Islam dalam Pengambilan Keputusan

Islam adalah agama yang "Rahmatan Lil 'Alamin", keberadaanya membawa kedamaian bagi umat semesta alam. Hal ini dapat kita lihat diantaranya dalam pengambilan keputusan kita dilarang dalam kondisi labil.

Kebenaran yang Dilematis

Kebenaran dalam beberapa hal ternyata tidak selalu berdampak baik bagi pelakunya. Dalam konteks ini kita harus tetap menyampaikan kebenaran tersebut sekalipun dilematis buat kita

Islam dan Olah Raga

Disebutkan bahwa, "Orang mukmin yang kuat lebih baik dan dicintai oleh Allah SWT., daripada mukmin yang lemah" So, keep healty, keep financial and pray

Lengkapilah Agamamu dengan Menikah

Salah satu ibadah yang enak dan berpahala banyak adalah melangsungkan pernikahan. Bagaimana tidak, karena nikah merupakan salah satu sunah para rasul "Sunanun min Sunanil Mursalin"

Memilih Teman

Teman menjadi orang yang paling mewarnai hidup kita, baik deri segi sikap tindakan dan sikap mental seseorang. Olehkarena itu Islam mengajarkan agar dalam bergaul kita benar benar berhati-hati karena "Al-Mu'asyarotu Muatsiroh"

Monday, March 30, 2020

Hubungan Fiqih dan Tasawuf dalam Aqidah Islam

Hubungan Antara Fiqih dan Tasawuf dalam Aqidah Islam


Sahabat syariatkita, fikih sejatinya merupakan suatu tatanan yang mengatur kita dalam manjalankan syariat. Dimana permasalahan dan tatacara dalam beragama semuanya sudah diatur di dalam fiqih. Sedangkan Tasawuf merupakan ilmu menjernihkan hati, yang berperan memperhalus kualitas suatu ibadah, sehingga dalam menjalankan syariat Islam kita dapat terhindar dari apa yang dinamakan dengan syirik, ujub, takabur dan sum’ah.

Peranan Fiqih dan Tasawuf dalam Islam

Peranan fiqih yaitu menata ibadah dan muamalah dari segi dzohir atau luar, sedangkan tasawuf menata dari dalam diri atau dari hati. Ibarat suatu badan usaha, dikatakan legal manakala telah memiliki surat ijin operasional. Ibarat pengemudi, ia dikatakan memahami ketentuan berkendara manakala telah mengantongi SIM. Dalam syariat khuhusnya masalah ibadah dan muamalah, fiqih-lah yang memiliki legitimasi terhadap sah atau tidaknya ibadah seseorang. Akan tetapi kualitas pelayanan suatu badan usaha, ramah atau tidaknya pelayanan, bagaimana ia mendapatkan tender apakah dengan cara yang halal atau justru dengan cara menyuap panitia lelang, ini menjadi domain tasawuf. 

hubungan antara fiqih dan tasawuf dalam aqidah Islam


Begitu pula seorang pengendara, ketika ia berkendara di jalanan apakah ia akan mematuhi rambu-rambu lalu lintas hanya ketika ada polisi saja, apakah ia akan berjalan pelan manakala terdapat banyak kerumunan masa terutama orang-orang tua, dan ataukah ia akan menuntun dan mematikan mesin motornya manakala ia berjalan di perumahan sedangkan waktunya sudah larut malam. Ini semua tentunya menjadi domain tasawuf dan tasawuflah yang memiliki legitimasi dalam masalah etika dan estetika dalam beribadah dan bermuamalah. 

Lantas bagaimana dengan orang-orang yang mengatakan, “Kita kembali langsung kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah?” Baca dan klik artikelnya di sini.

Ketika fiqih memegang legitimasi dari segi hukum, tasawuf memegang kendali atas kualitas ibadah (khusyu’ tidaknya sholat, ikhlas tidaknya sedekah seseorang), maka dikenallah istilah yang dinamakan syariah, toriqoh dan hakikat sebagaimana dikemukakan oleh Imam Atho’illah dalam kitabnya; Al-Hikam. Orang yang hanya melihat ibadah dari maqom syariat saja karena belum sampai pada maqom thoriqoh, maka biasanya ia akan menganggap orang yang sudah sampai maqom tasawud beribadahnya menyimpang. Begitu pula sebaliknya, orang yang hanya melihat dari segi tasawuf tanpa ia mendalami makna tasawuf sendiri akan melihat orang yang dalam tahapan syariat adalah orang yang kurang beretika di dalam ibadahnya.

Hal tersebut dikarenakan, syariat dalam beragama memegang peranan yang simpel saja. Seperti sholat hanya dengan mengenakan penutup aurat saja, yaitu batas antara lutut dan pusat ia secara fiqih sudah dianggap sah, sedangkan dalam kacamata tasawuf orang yang demikian merupakan orang yang tidak memiliki etika dikarenakan ketika kita menghadap seorang pejabat saja harus mengenakan pakaian baik yang kita miliki apalagi sholat yang notabene adalam menghadap Sang Maha Pencipta. Sehingga diperlukan perpaduan antara syariat dan tasawuf dengan ilmunya masing-masing, jadi tidak asal-asalan saja. 
   

Sinergitas peran dan posisi fiqih dan tasawuf dalam Islam

Syariat dalam ibadah diibaratkan sebagai perahu atau kapal, toriqoh diibaratkan sebagai lautan dan hakikat atau haqiqoh diibaratkan sebagai mutiara. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Atho’illah dalam kitabnya:

وَشَرِيْعَةٌ كَسَفِيَنةٍ وَالطَّارِقَةُ كَاالْبَحْرِ ثُمَّ الْحَقِيَقُة دُرٌّ غُلَى

"Syariat laksana bahtera, thoriqoh laksana lautan dan haqikat (haqiqoh) laksana untaian mutiara"

Dalam hal ini seseorang yang hendak mendapatkan mutiara sudah barang tentu ia harus menggunakan bahtera. Setelah ia memiliki bahtera barulah ia dapat berselancar mengarungi dalamnya samudera dan mengambil mutiara dari dalam lautan. 

