti nasihatnya serta mengamalkan nasihat tersebut, tentu Anda tergolong orang yang bahagia, karena kelak orang akan dikumpulkan di akhirat bersama orang yang dicintainya, orang yang biasa ia pergauli sebagaimana dalam hadis:

يُحْشَرُ الْمَرْءُ مَعَ مَنْ اَحَبَّ

Yang berarti, bahwa kelah seseorang akan dikumpulkan di hari kiamat bersama orang yang dicintainya, orang yang diidolakannya. Berdasarkan hal ini, maka dapat diambil pengertian bahwa orang yang mengidolakan artis ia akan dikumpulkan bersamanya, orang yang mengidolakan para salafussalih, para kiai, ahlul birr maka ia juga akan dikimpulkan kelak di hari kiamat bersamanya pula? Sekarang terserah anda sobat mau pilih opsi yang mana.

Jikalau Anda orang ahli berbuat maksiat, maka cepatlah bertobat mohonlah ampunan kepada Tuhan dan berjanjilah tidak akan mengulangi kesalahan yang serupa. Berikut saya kutipkan hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari mengenai tujuh golongan yang kelak akan mendapatkan naungan di hari kiamat, semoga hadis tersebut menjadi inspirasi bagi kita semua untuk menjadi hambanya yang selamat dunia dan akhirat. Langsung saja berikut saya kutipkan hadis tersebut untuk Anda sobat blogger:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ بُنْدَارٌ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي خُبَيْبُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar Bundar berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya dari 'Ubaidullah berkata, telah menceritakan kepadaku Khubaib bin 'Abdurrahman dari Hafsh bin 'Ashim dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; pemimpin yang adil, seorang pemuda yang menyibukkan dirinya dengan 'ibadah kepada Rabbnya, seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah; mereka tidak bertemu kecuali karena Allah dan berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang diajak berbuat maksiat oleh seorang wanita kaya lagi cantik lalu dia berkata, 'Aku takut kepada Allah', dan seorang yang bersedekah dengan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, serta seorang laki-laki yang berdzikir kepada Allah dengan mengasingkan diri hingga kedua matanya basah karena menangis."

Dari hadis di atas, dapat saya jelaskan sebagai berikut:

1.     Pemimpin yang adil

Pemimpin yang adil merupakan dambaan setiap rakyatnya, dambaat setiap bawahannya. Sobat dapat mambayangkan, jikalau kita dipimpin oleh orang yang zalim apakah kiranya kita dapat hidup tenteram? Dapatkan rakyat jelata memperoleh apa yang menjadi haknya? Tentunya tidak. Rasulullah pernah bersabda bahwa pemimpin itu hanya ada tiga; yang dua masuk neraka dan yang satunya masuk surga. Kendatipun prsentasenya banyak yang dineraka, tetapi fakta membuktikan bahwa mayoritas diantara kita senang jika dijadikan pemimpin (bagaimana dengan Anda sobat?)
Oleh karena tanggung jawab dan tugas besar yang berat diembannya, maka pantaslah jikalau Allah kelah menjadikan pemimpin yang adil termasuk kedalam tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah Taala.

2.     Pemuda yang menyibukkan dirinya dengan 'ibadah kepada Tuhannya

Masa muda adalah masa yang berapi-api kata Bang Haji (Rhoma. Red). Jiwanya penuh dengan idealisme, apa yang tidak sejalan dengan pikirannya dianggapnya kurang benar, jikalau pendapatnya tidak diterima ia tidak merasa puas. Di sisi lain. pemuda adalah sosok harapan agama dan bangsa, dimana jika suatu bangsa pemudanya baik maka negaranya akan kuat, jika pemudanya salih maka agamanya akan terpelihara. 
Masa muda penuh diselimuti dengan kesenangan, ia belum punya tanggungan anak dan keluarga, jiwanya bebas melalang buana kemana ia suka, sehingga pemuda yang menyibukkan dirinya untuk senantiasa beribadah menjalankan perintah Allah layak kiranya jika ia mendapatkan naungan-Nya kelah di hari kiamat.

3.     Seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid

Di zaman yang semakin maju ini , sering mendapati masjid yang dibangun megah ornamennya gara timur tengah sehingga ketika kita masuk kedalamnya serasa suana mi Mekah. Akan tetapi jarang kita menjumpai para pemuda yang turut aktif melakukan ibadah dan shalat jamaah di dalamya. Yang ada hanyalah muadzin yang telah usia uzur. Lalu kemanakan para generasi penerusnya? Ternyata mereka sibuk dengan urusan dunianya saja.
Hal tersebut tentunya sangat sesuai dengan keadaan yang digambarkan oleg Rasulullah dimana beliau pernah bersabda, “akan datang dimana Islam ada tapi tinggal nana (ajarannya tidak lagi diamalkan, masjid dibangun megah tapi tidak ada jamaahnya”. Fenomena semacam ini sekarang telah menjadi pemandangan yang sering kita temukan, sehingga orang yang hatinya senantiasa terpaut dengan masjid, ia senang jamaah, serta turut meramaikan masjid kelak akan mendapatkan naungan dari Allah swt. semoga kita termasuk kedalamnya. Amin..

4.     Dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah

Kebanyakan orang, bercinta karena kecantikan, harta, dan pangkat yang dimiliki pasangannya. Mereka mendasarinya karena embel-embel materi yang dirasa dapat mendatangkan kebahagiaan di dunia. Menurut saya hal ini wajar-wajar saja, karena hal ini manusiawi juga bukan??? Akan tetapi alangkah lebigh baiknya jikalau kita mendasari percintaan dengan pasangan kita karena Allah, kita mencintainya karena Allah semata, kita mencintainya karena ia rajin ibadah. Sehingga jalinan hidup kita dengan pasangan kita tidak sekedar materi yang mendatangkan kebahagiaan dunia, akan tetapi juga mendapatkan ridha allah sehingga kita menuai kebahagiaan di akhirat.

5.     Seorang laki-laki yang diajak berbuat maksiat oleh seorang wanita kaya lagi cantik lalu dia berkata, 'Aku takut kepada Allah'

Ketertarikan lawan jenis diantaranya dipengaruhi oleh faktor fisik; ketampanan, kecantikan dan postur tubuh yang ideal. Orang laki-laki akan cenderung terpikan hatinya manakala ada wanita yang cantik, berpakaian mini, bahenol lewat di depan kita. Terlebih lagi ketika ketika itu dalam ruangan hanya berdua, kiranya apa yang akan terjadi. Cobaan semacam ini pernah dialami oleh nabi Yusuf as. dimana beliau degoda oleh Zulaikha. Yusuf tampan Zulaikha sangat cantik, ketika itu Yusuf diajak masuk ke kamarnya, mau diajak berbuat (?) namun karena Yusuf merupakan Nabi Allah, ia terjaga dari melakukan maksiat sehingga selamatlah ia.
Bagaimana dengan kita sobat, apakah kita ingin tergololong kedalam 7 orang yang mendapatkan naungan Allah? saya mengajak sahabat sekalian mulailah sekarang kita jauhi maksiat, kita jauhi pandangan kita terhadap sesuatu yang dapat mendatangfkan syahwat agar kita selamat.

6.   Seorang yang bersedekah dengan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya

Sedekah telah menjadi fenomena yang disalahgunakan dikalangan sebagian orang. Mereka bersedekan supaya dianggap orang yang peka akan sesama, peka terhadap orang yang ada di bawahnya, bahwan mereka rela mengeluarkan kocek benyak asalkan ia disanjung dianggap orang yang wah di lingkungannya. Tapi sadarkah kita bahwa amal dan sedekah yang didasari demikian tidak akan diterima oleh Allah, karena Allah tidak akan menerima amal yang didasari kibir (sombong), bahkan dalam ayat lain disebutkan, bahwa amalnya orang-orang kafir (orang yang ingkar kepada Allah) tak ubahnya seperti fata morgana, ketika didekati ternyata amalnya tidak bernilai sama sekali.
Sedekan merupakan amalan yang sangat dianjurkan oleh agama, karena dengannya orang fakir, miskin dan anak terlantar dapat terbantu berkat uluran tangan para dermawan. Akan tetapi niatilah dalam beramal dengan mengharap ridho Allah agar amal kita menjadi amal sholohah, shadaqah kita menjadi shadaqoh jariah yang senantiasa mengalir pahalanya sekalipun kita telah tiada. Amin..

7.  Seorang laki-laki yang berdzikir kepada Allah dengan mengasingkan diri hingga kedua matanya basah karena menangis

Kebanyakan orang menangis manakala mereka didera kesusahan berkepanjangan, apa yang ia cita-citakan tidak kunjung terealisasi, musibah silih berganti menghampirinya. Ketika hal-hal tersebut terjadi, ia susah bahkan menangis tersedu-sedu meratap nasibnya. Akan tetapi apakan kita pernah menangis manakala teringat dosa-dosa kita yang begitu menumput, sedangkan kita tidak beristigfar memohon ampunan-Nya. Menangis kaena musibah wajar-wajar saja, akan tetapi menangis karena meratapi dosa sambil beristigfar dihadapan-Nya adalah sesuatu hal yang sangat luar biasa sehingga orang yang demikian akan mendapatkan naungan-Nya kelak di hari kiamat.