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang sering berargumen tanpa dilandasi ilmu agama dengan mengatakan, “Saya kan bisa mendapatkan mutiara sebanyak dan sekehendak saya hanya dengan pergi ke toko mutiara saja.” Baca artikelnya klik di sini.

Akan tetapi kita juga perlu ingat bahwasanya sampai kapanpun yang namanya perahu tidak akan bisa berlayar manakala hanya ditaruh di daratan, tanpa membawanya ke lautan. Setelah sampai ke lautan ia haus menebar jaring, memasang alat-alat yang diperlukan agar ikan ataupun mutiara yang menjadi bidikannya dapat berhasil ditangkap dan dinaikkan ke atas kapal. Setalah hal ini dilakukan maka barulai ia dapat merasakan enaknya ikan yang ia tangkap, mendapatkan indahnya mutiara yang berhasil ia ambil dari dalam lautan. Begitulan hubungannya antara syariat, thoriqoh dan haqiqoh (hakikat). 

Orang yang telah mengikrarkan dirinya dengan kalimah syahadat, bahwasanya tidak ada Ilah (Tuhan) yang Pantas disembah selain Dia, dan bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam adalah utusanya dengan mengucapkan:

اشهد ان لا اله الا الله واشهد ان محمدا رسول الله

Maka menurut Imam Atho’illah ia diibaratkan seperti orang sudah memiliki bahtera atau kapal. Akan tetapi ia tidak akan bisa menjalankan syariat agama Islam manakala ia tidak bisa menjalankan kapal yang ia miliki. Setelah ia berhasil menjalankan kapalnya di lautan (yang dalam posisi ini disebut toriqoh), maka ia pun harus terus menjaga kapalnya agar senantiasa dalam keadaan aman, tidak bocor di tengaah lautan dan tidak pecah saat dihantap badai. Ia juga harus memastikan semua kendali di dalam kapal berfungsi dengan baik, bahan bakarnya cukup serta ada orang atau nahkoda yang telah tersertifikasi yang dapat mengemudikan kapal tersebut. Sehingga dalam kapal atau syariah haruslan dilengkapi dengan Standar Operating Procedure (SOP) yang baik. Inilah gambaran kompleksitas syariah yang mengatur sedemikian banyaknya cakupan ibadah dan muamalah kita dalam kehidupan kita sehari-hari. 

Selanjutnya setelah kapal dipastikan dapat berlayar sesuai dengan SOP, maka agar ia dapat menghasilkan tangkapan ikan atau mendapatkan mutiara dari dalam lautan (yang dalam hal ini yaitu wushul dengan Allah Subhanahu Wata’ala) maka sudah seharusnya ia memahami karakteristik lautan, kedalamannya, di wilayah mana saja yang terdapat gunung es agar kapalnya tidak menabrak, serta di daerah mana saja yang terdapat kandungan mutiara dan ikan yang bisa ia tangkap. Sehingga dalam hal ini seseorang yang hendak wushul kepada Allah haruslah memahami ilmu toriqoh.

Dengan demikian dalam menjalankan syariat Islam, mutlak diperlukan sinergitas antara fiqih dan tasawuf serta peran masing-masing. Jadi tidak parsial atau berjalan sendiri-sendiri. Dengan sinergitas maka beribadah dapat berjalankan sesuai tuntunan akidah Islam yang benar, dan juga dalam pelaksanaan tidak kelihatan kaku.

Demikian semoga bermanfaat, mungkin Anda juga tertarik dengan artikel kami yang lain:

Source:
Kitab Al-Hikam Karya Imam Ibnu Atho'illah As-Skandary

Saturday, March 28, 2020

Cara Mengendalikan Stres

Stres dan Upaya Penanggulangannya



Sahabat syariatkita, himbauan untuk tetap tinggal di rumah masing-masing (stay at home) dalam upaya meminimalisir dan menangkal penyebaran covid-19 ini kian santer di gaungkan. Dan hal ini tidak terjadi di indonesia saja, melainkan di seantero jagad raya. Dampak yang muncul diantaranya yang dapat kita lihat dan yang mungkin kita rasakan pada diri kita salah satunya adalah stres. 

Stressor atau pemicu munculnya stres pada diri seseoramg tiada lain dikarenakan adanya dis-continuitas atau putusnya mata rantai kebiasaan yang dilakukan oleh manusia, yang mana hal tersebut terjadi sangat cepat, di luar planing, dan menuntut harus di lakukan.

Dalam artikel ini akan saya jelaskan secara detil upaya penanganan dan penanggulangan stres, agar kita tetap dalam kondisi stabil sehingga harapannya dengan kondisi stabil apapun yang terjadi pada diri dan lingkungan kita maka kita dapat menyikapinya dengan lebih arif dan bijaksana.

Note: 
Mohon dipahami susunan materinya agar poin-poin penanganan dan penanggulangan stres dapat kita lakukan dengan optimal:

1. Pengertian stress
2. Faktor-faktor pemicu stress
3. Tahapan stres
4. Reaksi tubuh terhadap stres
5. Penanggulangan stres
6. Terapi dalam penanggulangan stres

Silahkan isikan komentar Anda di kolom komentar (kolom bawah) jika artikel ini bermanfaat, atau mungkin ada materi yang perlu didiskusikan lebih lanjut.

cara mengendalikan stres

A. Pengertian Stress

Stres adalah respon tubuh terhadap setiap hal baru yang sifatnya tidak spesifik. Perlu digaris bawahi ya, jadi sifatnya tidak spesifik. Pemicu (stressor) tersebut selanjutnya direspon oleh syaraf-syaraf otak dan disalurkan ke seluruh anggota  tubuh. Faktor pemicu ini yaitu bisa berupa hal yang sifatnya positif atau negatif, menyenangkan atau sebaliknya.

Sekilas dari pengertian di atas nampaknya tidak ada permasalahan yang cukup berarti pada diri kita, artinya biasa-biasa saja. Karena memang itulah keadaanya. Akan tetapi stigma stres yang selama ini kita pahami adalah, bahwasanya stres cenderung bermakna konotatif, dimana kecenderunganya lebih ke arah yang negatif, sekalipun stressor atau stimulusnya adalah hal yang positif. Saya contohkan seperti ada orang yang stres karena ditinggal mati istrinya, istri selingkuh sehingga suami bunuh diri.

Sehingga stigma yang perlu kita bangun adalah, bagaimana megarahkan pola pikir kita yaitu dengan memahami makna stres agar dalam bertindak selalu ada hal yang sifatnya solutif dan berimplikasi baik terhadap disi kita. Terutama dalam menyikapi kebijakan baru terkait penanganan covid-19 atau virus korona yang melanda dunia saat ini. Karena mau bagaimanapun, stressor atau stimulus akan selalu menuntut tubuh kita untuk melakukan penyesuaian atau adaptasi. Dan disinilah pentingnya kita memenej stress agar “output yang dihasilkan selalu berimplikasi pada hal yang positif” terhadap diri kita.


B. Faktor-faktor Pemicu Stres

Sahabat syariatkita, sebagaina dijelaskan di atas bahwasanya pemicu stres (stressor) dapat berupa hal positif dan negatif. Akan tetapi jika kita gali lebih dalam, pastilah stressor atau stimulan tersebut sangatlah kompleks. Hal ini tentunya tidak terlepas dari profesi setiap orang, letak geografis, latar belakang budaya dan adat istiadat masing-masing.

Dari kompleksitas stressor yang sering muncul di masyarakat, dapat kita amati dari masalah-masalah sebagai berikut:

1. Masalah keuangan

Stressor utama yang sering muncul ditengan-tengah masyarakat adalah faktor keunga. Dimana hal ini merupakan espektasi yang lazimnya digadang-gadang oleh semua orang. Tak ayal dalam banyak problem muncul akibat stressor ini. Hal ini dapat terjadi manakala income atau output ekonomi seseorang lebih kecil daripada output yang dikeluarkan. Atau dengan bahasa lain tidak seimbangnya antara pemasukan dan pengeluaran.

2. Pekerjaan

Masalah pekerjaan ditengarai merupakan sumber stres kedua setelah masalah keuangan. Banyak orang yang menderita depresi dan kecemasan karena masalah pekerjaan terlalu banyak, pekerjaan tidak cocok, mutasi, jabatan, kenaikan pangkat, pensiun, kehilangan pekerjaan (PHK), dan lain sebagainya.

3. Masalah keluarga

Fenomena masyarakat modern dan industri seperti sekarang ini, ternyata berimplikasi pada semakin ramainya lembaga perkawinan, mediasi atau fasilitator/konselor keluarga dalam menangani berbagai kasus. Diantaranya yaitu dalam masalah perkawinan. Adapun salah satu faktor yang menyebabkan krisis perkawinan adalah tidak diamalkannya nilai-nilai keislaman dalam rumah tangga, sehingga banyak terjadi pertengkaran, percekcokan, perselingkuhan, dan berakhir pada perceraian. 

4. Problem keluarga (peran orang tua dan anak)

Peranan orang tua di era milenial seperti sekarang ini tidaklah semudah pada zaman dahulu. Ini disebabkan karena tatanan sosial dan kondisi ekonomi yang sudah sangat berubah. Mungkin karena zaman dahulu perkembangan dunia industri belum sepesat sekarang, sehingga tuntutan anak terhadap orang tua sederhana berbeda denga nsekarang, dimana anak menuntut hal-hal atau sesuatu yang kadang di luar kapasitas orang tuanya. Dan hal ini rentan memunculkan konflik sosial yang berdampak pada stressing yang negatif.

5. Lingkungan hidup

Dunia industri yang mulai merambah ke pelosok negeri selain berdampak positif terhadap peyerapan tenaga kerja daerahm, akan tetapi juga rentan menimbulkan permasalahan di sektor lain. Hal tersebut dapat kita lihat dari kondisi lingkungan sekita pabrik yang terdampak polusi akibat proses produksi yang berlangsung. Apalaghi bagi industri yang dengan berbagai alasan mereka belum bisa merelokasi dirinya di kawasan perindustrian yang telah ditetapkan oleh pemerintah, tentunya hal ini menjadi preseden buruk bagi lingkungan sekitar.

6. Hubungan interpersonal

Hubungan antara seseorang dengan orang lain; baik perorangan/individual atau antar kelompok sosial yang tidak harmonis merupakan sumber stres yang paling besar. Hubungan ini dapat terjadi antara teman dekat atau kekasih, sesama rekan kerja, antara atasan dan bawahan dan lain sebagainya.

7. Masalah hukum

Salah satu tidak stressor yang terjadi di masyarakat adalah tidak ditegakkannya supremasi hukum. Hukum yang tebang pilih, putusan yang tidak jujur merupakan ketidakadilan yang menjadi sumber stres seseorang. 

8. Fase perkembangan

Tahapan perkembangan baik fisik maupun mental seseorang (siklus kehidupan) turut pula menjadi faktor stressor. Sebagai contoh, perubahan dari kanak-kanak ke masa remaja, dari remaja menuju masa dewasa, menopause, dan usia lanjut. Siklus-siklus ini manakala tidak dapat dilalui dengan adaptasi yang baik baikpastilah akan mengakibatkan stresser bagi yang  bersangkutan.

9. Faktor penyakit fisik

Penyakit fisik terutama yang kronis dan atau cidera yang berakibat disfungsi salah satu anggota tubuh, tentunya dapat pula menyebabkan stres pada diri seseorang.

Dari berbagai macam stressor sebagaimana di atas, yang perlu kita pahami dan kita garis bawahi adalah, selalu ada hubungan korespondensial atau keterikatan antara orang yang mengalami stres dengan keadaan (situation) yang terjadi pada dir iseseorang. Dan hal inilah yang memiliki peranan penting terhadap terjadinya faktor pemicu stres (stressor) seseorang.

Dengan keanekaragaman stressor tersebut, tentunya akan menghasilkan stres yang berbeda beda antara satu orang dengan yang lain. Ini karena memang watak bawaan manusia sejak lahir, dimana manusia itu memang diciptakan serba “ngewohake” (red. Jawa) sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an:

إِنَّ اْلإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا. إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا. وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا. إِلاَّ الْمُصَلِّينَ. الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلاَتِهِمْ دَائِمُونَ. وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ.