Dari apa yang saya paparkan semoga dapat memotivasi diri kita untuk menjadi lebih baik. Sehingga hidup kita berjalan sesuai dengan tata aturan syariat yang telah digariskannya. Bagi sobat yang ingin lebih banyak mendapatkan hadis tentang hal demikian follow bloh ini ya... terimakasih


(Referensi hadis; Kitab Sahih Buhari No. 620)

Tujuh Golongan Yamg Mendapatkan Naungan Allah

Friday, October 31, 2014

Asuransi Syariah

ASURANSI SYARIAH


Di dunia yang semakin modern ini, berbagai praktik muamalah telah mengalami perkembangan yang begitu pesat. Adanya perkembangan tersebut tentunya di latarbelakangi oleh tuntutan dan keinginan masyarakat yang ingin terus memperoleh kenyamanan dan terjaminnya kehidupan mereka. Guna menjamin kebutuhan hidup tersebut, berbagai praktik asuransi telah berkembang dan menjamur di masyarakat, akan tetapi kebanyakan dari asuransi yang ada adalah asuransi konvensional yang kebanyakan mereka masih meragukan kehalalannya. Oleh karena itu, dewasa ini mulai bermunculan praktik asuransi syariah yang dianggap oleh mereka sudah 100 % dijamin kehalalannya.

Asuransi Dalam Perspektif Islam


Asuransi dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah at-ta'min atau yang disebut dengan jaminan keamanan. Adapun pihak penyedia asuransi tersebut biasa disebut dengan mu'ammin atau penjamin dan nasabah atau anggota asuransi disebut juga dengan mu'amman lahu atau musta'min yang berarti pihak terjamin. Istilah asuransi atau yang disebur at ta'min diambil dari kata amana yang artinya keamanan, ketenangan, dan bebas dari rasa takut. Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam Al Qur'an surah Al-Quraisy ayat 4. (Wirdyaningsih, 2005: 221)

الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآَمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ

Artinya:

“Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.”

Di Indonesia, asuransi syariah atau asuransi Islam sering disebut dengan istilah takaful. Istilah ini yaitu diambil dari bahasa Arab takafala, ya tafakalu, takafulan yang berarti menanggung atau menjamin (Wirdyaningsih, 2005: 222). Dalam istilah muamalah, takaful berarti saling menanggung resiko antara seseorang dengan orang lain, sehingga kedua belah pihak dapat mengambil keuntungan dari akad yang berlangsung diantara mereka. Akad tersebut biasanya dilakukan atas dasar saling tolong menolong dalam hal kebaikan, denganasumsi pihak yang pertama mendapat jaminan terhadap apa yang menjadi kesepakatan diantara mereka dan pihak kedua dapat mengambil keuntungan pula dengan menyediakan pengelolaan harta yang dilimpahkan kepadanya. Hal ini biasanya terealisasikan dengan cara yang lazim disebut dengan istilah tabarru atau berbuat kebaikan dalam hal yang tidak bertentangan dngan syariat. (Syakir, 2004: 33)

Pada tahun 2001, Dewan Syari'ah Nasional (DSN) telah mengeluarkan fatwa mengenai Asuransi Syari'ah yang mengatur tata dan aturan menganei asuransi sesuai dengan syariah yang saling menguntungkan. Dalam bagian pertama aturan tersebut, yaitu dalam fatwa DSN No. 21/DSN-MUI/X/2001 disebutkan mengenai ketentuan umum muamalah yersebut. Dalam point pertama disebutkan bahwa pengertian asuransi syari'ah (ta'min, takaful, atau tazdamun) adalah bentuk usaha yang saling melindungi dan tolong menolong diantara sejumlah orang atau beberapa pihak melalui invenstasi dalam bentuk aset atau tabarru dan memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad yang sesuai dengan syari'ah. (Wirdyaningsih, 2005: 223)

Asuransi konvensional yang banyak ditemukan sekarang ini, sejatinya tidaklah sesuai dengan asuransi yang dikehendaki dengan yang ada di dunia Islam terutama pada dekade awal Islam. Konsekuensi dari hal itu semua, banyak literatur Islam yang menyimpulkan bahwa pada hakikatnya asuransi tidaklah dianggap sebagai suatu bentuk muamalah atau tasarruf yang dihalalkan. Halk tersebut dikarenakan, pada dasarnya Islam sendiri tidak meng-iyakan adanya praktik asuransi. Meskipun demikian, akan tetapi jika kita menilik beberapa aktivitas dari kehidupan Rasulallah saw. ternyata terdapat indikator yang mengarah pada prinsip-prinsip yang dapat dijadikan sebagai acuan hukum asuransi. Contoh sederhana dari aktivitas beliau adalah, beliau mengajarkan konsep tanggung jawab bersama yang kita kenal dengan istilah aqilah. (Syakir, 2004: 123)

Sebelum terbentuknya asuransi syariah, pada umumnya perusahaan asuransi konvensional yang ada, rata-rata dikendalikan dan dikelola oleh orang-orang non muslim, sehingga kehalalan dalam praktik ini menjadi semakin diragukan. Hal tersebut dikarenakan, jika ditinjau dari segi hukum Islam, asuransi konvensional yang ada sejatinya banyak mengandung unsur gharar (tipu musllihat), maisir (unsur perjudian) dan riba. Pendapat ini sebagaimana disepakati oleh banyak ulama terkenal diantaranya seperti Sayid Sabiq, Yusuf al-Qardawi, dan ulama-ulama lain. Namun demikian, karena adanya alasan kemaslahatan atau kepentingan umum yang menuntut adanya lembaga tersebut, maka sebagian mereka membolehkan adanya praktik asuransi konvensional. (Syakir, 2004: 124)

Tata Kelola dan Boleh Tidaknya Asuransi


Berdasarkan adanya kebutuhan tersebut yang dipandang perlu oleh kebanyakan masyarakat, maka pernyataan yang semula menyatakan bahwa asuransi konvensional hukumnya adalah haram, maka kemudian pernyataan tersebut ditinjau kembali dan dipikirkan serta dirumuskan asuransi yang sekiranya tidak bertentangan dengan syariat Islam. Dengan dasar inilah, maka terbentuk asuransi yang bisa terhindar dari ketiga unsur di atas yang nyata-nyata diharamkan oleh Islam yaitu asuransi syariah.

Berdasarkan hasil penelitian dan analisa terhadap suatu hukum syariat Islam, ternyata di dalam ajaran Islam sendiri ternyata termuat substansi yang membahas mengenai perasuransian. Asuransi yang termuat dalam substansi hukum Islam tersebut, yang bebar-benar menerapkan tata kelola dan peraturan Islam, tidak merugikan pihak lain, tidak terdapat unsur penipuan, tentunya dapat menghindarkan prinsip asuransi dari unsur yang telah disebutkan yaitu gharar, maisir dan riba. (Syakir, 2004: 125)

Asuransi Syariah

Referensi:

Wirdyaningsih, MH., Bank dan Asuransi Islam di Indonesia, Jakarta: Prenada Media, 2005

Syakir, Muhammad, Asuransi Syariah (Life And general) Konsep dan Sitem Operasional, Jakarta: Gema Insani, Cet 1, 2004

Thursday, October 30, 2014

Makanan Sehat Ala Islam

RESEP MAKANAN SEHAT


Hidup Sehat, Hidup Islam

Pola hidup yang sehat, kini telah menjadi trend hudup modern di kalangan masyarakat. Mereka memilih hidup sehat, mulai dari mengatur pola makan yang sehat, berolahraga, dan beristirahat yang cukup. Hal tersebut mereka rasa dapat membuatnya menjadi sehat. 


makanan sehat ala Islam


Sebenarnya hal demikian bukanlah suatu yang baru di dalam dunia Islam, karena jauh sebelum itu Islam telah mengajarkan umatnya untuk senantiasa hidup sehat, menjaga kebersihan dan berolahraga. Hal tersebut diantaranya sebagaimana tertuang dalam hadis berikut:
-         اَلنَّظَافَةُ مِنَ الْإِيْمَانِ
-         اَلمْـُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَاَحَبُّ اِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ
Kedua hadis di atas jelas menunjukkan bahwa Islam jelas mengajarkan umatnya agar senantiasa hudup bersih sehat dan melakukan olah raga. Hadis yang pertama mengajarkan kepada kita agar selaluhidup sehat dan menjaga kebersihan. Ini berarti orang muslim dilarang membuang sampah sembarangan dan mengotori fasiltas umum lainnya. 