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir, apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalat.” (Q.S. Al-Ma’arij : 19-23)

Karakter bawaan manusia yang serba “menyulitkan” itulah yang perlu kita waspadai. Sehingga stressor apapun yang mempengaruhi pada diri kita insya Allah kita tetap bisa mengkondisikan diri menjadi yang terbaik. Dan hal ini hanya dapat dilakukan manakala kita bersabar. Dijelaskan dalam Al-Qur’an:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ. 

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al-Baqarah : 155)


Kesimpulan:
  • Stres terjadi karena adanya faktor pemicu atau stimulus baik dari dalam diri kita ataupun karena faktor dari luar (stressor). 
  • Stimulus bisa berupa hal yang menyenangkan atau tidak menyenangkan
  • Stres adalah suatu pola reaksi fisiologis dan psikologis yang terganggu terhadap kondisi yang mengancam kemampuan seseorang untuk mengatasinya
  • Stres terjadi jika seseorang merasa tidak sanggup mengatasi permasalahan yang menerpa dirinya


C. Tahapan Stres

Berdasarkan pengalaman psikiater, para ahli membagi stres ke dalam enam tahapan. Dan pada setiap tahapannya, yang bersangkutan (stressi) ternyata mampu mengetahui sejumlah gejala-gejalanya.

Adapun tahapan-tahapan tingkat stres yang dialami oleh stressi sebagaimana dikemukakan oleh psikiater Robert J. Van Amberg, sebagai berikut:

Stres tingkat ke-1

Tahapan ini merupakan tingkat stres yang paling ringan, dan biasanya disertai dengan perasaan-perasaan sebagai berikut :

  1. Semangat tinggi
  2. Penglihatan tajam tidak melebihi biasanya
  3. Gugup berlebihan 
  4. Mampu menyelesaikan pekerjaan lebih dari biasanya


Tahapan ini biasanya menyenangkan dan seseorang lalu bertambah semangat, tanpa disadari bahwa sebenarnya cadangan energinya sedang menipis.

Stres tingkat ke-2

Dalam tahapan ini, dampak stres yang menyenangkan perlahan-lahan mulai menghilang dari diri seseorang. Perkembangan selanjutnyta diikuti oleh keluhan-keluhan dikarenakan cadangan energi tidak lagi cukup sepanjang hari. Adapun keluhan-keluhan yang sering dikemukakan sebagai berikut :

  1. Merasa letih sewaktu bangun pagi
  2. Merasa lelah sesudah makan siang
  3. Merasa lelah menjelang sore hari
  4. Mengalami gangguan pada sistem pencernaan (gangguan usus, perut kembung), terkadang jantung berdebar-debar
  5. Perasaan tegang, terutama terjadi pada otot-otot punggung dan tengkuk (belakang leher)
  6. Badan sudan tidak bisa santai/rileks.


Stres tingkat ke-3

Pada tahapan ini keluhan keletihan semakin nampak disertai dengan gejala-gejala :

  1. Otot-otot mulai terasa tegang
  2. Gangguan usus lebih terasa (sakit perut, mulas, sering ingin ke belakang)
  3. Perasaan tegang yang semakin meningkat
  4. Gangguan tidur (susah tidur, sering terbangun tengah malam dan sukar tidur kembali, atau bangun terlalu pagi)
  5. Badan terasa oleng, serasa mau pingsan akan tetapi tidak sampai jatuh pingsan


Pada tahapan ini, hendaknya penderita sudah harus berkonsultasi ke dokter ahli. Atau kalau tidak mau dapat mencoba sendiri dengan cara mengurangi beban pikiran, melakukan relaksasi dan beristirahat lebih banyak guna memulihkan suplai energi dalam tubuh.

Stres tingkat ke-4

Tahapan ini sudah menunjukkan keadaan yang lebih buruk yang ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Perasaan takut yang tidak dapat dijelaskan, tidak mengerti diketahui penyebabnya
  2. Kegiatan-kegiatan yang semula menyenangkan kini menjadi terasa menjenuhkan
  3. Kehilangan kemampuan untuk menanggapi situasi, pergaulan sosial dan kegiatan-kegiatan rutin lainnya
  4. Semakin sukar tidur, mimpi-mimpi menegangkan dan seringkali terbangun dini hari
  5. Kemampuan berkonsentrasi menurun tajam
  6. Perasaan negativistik; sering menyalahkan diri dan orang lain (serba salah)

Stres tingkat ke-5

Pada fase ini, biasanya stressi akan merasakan:
  1. Keletihan yang mendalam (physical and psychological exhaustion)
  2. Untuk pekerjaan-pekerjaan yang sederhana saja terasa kurang mampu
  3. Gangguan sistem pencernaan (sakit maag dan usus) lebih sering, sukar buang air besar atau sebaliknya feses encer dan sering ke belakang
  4. Perasaan takut yang semakin menjadi, mirip panik


Stres tingkat ke-6

Fase ini merupakan tahapan puncak atau fase gawat darurat. Sehingga tidak jarang penderita atau stressi dalam tahapan ini dibawa ke ICCU. Adapun gejala-gejala pada tahapan ini cukup mengerikan, seperti:

  1. Badan gemetar, tubuh dingin, keringat bercucuran
  2. Nafas sesak, (Jawa; megap-megap)
  3. Debaran jantung terasa amat keras, hal ini disebabkan zat adrenalin yang dikeluarkan, karena stres tersebut cukup tinggi dalam peredaran darah
  4. Tenaga untuk hal-hal yang ringan sekalipun tidak kuasa lagi, pingsan atau collaps.


Tahapan-tahapan stres sebagaimana di atas, jika kita amati setidaknya terdapat dua aspek yang terdampak; yaitu aspek fisik dan psikis. Aspek fisik berupa kelelahan, sedangkan aspek psikis berupa kecemasan dan depresi. Hal tersebut terjadi lantaran cadangan energi fisik dan mental senantiasa mengalami penurunan secara terus-menerus.