Sedangkan hadis kedua menganjurkan agar setiap muslim harus menjadi orang yang sehat, baik dengan cara berolahraga menjaga pola makan dan istirahat yang cukup. Dengan tubuh yang sehat seorang muslim dapat turut serta melakan ibadah fisik dengan sempurna seperti shalat dan haji, dengan tubuh yang sehat pula orang islam dapat turut serta menjaga agamanya dari rong-rongan pihak musuh.

Resep Masakan Sehat

Diantara pola hidup sehat, yaitu dengan cara mengatur pola makan. Mengatur pola makan yang sehat juga haris didasari dari kebiasaan mengkonsumsi makanan yang benar-benar sehat, baik dari proses pembuatannya, proses memasaknya dan dari bahan yang dijadikan makanannnya. Seseorang tidak mungkin dapat menjaga pola makan sehat manakala ia tidak menghindari mengkonsumsi makanan yang mengandung zat-zat yang kurang baik buat tubuh, seperti kolesterol, terlalu berlemak dan lain sebagainya.

Berkenaan dengan hal di atas, Islam memiliki tips mengenai mekanan yang sehat untuk dikonsumsi tubuh kita. Apakakah tipsnya, berikut akan saya paparkan sebuah hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bikhari: 

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: إِنَّا كُنَّا نَفْرَحُ بِيَوْمِ الْجُمُعَةِ كَانَتْ لَنَا عَجُوزٌ تَأْخُذُ مِنْ أُصُولِ سِلْقٍ لَنَا كُنَّا نَغْرِسُهُ فِي أَرْبِعَائِنَا فَتَجْعَلُهُ فِي قِدْرٍ لَهَا فَتَجْعَلُ فِيهِ حَبَّاتٍ مِنْ شَعِيرٍ لَا أَعْلَمُ إِلَّا أَنَّهُ قَالَ لَيْسَ فِيهِ شَحْمٌ وَلَا وَدَكٌ فَإِذَا صَلَّيْنَا الْجُمُعَةَ زُرْنَاهَا فَقَرَّبَتْهُ إِلَيْنَا فَكُنَّا نَفْرَحُ بِيَوْمِ الْجُمُعَةِ مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ وَمَا كُنَّا نَتَغَدَّى وَلَا نَقِيلُ إِلَّا بَعْدَ الْجُمُعَةِ
Arti:
“Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin 'Abdurrahman dari Abi Hazim dari Sahal bin Sa'ad radliallahu 'anhu bahwa dia berkata: "Kami selalu bergembira bila datang hari Jum'at karena ada seorang wanita tua yang mencabut ubi milik kami yang kami tanam di selokan kebun lalu dia memasaknya dengan mencampurnya dengan biji gandum". Ya'qub berkata: "Aku tidak tahu kecuali dia mengatakan bahwa tidak ada lemak dan minyak."Apabila kami telah selesai shalat Jum'at maka kami datang ke rumah wanita itu lalu dia menyuguhkan masakannya itu kepada kami. Itulah mengapa kami bergembira dengan kehadiran hari Jum'at karena adanya makanan yang disuguhkannya itu. Dan kami tidaklah makan siang dan tidak pula tidur siang (qailulah) melainkan setelah selesai shalat Jum'at.”

Nampak jelas, sebelum ilmu medis moderen mengindentifikasi kandngan makanan yang sehat dan yang kurang baik bagi tubuh, Islam telah terlebih dahulu mengajarkannya. Diantaranya yaitu dengan makan makanan sederhana namun tetap mengandung gizi yang cukup dan diperlukan oleh tubuh, seperti singkong dan gandum sebegaimana yang dicontohkan dalam hadis. Adapun alternatif makanan yang sehat seperti yang dicontohkan dalam hadis yaitu tidak mengandung banyak lemak dan tidak pula terlalu berminyak.

Berdasarkan hadis di atas, Rasulullah mengajarkan umatnya agar senantiasa membiasakan diri hidup sehat, karena dengan membiasakan diri hidup sehat, seorang muslim dapat menjalankan kewajibannya kepada Allah dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian ia akan dapat meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Semoga bermanfaat. Amin...


Demikian semoga bermanfaat, mungkin Anda juga tertarik dengan artikel kami yang lain:



(Hadis dikutip dari Shahih Bukhari, Hadis No. 2178)

Wednesday, October 29, 2014

Fashion Dalam Islam


AKHLAK ISLAM

Fashion Dalam Islam

Dengan semakin berkembangnya teknologi, semakin berkembang pula peradaban manusia, tak terkecuali dalam dunia fashion. Akan tetapi dinamika hidup yang tidak terkendali telah membawa manusia melanggar norma agama, mereka berpakaian tetapi mengabaikan anjuran syariat. Mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri saja, asal pakainnya necis, rapi tapi ada tetangganya yang kelaparan, pakaiannya compang camping mereka tidak memperdulikannya. Padahal Islam tidak mengajarkan yang demikian ini.

Islam mengajarkan agar umatnya peduli terhadap sesama, memperhatikan tetangganya yang kurang berada, serta menolongnya manakala ia membutuhkannya. Berkaitan dengan hal ini, orang Islam yang memiliki tanggungan atau orang yang dibawahnya maka ia hendaknya tidak menjaga jarak dengannya. Dengan kata lain, pekerja yang ada di bawah kita seperti pembantu, sopir dan ajudan haruslah kita perlakukan sebagaimana apa yang kita lakukan dalam kesehariannya, baik dalam hal makanan, pakaian, atau hal lain yang berkaitan dengan hal tersebut.
busana islami

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa tidak dibenarkan jika seorang muslim berpakaian dengan pakaian yang bakus, sementara orang yang berada di sekelilingnya kehidupannya tidak terurus, pakaiannya compang camping bahkan mencari makannya saja kesulitan. Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW berpesan dengan memberikan teguran kepada Sahabat Abu Dzar sebagai berikut: 

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ وَاصِلٍ الْأَحْدَبِ عَنْ الْمَعْرُورِ بْنِ سُوَيْدٍ قَالَ لَقِيتُ أَبَا ذَرٍّ بِالرَّبَذَةِ وَعَلَيْهِ حُلَّةٌ وَعَلَى غُلَامِهِ حُلَّةٌ فَسَأَلْتُهُ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ إِنِّي سَابَبْتُ رَجُلًا فَعَيَّرْتُهُ بِأُمِّهِ فَقَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا ذَرٍّ أَعَيَّرْتَهُ بِأُمِّهِ إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ إِخْوَانُكُمْ خَوَلُكُمْ جَعَلَهُمْ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ فَمَنْ كَانَ أَخُوهُ تَحْتَ يَدِهِ فَلْيُطْعِمْهُ مِمَّا يَأْكُلُ وَلْيُلْبِسْهُ مِمَّا يَلْبَسُ وَلَا تُكَلِّفُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ فَإِنْ كَلَّفْتُمُوهُمْ فَأَعِينُوهُمْ
“Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Washil Al Ahdab dari Al Ma'rur bin Suwaid berkata: Aku bertemu Abu Dzar di Rabdzah yang saat itu mengenakan pakaian dua lapis, begitu juga anaknya, maka aku tanyakan kepadanya tentang itu, maka dia menjawab: Aku telah menghina seseorang dengan cara menghina ibunya, maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menegurku: "Wahai Abu Dzar apakah kamu menghina ibunya? Sesungguhnya kamu masih memiliki (sifat) jahiliyyah. Saudara-saudara kalian adalah tanggungan kalian, Allah telah menjadikan mereka di bawah tangan kalian. Maka siapa yang saudaranya berada di bawah tangannya (tanggungannya) maka jika dia makan berilah makanan seperti yang dia makan, bila dia berpakaian berilah seperti yang dia pakai, janganlah kalian membebani mereka sesuatu yang di luar batas kemampuan mereka. Jika kalian membebani mereka, maka bantulah mereka".

Dari kejadian sebagaimana yang terdapat dalam hadis, kita dapat mengambil pengertian bahwa Islam seseorang belum sempurna selama ia masih memiliki sifat yang kurang baik terhadap orang lain. Sifat tercela sebagaimana dalam hadis tertuang dalam kejadian seperti mencaci-maki orang lain dan memperlakukan tidak mengenakkannya. Oleh karena itu sebagai pribadi muslim yang baik, ia harus memberikan hak dan menghirmati orang yang berada di bawahnya, seperti dengan memberikan makanan, pakaian yang layak dan kenyamanan dalam aktivitas kesehariannya.

Terlihat jelas dalam hadis tersebut, sebuah teguran Rasulullah kepada sahabatnya yaitu Abu Dzar ketika ia perperangai dengan akhlakyang tidak dicontohkan oleh beliau, bahkan perangan yang kurang terpuji tersebut dikatakan oleh Rasulullah sebagai perangai peninggalan Jahiliyah, yang sudah sepatutnya untuk dijauhi dan dihindari dalam kehidupan kita sehari hari.