D. Reaksi Tubuh terhadap Stres

Aspek fisik dan psikis yang terdampak stres pada diri seseorang, lama kelamaan akan membawa pengaruh pada tekanan mental atau beban hidup seseorang (stressor psikososial). Sehingga dalam tahapan semacam ini kondisi fisik stressi juga akan mengalami perubahan. Hal ini dapat kita lihat dari :

Rambut

Stressi biasanya akan mengalami perubahan fisik warna rambut yang semula berwarna pekat (bisa hitam atau lainnya), lambat laun akan mengalami perubahan warna menjadi kecoklat-coklatan, kusam, rontok bahkan ubanan yang terjadi sebelum waktunya.

Mata

Penderita stres biasanya banyak mengalami gannguan penglihatan, seperti pandangan mata kabur. Hal ini disebabkan karena otot-otot mata mengalami kekenduran atau sebaliknya sehingga mempengaruhi fokus pada lensa mata.

Telinga

Pendengaran seringkali terganggu dengan suara berdengung (tinitus).

E. Langkah Penanggulangan Stres

Berdasarkan penjelasan tingkatan stres sebagaimana di atas, mulai dari tingkat yang paling ringan hingga tingkat yang paling berat, dapat diketahui bahwa reaksi tubuh stressi yang satu dengan yang lain dapat berbeda-beda dalam menanggapi stres. 

Karena perbedaan interpretasi atau perlakuan stressi terhadap stres yang dihadapi, maka perlu penanganan yang berbeda-beda pulai sesuai dengan gejala yang mungkin timbul. Adapun langkah awal yang bisa ditempuh antara lain:
  1. Melakukan identifikasi diri terhadap sumber-sumber atau gejala penyebab stres. Dengan demikian niscaya kita dapat lebih dapat menata emosi dan mengendalikan diri kita.
  2. Membina kedewasaan kepribadian melalui training-training, lembaga pendidikan dan pengalaman hidup yang pernah dijalani.
  3. Mengembangkan pola hidup sehat, seperti: Menyadari perbedaan antara keinginan dan kebutuhan, belajar mensyukuri dengan apa yang dimilikinya, makan secara teratur dan makan makanan yang bergizi, tidur secara teratur, kurang lebih 7-8 jam semalam, supaya dapat memulihkan segala keletihan fisik dan mental
  4. Berkonsultasi dan minta bimbingan kepada sahabat dekat, orang-orang yang lebih dewasa, psikolog, orang dewasa rohaninya dan sebagainya.
  5. Hindarkan sikap-sikap negatif yang dapat merugikan diri kita, seperti memberontak terhadap keadaan, sikap apatis, dan sering marah-marah. 
  6. Memperbanyak dzikir dan yukur atas limpahan nikmat dan karubia Allah SWT. Dengan memperbanyak dzikir, syukur dan mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta, niscaya kita akan dapat terhindar dari stres. Inilah inti pengendalian diri dari stres, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Ra’du ayat 28 :


الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ. 

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Al-Ra’du : 28)

Langkah identifikasi dan antisipasi dini terhadap penanggulangan stres yang sebagaimana diatas diharapkan dapat membantu stressi dalam menanggulangi stres yang dihadapinya. Akan tetapi penanganan dan tidankan tersebut seyogyanya disesuaikan dengan kondisi mental dan daya tubuh stressi.

F. Macam-macam Terapi Penanggulangan Stres

Terapi Spiritual (Islam) 

Tidak dapat dipungkiri, sumber ketenangan segala ketenangan adalah dzikir kepada Allah SWT. sebagaimana ayat di atas. Dala mhal ini islam tentunya tidak hanya mengajarkan masalah dunia saja melainkan juga masalah jangka panjang (akhirat), dan itu semua tentunya bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis. Sehingga terapi Islam mempunyai dua tujuan yaitu tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang. 

Tujuan jangka pendek terapi Islam adalah untuk menyembuhkan dan membebaskan manusia dari berbagai macam keluhan; baik fisik maupun psikis. Adapun tujuan jangka panjang terapi Islam yaitu untuk menumbuhkan kesadaran diri pada manusia dengan cara hidup yang Islami yang tercermin dari pola pikir, tingkah laku, iman yang meningklat yang ditandai dengan shalat, doa, dzikir dan puasa. 

Berikut ini beberapa terapi yang digunakan untuk menanggulangi stres menurut Islam:

a. Shalat

Shalat merupakan sarana dan media komunikasi seorang hamba dengan pencipta-Nya. Sehingga di dalam shalat terdapat kemampuan untuk mengurangi kecemasan karena di dalamnya terdapat lima unsur yaitu:

meditasi atau doa yang teratur, minimal lima kali sehari
relaksasi melalui gerakan-gerakan shalat
hetero atau auto sugesti dalam bacaan shalat
group-therapi dalam shalat jamaah, atau bahkan shalat sendirian minimal ada diri kita sendiri dan Allah.
Hydro therapi dalam mandi junub atau wudhu sebelum shalat

Shalat yang dilakukan dengan ikhlas dan khusyu’ niscaya akan dapat mendatangkan ketentraman jiwa manusia. Ketenangan itulah yang dapat meningkatkan ketahanan tubuh dan menghindarkan gangguan jiwa. Dengan shalat juga akan mendatangkan kebahagiaan, ketenangan hati dan pikiran, menghilangkan rasa cemas juga membawa perubahan fisik dan psikologis seseorang.  
.
b. Dzikir dan doa

Tidak diragukan lagi bahwa dzikir dan doa yang dilakukan secara berulang-ulang  dapat digunakan sebagai terapi. Hal ini dikarenakan dzikir sangat berguna bagi jiwa manusia yang dapat menghilangkan kesedihan, kesulitan dan rasa putus asa. Disebutkan dalam Al-Qur’an bahwad engan berdzikir atau mengingat Allah-lah hati akan menjadi tenang. Dalam hadis jug adisebutkan bahwa doa adalah pokok dari segala ibadah, doa juga sebagai senjata orang mukmin dalam menghadapi berbagaimacam problematika kehidupan. 

c.Puasa 

Puasa merupakan bentuk penyembuhan alami yang paling lama dikenal manusia. Sehingga rasulullah SAW bersabda:

صُوْمُوْا تَصِحُّوا

“Berpuasalah kalian agar sehat”

Banyak sekali manfaat yang terkandung dalam berpuasa terutama manfaat fisik. Hal ini dikarenakan selama berpuasa, aktifitas yang biasanya dilakukan oleh organ tubuh dalam mencerna makanan manjadi semakin berkurang yang memberikan kesempatan pada tubuh untuk menghilangkan bahan-bahan yang berlebihan dan memperbaiki sel-sel akibat metabolisme dalam tubuh. 

Terapi Relaksasi

Terapi dengan relaksasi biasanya diperuntukkan bagi orang yang mudah di sugesti (suggestible). Terapi dengan metode relaksasi yaitu dapat dilakukan dengan cara mengurangi ketegangan dalam tubuh yang sifatnya lebih individu.  Terapi ini berfungsi untuk mengurangi ketegangan yang dapat menimbulkan stres antara satu orang dengan orang lain. 

Metode ini juga dapat dilakukan secara mandiri, yaitu dengan cara melakukan istirahat secara teratur (santai sejenak), dengan tidur-tiduran, menonton televisi, jalan-jalan, rekreasi dan lain-lain yang dapat membuat kondisi tubuh menjadi rileks.

Terapi Suportif

Terapi ini bertujuan untuk memberikan dorongan moril dan semangat (motivasi) kepada seseorang agar tetap terjaga rasa percaya dirinya (self confidence). agar terhindar dari rasa putus asa, terhadap stimulus atau rangsangan yang mengarahkan dia menuju keterputus asaan.

Dengan demikian diharapkan stresse dapat kembali pulih rasa percaya dirinya, dan tertanan dalam dirinya bahwa ia mampu mengatasi setiap stressor (mtimulus) psikososial yang sedang dihadapinya. Dorongan dan motivasi tersebut yaitu dapat diperoleh dari lingkungan terdekat seperti keluarg, sahabat karib dan lain sebagainya. 


Demikian semoga bermanfaat, mungkin Anda juga tertarik dengan artikel kami yang lain:


Ref:
Hawari, Dadang. 1999. Al-Qur'an Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa, Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Prima Yasa
Hawari, Dadang. 2004. Manajemen Stres, Cemas, dan Depresi, Jakarta: FKUI
Sholeh, Moh dan Musbikin, Imam. 2005. Agama Sebagai Terapi Telaah Menuju Ilmu Kedokteran Holistik, Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Sangkan, Abu , 2005. Pelatihan Sholat Khusyu’, Jakarta: Baitul Ihsan

Thursday, March 26, 2020

Landasan Tawakal

Antara Tawakal dan Ilmu

Faktor pendorong tawakal

Sahabat syariatkita, dalam posisi serba tidak menguntungkan (dari berbagai aspek) kecenderungan manusia mendekatkan diri kepada Allah Sang Pencipta merupakan momentum yang selayaknya dan seharusnya dilakukan. Generasi milenial menyebutnya dengan ungkapan “kuat dilakoni ora kuat tinggal ngopi” nampaknya kata-kata ini mewakili kepasrahan seseorang dalam posisi ketidakberdayaannya menghadapi kondisi yang menghimpitnya.

"Pelajari makna tawalkal lebih dalam"

Kendati demikian, yang perlu kita waspadai adalah apakah kepasrahan kita menghadapi situasi sudah sesuai alur syariat sehingga kita lebih bisa dekat dengan Allah Subhanahu Wata’ala. Atau justru berbanding terbalik yang berarti seolah-olah kita dalam posisi kepasrahan akan tetapi justru berada di jalur setan sehingga kita berbuat kemaksiatan dengan Allah Subhanahu Wata’ala karena ia merasa sudah berusaha dan berdoa tapi kondisinya tidak kunjung membaik pula. (mudah-mudahan kita tergolong hamba yang mendapatkan nikmat tercukupi kebutuhan dunia kita dan bersyukur dan mampu tawakal ketika ditimpakan musibah dengan bersabar dan berserah diri kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Amin..)

landasan tawakal


Ilmu Sebagai Landasan Tawakal

Menurut Imam Ghazali orang yang senantiasa berserah diri kepada Allah dalam segala urusannya setelah ia merencanakan dengan baik, menjalankanya dengan maksimal dam menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah Subhanahu Wata’ala sesungguhnya ia telah berada diantara sekian pintu dari pintu-pintu iman kepada Allah Subhanahu Wata’ala. 

Semua pintu-pintu iman itu tidak akan tertata baik dan seorang tidaklah mampu masuk kedalamnya melainkan dengan ilmu. Dengan demikian tawakah atau sikap pasrah seseorang terhadap Allah Subhanahu Wata’ala berbuah manis manakala didasari ilmu.

Tawakal dengan dilandasi ilmu dan amal yang menjadi buahnya serta segala sesuatu yang dapat membuahkan amal perbuatan, maka itulah yang dimaksudkan dengan Tawakal yang sesungguhnya. Ilmu yang melandasi kepasrahan seseorang, inilah yang merupakan pokok dari tawakal yang sebenarnya. Hal ini tentunya dikarenakan ketakwaan merupakan salah satu pintu keimanan kita kepada Allah Subhanahu Wata’ala, sedangkan iman sendiri perlu adanya at-tashdiq (membenarkan) kepada Allah Subhanahu Wata’ala, dan hal ini tidak bisa diraih kecuali dengan ilmu.

"Tawakal adalah kunci keberhasilan yang terlupakan"

Menurut Imam Ghazali apabila cahaya ilmu memancar kuat dalam hati seseorang, berarti ia telah sampai pada level yang disebut yakin. Dan pintu-pintu yakin itu hanya bersumber dari tauhid, yaitu kita meng-esakan Allah Subhanahu Wata’ala dalam segala ucapan dan perbuatan; yaitu dengan menyakini dengan sepenuh hati bahwa "laa ilaaha illa allahu wahdahu laa syariika lahu". 
لاَاِلَهَ الاّ الله وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ

"Tidak ada Tuhan kecuali Allah sendiri, tidak ada sekutu bagi-Nya"

Lebih lanjut Imam Al-Ghazali mengajarkan kepada kita bahwa jika iman sudah menyatu dengan kekuatan hati maka orang tersebut tidak akan berat menghayati ucapan, "lahul mulku" (bagi Allah adalah kerajaan)dilanjutkan dengan ucapan, "lahul hamdu" (bagi Allah segala puji) yang senantiasa menjadi landasan bersikap dan bertindak seseorang.