Apa yang kami ungkap dari hadis di atas merupakan refleksi bagi kita sebagai seorang muslim atau muslimah agar senantiasa menjaga diri, tidak sombong, menyesuaikan dalam pergaulan termasuk dalam berpakaian, dan menghargai sesama. Dengan kesadaran demikian, maka seseorang dalam berperilaku terutama dalam hal fashion maka ia akan jauh menjaga diri dan kehormatannya, tidak sekedar mengikuti mode saja. Semoga bermanfaat (Hadis dikutip dari Sahih Bukhari Hadis No.9 Bab Perbuatan Maksiat Merupaka Kebiasaan Jahiliyah)

Tuesday, October 28, 2014

Tingkatan Dzikir dalam Tasawuf

Tingkatan Dzikir dalam Tasawuf


Pengertian 

Sahabat syariatkita, dilihat dari sudut pandang etimologis dalam kamus besar bahasa Arab Indonesia hasil karya Ahmad Warson Munawir, disebutkan bahwa dzikir berasal dari kata:

 (ذ كر-  ذ كرا- تذكارا) 

yang berarti menyebut, mengucapkan, menuturkan. Penggunaan kata "zikir" itu sendiri sejatinya merupakan istilah yang sudah sangat familiar di kalangan muslimin. Sedangkan dzikir di dalam Al-Qur’an, dapat diartikan dalam beberapa pengertian sebagai berikut:
  1. Mengingat nikmat Allah dengan menghadirkan Allah dalam kehidupan segala kita
  2. Menjalankan kewajiban kita sebagai hamba Allah, dan
  3. Mengingat Allah dengan menghadirkan-Nya dalam hati, baik disertai dengan ucapan lisan ataupun tidak.
Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Surah Al-Baqarah ayat 152:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلا تَكْفُرُونِ

“Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.    Dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)Ku”

Dari pengertian tersebut dapat diambil pengertian bahwa orang yang melakukan dzikir kepada Allah berarti ia menyebut, mengingat, dan menghadirkan Allah Subhanahu Wata'ala di dalam pikirannya. 

tingkatan dzikir dalam rasawuf


Orang yang dzikir kepada Allah Subhanahu Wata'ala, supaya dapat sampai pada derajat "wushul" atau makrifat kepada Allah, maka ia harus bisa memurnikan dzikirnya tersebut. Artinya tidak mempersekutukan Allah dengan makhluknya. Dan dzikir yang semacam ini salah satunya dapat ditempuh yaitu melalui jalur tasawuf. Dengan demikian, tasawuf identik sekali dengan mendekatkan diri dengan Allah Subhanahu Wata'ala.

Orang-orang yang menempuh jalur tasawuf biasanya ia senantiasa melakukan pendekatan diri kepada Sang Maha Pencipta dalam segala aktifitasnya; dalam kondisi terjaga atau tidur, dzikir melalui lisan atau di dalam hati. jikalau hamba-Nya sudah berdzikir kepada Allah, maka Allah mengingat hamba-Nya yaitu dengan memberikan balasan kebaikan kepada mereka dan mengangkat derajatnya.

Orang yang mendekatkan diri kepada Allah, dengan banyak mengingatnya, pastilah di dalam hatinya akan tertanam ketenangan jiwa. Dengan memuji Allah pula, maka seseorang akan terlepas dari perilaku yang dapat mengkotori hatinya dengan perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama dan perbuatan-perbuatan maksiat lain. Dengan demikian di dalam hatinya ia merasa tiada sesuatu yang lebih dibandingkan Sang Maha Pencipta alam semesta yaitu Allah Subhanahu Wata'ala. Upaya tersebut diantaranya dapat ditempuh melalui memperbanyak dzikir; dengan memuji dan menyanjungnya

Tingkatan Dzikir dalam tasawuf

Sebagai seorang muslim, dalam melakukan pendekatan diri kepada Allah Subhanahu Wata'ala, hendaknya dzikir diamalkan secara rutin sesuai ketentuan yang disampaikan oleh mursyid atau guru yang membimbingnya. Rutinitas dzikir semacam ini lazimnya kita sebut dengan istilah wirid

Wirid yang merupakan ibadah mahdhah; yaitu suatu bentuk ketaatan yang langsung kepada Allah SWT. tentunya tidak bisa terlepas dengan apa yang biasanya telah dicontohkan oleh Baginda Agung Rasulullah SAW. Artinya, wirid atau ubudiyah tersebut tidak boleh dikarang-karang, tetapi harus sesuai dengan yang telah dicontohkan oleh beliau SAW. seperti membaca dalam tasbih (subhanallah), membaca tahlil (la-ilahaillallahu), membaca tahmid (alhamdulillah) dan lain sebagainya. dan hal ini semua tentunya dapat kita pelajari dari mursyid dan guru-guru kita, sehingga dengan bimbingan sang mursyid kita dapat wushul kepada Allah Subhanahu Wata'ala.

Menurut  Asep Usman, tingkatan dzikir dalam tasawuf dapat dikelompokkan ke dalam dua macam, yaitu:
  1. Dzikir jaliy 
  2. Dzikir Khofi, dan
  3. Dzikir hakiki
Dzikir jaliy disebut juga dengan dzikir lisan, yaitu dzikir kepada Allah yang di ucapkan dengan lisan, baik dengan suara keras maupun pelan. Sedangkan dzikir khofiy disebut juga dzikir qalbi. Yaitu zikir yang hanya dilafalkan di dalam hati, tanpa suara ataupun kata-kata. 

Dzikir jaliy atau yang dilakukan dengan terang atau terlihat oleh kasat mata. yaitu dimaksudkan untuk mengingat Allah SWT melalui perantara ucapan lisan. Karena dengan ucapan lesan seseorang dapat lebih berkonsentrasi, terdengar oleh telinga dan disalurkan kepada hati sehingga rangkaian semacam ini akan dapat lebih membawa seseorang menjadi lebih khusyu' dalam beribadah kepada Allah. 

Dzikir jaliy biasanya banyak dilakukan oleh kaum muslimin yang masih dalam tingkatan awam (biasa disebut juga tingkatan salik atau murid). Kendati demikian, bukan berati orang yang sudah sampai mada maqom atau tingkatan khowas atau ma'rifat tidak melakukan dzikir yang sifatnya jaliy.

Adapun  dzikir khofiy adalah zikir yang dilakukan dengan khusyuk melalui ingatan hati, baik disertai dengan zikir lisan ataupun tidak. Orang yang sudah sampai level ini biasanya hatinya telah dipenuhi oleh ketenangan dan ketergantungan yang tinggi kepada Allah SWT. Ia akan selalu merasakan kehadiran Allah SWT dalam dirinya, kapan dan dimanapun ia berada. 

Adapun tingkatan dzikir yang paling tinggi adalah dzikir haqiqi. Dzikir hakiki merupakan  dzikir yang dilakukan dengan seluruh jiwa dan raga, lahir dan batin, kapan dan dimanapun berada. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim sebagai berikut:

عن ابى هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم: يقول الله عزّ وجل انا عند ظنّ عبدي بي وانا معه حين يذكروني ﻓﻲ نفسه ذﻛﺮﺗﻪ ﻓﻲنفسي وﺇن ذﻛﺮني في ملإ ذﻛﺮﺗﻪ في ملإ خير منهم وﺇن تقرب ﺇﻟﻰﱠشبرا تقربت ﺍﻟﻴﻪ ذراعا. وﺇن تقرب ﺇﻟﻰﱠ ذراعا تقربت ﺍﻟﻴﻪ باﻋﺎ وإن أتاني يمشي أتيته هرولة

“Dari Abu Hurairah ra. dia berkata, Rasulullah SAW bersabda,  “Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung berfirman : “Aku menurut sangkaan hamba-Ku, Aku bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Apabila dia mengingat Aku dalam batinnya maka Aku mengingat dia dalam batin-Ku. Dan apabila dia mengingat Aku dalam keramaian maka Aku akan mengingatnya yang lebih baik dari itu. Apabila dia mendekati Aku sejengkal maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan maka akan Aku sambut dia dengan berlari-lari kecil." ( HR. Muslim).

Semua uraian tersebut di atas menunjukkan begitu pentingnya dzikir dalam tasawuf. Ia merupakan pintu gerbang utama untuk mencapai derajat makrifat kepada Allah Subhanahu Wata'ala. Hal ini dikarenakan mengingat Allah pokok dari segala bentuk ketaatan yang harus dilakukan oleh setiap manusia. Sehingga dengan itu semua manusia dapat mencapai derajat yang tinggi di harapan Sang Mahasuci Illahi Robbi.


Ref:
Abubakar Aceh, 1996. Pengantar Ilmu Tarekat, Solo: Ramadhani
Ash-Shiddieqy, Hasbi, 1997. Pedoman Dzikir dan Doa, Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 

Dapatkan Artikel Kami Gratis

Ketik email Anda di sisi:

Kami akan mengirimkannya untuk Anda

Quality Content