Kelengkapan interpretasi kedalaman ketawakalan seseorang manakala telah dilandasi dengan kalimat:

لاَاِلَهَ الاّ الله وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ

"Tidak ada Tuhan melainkan Allah Yang Maha Esa. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan, dan bagi-Nya segala puji. Dia adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu".

Menurut Imam Ghazali apabila kalimat tauhid telah terpatri dalam hati sanubari seseorang dan diaplikasikan dalam amal perbuatannya, maka telah sempurnalah imannya. Dan inilah landasan dan pokok tawakal yang sebenar-benarnya. 

Source:
Ihya' 'Ulum ad-Din, Dar al-Fikr, Beirut

Demikian semoga bermanfaat, mungkin Anda juga tertarik dengan artikel kami yang lain:


Wednesday, March 25, 2020

Biografi Imam Malik Lengkap

BIOGRAFI IMAM MALIK 

 

NAMA DAN KEMULIAN NASAB IMAM MALIK


Beliau adalah Abu Abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amr bin Haris bin Gaiman bin Kutail bin Amr bin Haris al Asbahi. Dikenal Imam Mamik; sang perawi hadis dzobtut-tam dan tsiqqoh, sehingga karya beliau menjadi sangat fenomenal hingga saat ini. Beliau lahir di kota Madinah pada tahun 712 M dan wafat tahun 796 M.

Sebagaimana tokoh Arab yang lain, beliau berasal dari keluarga yang sangat terhormat, berstatus sosial tinggi, hingga ke kakek-kakek beliau. Kakek atau leluhur Imam Malik yaitu berasal dari Yaman, namun setelah nenek datuk-datuknya memeluk agama Islam, mereka pindah ke kota Madinah. Kemuliaan nasab Imam Malik menjadi sempurna ketika kakek beliau yang pertama memeluk agama Islam beliau bernama Abu Amir, tepatnya yaitu pada tahun ke-2 setelah Nabi Muhammad SAW hijrah menuju Madinah. Pada saat itu Madinah merupakan kota ilmu yang sangat terkenal, tak ayal ketika kakek-kakek beliau juga sangat berilmu karena tinggal di lingkungan yang sangat mendukung keilmuan saat itu. Sehingga tidak heran jikalau kakek beliau merupakan ulama terpandang di kota Madinah pada saat itu. 

biografi imam malik lengkap

ALIM SEJAK KECIL

Dalam usia beliau yang masih relatif muda, Imam Malik ternyata telah menguasai banyak disiplin ilmu. Kecintaan beliau terhadap ilmu menjadikan hampir seluruh hidupnya diabdikan dalam dunia pendidikan. Begitu alimnya Imam Malik sampai-sampai tidak kurang dari empat kepemimpinan khalifah mulai dari khalifahi Al-Mansur, Al-Mahdi, Hadi Harun, dan Al-Ma'mun, tercatat pernah menjadi murid beliau. Selain itu ulama besar seperti Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi'i pun pernah menimba ilmu dari Imam Malik. Belum lagi ilmuwan dan para ahli lainnya. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa murid beliau yang terkenal mencapai 1.300 orang.

Kendati beliau telah alim sejak kecil, akan tetapi sebagai ahlul ilmi beliau tidak mendapatkan serta-merta ayau sekonyong-konyong. Disebutkan dalam pengembaraan beliau mencari ilmu, Imam Malik diliputi oleh pengorbanan yang sangat luar biasa. Diriwayatkan sampai-sampai beliau rela mengorbankan apa saja demi ilmu yang beliau pelajarinya. Bayangkan sekaliber ulama besar Imam Malik ternyata beliau sampai harus rela menjual tiang rumahnya hanya untuk membayar biaya pendidikannya.


GURU-GURU IMAM MALIK

Sebagai ulama’ ahli hadis, beliau pertakali belajar dari kakeknya yang merupakan ulama ahli hadis Beliaupun turut menekuni pelajaran hadits kepada ayah dan paman-pamannya. 

Selain pada kakeknya, Imam Malik juga berguru kepada ulama-ulama terkenal di zamannya. Diantara guru-guru beliau yangterkenal adalah:

  • Nafi' bin Abi Nuaim
  • Ibnu Syihab az Zuhri
  • Abul Zinad
  • Hasyim bin Urwa
  • Yahya bin Said al Anshari, dan 
  • Muhammad bin Munkadir. 

Selain itu beliau juga berguru kepada Abdurrahman bin Hurmuz; ulama yang hidup di masa tabi'in ahli hadits, fikih, fatwa dan ilmu jadal (perdebatan). beliau juga berguru kepada Imam Jafar Shadiq dan Rabi Rayi.

KETEGASAN DAN KEDISIPLINAN IMAM MALIK

Karakteristik daripada pengajaran Imam Malik yang kita ketahui adalah disiplin, ketentraman, dan rasa hormat murid kepada gurunya. Prinsip ini senantiasa dijunjung tinggi oleh beliau sehingga beliau tidak segan-segan menegur keras murid-muridnya yang melanggar disiplin dan ketentuan yang telah ditetapkan oleh beliua. Kendati beliau orang yang tegas dan disiplin dalam menyampaikan ilmu, bukan berarti beliau adalah orang yang kasar dan pemarah. Melainkan beliau Imam Malik adalah orang yang sangat ramah dan penuh kasih sayang. Dikisahkan pada suatu saat ketika Khalifah Mansur sedang membahas sebuah hadits disampaikan dengan nada agak keras. Sang imam marah dan berkata, ''Jangan melengking bila sedang membahas hadits Nabi.'' 

"Seyogyanya Muridlah yang mendatangi sumber ilmu yaitu guru, bukan malah guru yang datang menjemput sang murid; Imam Malik"

Sikap tegas Imam Malik bukan bukan hanya untuk masyarakat kecil atau biasa saja, melainkan beliau tegas pula terhadap penguasa atau pemerintahan yang nyata-nyata perangainya menyimpang dan tidak sejalan dengan aqidah Islamiyah. Apapun resikonya, Imam Malik tetap menentang tanpa takut risiko yang dihadapinya. 

Pernah suatu saat Ja'far; gubernur Madinah saat itu yang masih keponakan Khalifah Abbasiyah; Al Mansur, meminta kepada seluruh penduduk Madinah melakukan bai'at (janji setia) kepada khalifah. Namun, Imam Malik yang saat itu baru berusia 25 tahun merasa tidak mungkin penduduk Madinah melakukan bai'at kepada khalifah yang tidak disukai oleh warganya. Ia pun mengingatkan gubernur tentang tak berlakunya bai'at tanpa keikhlasan seperti tidak sahnya perceraian yang dilakukan karena terpaksa. 

Ja'far meminta kepada Imam Malik agar tidak menyebarluaskan pandangannya tersebut kepada masyarakat, akan tetapi beliau ptetap pada prinsipnya. Gubernur Ja'far merasa terhina sekali. Ia pun memerintahkan pengawalnya menghukum dera Imam Malik sebanyak 70 kali. Dalam kondisi berlumuran darah, sang imam diarak keliling Madinah dengan untanya. Dengan peristiwa ini, Ja'far seakan mengingatkan kepada seluruh masyarakat bahkan kepada ulama yang mereka hormati, jika tidak ada hal yang dapat menghalangi kehendak sang penguasa.

Ketegasan beliau juga terlihat ketika Khalifah Bani Abbasiyyah; Harun Al-Rasyid, tertarik mengikuti ceramah Kitab Beliau Al-Muwatta'. Dalam hal ini, khalifah tidak hadis di majlis Imam Malik akan tetapi beliau mengutus seorang memanggil Imam Malik agar datang ke rumahnya namun Imam Malik memberikan nasihat kepada Khalifah Harun, ''Rasyid, dengan bertaka, “leluhur Anda adalah orang yang selalu melindungi pelajaran hadits, mereka amat menghormatinya. Bila sebagai khalifah Anda tidak menghormatinya, tak seorang pun akan menaruh hormat lagi. Manusia yang mencari ilmu, sementara ilmu tidak akan mencari manusia.''

Mengetahui kelakuan Ja’far; gubernur Madinah yang masih keponakan Khalifah Mansur, yang berlaku semena-mena kepada rakyatnya terutama kepada Imam Malik, khalifah Mansur-pun segera mengirim utusan untuk menghukum keponakannya dan memerintahkan untuk meminta maaf kepada sang imam. Untuk menebus kesalahan itu, khalifah meminta Imam Malik agar bermukim di kota Baghdad dan menjadi salah seorang penasihatnya. Sebagai fasilitas khalifah juga mengirimkan uang sebesar 3.000 dinar untuk keperluan perjalanan sang imam. Kendati demikian, hal ini ditolak oleh Imam Malik lebih suka tidak meninggalkan kota Madinah. Hingga akhir hayatnya, ia tak pernah pergi keluar Madinah kecuali untuk menunaikan ibadah haji. 

KARYA MONUMENTAL IMAM MALIK

Kitab Al-Muwatta' adalah kitab hadis karangan Imam Malik yang dihimpun dari sumber hadis-hadis sahih pilihan. Karya beliau dijadikan rujukan di seantero dunia pendidikan terutama di lingkungan pesantren. Al-Muwatta’ menjadi rujukan penting, khususnya di kalangan pesantren dan ulama kontemporer. Karya terbesar Imam Malik ini dinilai memiliki banyak keistimewaan. Ia disusun berdasarkan klasifikasi fikih dengan memperinci kaidah fikih yang diambil dari hadits dan fatwa para sahabat. 

Dunia Islam mengakui Al-Muwatta' sebagai salah satu karya terbaik yang tak ada duanya. Hal tersebut dikarenakan kitab Al-Muwatta’ merupakan kitab dengan sanad hadis pilihan yang mana sebelumnya kitab ini memuat 10 ribu hadits. Akan tetapi setelah melakukan penelitian lebih mendalam terhadap sanad dan rawi hadis Imam Malik hanya memasukkan 1.720 hadis saja. 

Selain kitab Al-Muwatta', Imam Malik juga menyusun kitab yang bernama Al-Mudawwanah Al-Kubra, yaitu kitab yang berisi fatwa-fatwa dan jawaban Imam Malik atas berbagai persoalan. 

PENINGGALAM IMAM MALIK

Tidak hanya karya monumental, Imam Malik juga meninggalkan warisan yang dijadikan sebagai pedoman dan rujukan dalam menjalankan syariat Islam. Tinggalan tersebut adalah pandangan fikih yang dijadikan rujukan keagamaan di kalangan Islam Sunni, yang disebut sebagai Mazhab Maliki. Selain fatwa-fatwa Imam Malik dan Al Muwatta', kitab-kitab seperti. 

Madzhab Maliki selain dikenal dengan konsistensinya dalam memegang teguh hadits sahih sebagai rujukannya, mazhab ini juga dikenal amat mengedepankan aspek kemaslahatan dalam menetapkan hukum. Urutan sumber hukum yang dikembangkan dalam Mazhab Maliki adalah Al-Qur'an, Sunnah Rasulullah SAW, amalan sahabat, tradisi masyarakat Madinah (amal ahli al Madinah), qiyas (analogi), dan Maslahah Mursalah (kemaslahatan yang tidak didukung atau dilarang oleh dalil tertentu). 

Sebagai madzhab yang sahih, mazhab Maliki pernah dijadikan mazhab resmi di kota-kota besar di jazirah Arab seperti; Mekah, Madinah, Irak, Mesir, Aljazair, Tunisia, Andalusia (kini Spanyol), Marokko, dan Sudan. 

Dapatkan Artikel Kami Gratis

Ketik email Anda di sisi:

Kami akan mengirimkannya untuk Anda

Quality Content