Islam dalam Pengambilan Keputusan

Islam adalah agama yang "Rahmatan Lil 'Alamin", keberadaanya membawa kedamaian bagi umat semesta alam. Hal ini dapat kita lihat diantaranya dalam pengambilan keputusan kita dilarang dalam kondisi labil.

Kebenaran yang Dilematis

Kebenaran dalam beberapa hal ternyata tidak selalu berdampak baik bagi pelakunya. Dalam konteks ini kita harus tetap menyampaikan kebenaran tersebut sekalipun dilematis buat kita

Islam dan Olah Raga

Disebutkan bahwa, "Orang mukmin yang kuat lebih baik dan dicintai oleh Allah SWT., daripada mukmin yang lemah" So, keep healty, keep financial and pray

Lengkapilah Agamamu dengan Menikah

Salah satu ibadah yang enak dan berpahala banyak adalah melangsungkan pernikahan. Bagaimana tidak, karena nikah merupakan salah satu sunah para rasul "Sunanun min Sunanil Mursalin"

Memilih Teman

Teman menjadi orang yang paling mewarnai hidup kita, baik deri segi sikap tindakan dan sikap mental seseorang. Olehkarena itu Islam mengajarkan agar dalam bergaul kita benar benar berhati-hati karena "Al-Mu'asyarotu Muatsiroh"

Tuesday, October 8, 2019

Arti Doa Lengkap Haji dan Umroh

ARTIDOA’-DOAPERJALANAN HAJI TAMATTU’ GELOMBANG 2

Sahabat syariatkita, haji merupakan kewajiban bagi seorang muslim baik laki-laki ataupun perempuan seumur hidup sekali bagi yang sudah istithoah (mampu); bai dari segi finansial, fisik dan mental. Artinya orang yang secara finansial telah mampu membayar uang untuk berangkat haji, mampu membiayai kebutuhan istri dan anak yang ditinggalkan selama menunaikan ibadah haji maka ia sudah masuk kategori wajib haji. Akan tetapi disisi lain, orang yang secara finansial sudah mampu untuk menunaikan rukin islam yang ke lima, akan tetapi secara fisik lemah sehingga tidak memungkinkan untuk berangkat haji maka ia juga tidak kewajiban menjalankannya. Dari segi finansial mampu, fisik oke akan tetapi mental tidak mendukung; seperti halnya misalkan ada orang yang takut naik pesawat dan didukung atau dibuktikan oleh ahli (dokter) manakala naik ia langsung pingsan atau membawa mudharat yang lebih besar pada dirinya maka ia juga tidak berkewajiban menunaikan haji. 

Oleh karena itu mengingat ibadah yang satu ini merupakan ibadah yang sangat didambakan oleh banyak orang, dan mayoritas jika kita melihat prosentasenya adalah orang Indonesia sedangkan disisi lain latar belakang mereka kadang kurang memahami arti dari doa-doa yang dipanjatkan, maka mudah-mudahan arti dan doa yang kami sampaikan ini dapat menjadikan haji yang Anda lakukan lebih bermakna dan lebih khusyu' dengan mendalami dan meresapi setiap rukun haji melalui pemahaman artinya. 

1.      Arti niat sholat safar
Saya niat shalat safar dua rokaat, meghadap kiblat karena Allah Ta’ala
2.      Arti do’a keluar dari rumah
Dengan menyebut nama Allah, saya beriman kepada Allah, saya berserah diri kepada Allah, tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah, zat yang Maha Agung
3.      Arti do’a berada di atas kendaraan
Dengan menyebut nama Allah zat yang melakukan dan melepaskan (bahtera), sesungguhnya Tuhanku Dia-lah zat yang Maha Pengampun lagi maha penyayang
4.      Arti doa ketika kendaraan mulai berjalan
Dengan menyebut nama Allah, zat yang Maha Pengasih dan Penyayang, Allah Maha Besar 3x, Maha suci zat yang telah menundukkan (kendaraan) ini, yang mana kami sebelumnya tidak bisa menyertai (menguasai) nya, dan sesungguhnya kepada Tuhan kitalah (kita semua) akan kembali
5.      Arti doa ketika tiba di tempat tujuan
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya (tempat tujuan), kebaikan penduduknya dan kebaikan apa yang terdapat di dalamnya, dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kejelakannya (tempat tujuan), kejelakan penduduknya dan kejelekan apa yang terdapat di dalamnya
6.      Arti do’a ketika masuk kota Madinah
Ya Allah, ini (kota Madinah) adalah (kota) kemuliaan utusan-Mu, maka jadikanlah (kota ini) sebagai penjagaku dari api neraka dan menjadi penyelamatku dari siksa
7.      Arti do’a masuk masjid Nabawi
Ya Allah, curahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad dan kepada keluarga junjungan kita Nabi Muhammad
8.      Arti do’a sholat tahiyyatul masjid
Saya niat shalat tahiyyatul masjid dua rokaat sembari menghadap kiblat karena Allah Ta’ala
9.      Arti do’a niat I’tikaf
Saya niat melakukan sunah I’tikaf karena Allah Ta’ala
10.   Arti do’a ketika ziarah di makam Rasul
-        Semoga keselamatan tercurah kepadamu wahai Rosulullah
-        Semoga keselamatan tercurah kepadamu wahai Abu Bakar as-Shiddiq
-        Semoga keselamatan tercurah kepadamu wahai Umur bin Khattab

UMROH

1.      Arti do’a mandi ihrom
Saya niat mandi sunah ihrom, karena Allah Ta’ala
2.      Arti do’a sholat tahiyyatul masjid
Saya niat shalat tahiyyatul masjid dua rokaat sembari menghadap kiblat karena Allah Ta’ala
3.      Arti shalat sunah ihrom
Saya niat shalat sunah ihrom dua rokaat sembari menghadap kiblat karena Allah Ta’ala
4.      Arti do’a niat umroh
Saya niat (melakukan) umroh dan dengan ini (pula) aku berumroh karena Allah Ta’ala
5.      Arti do’a setelah selesai ihrom
Ya Allah, sesungguhnya aku telah membatasi/menghalangi diriku dari semua apa yang telah Engkau haramkan kepada orang yang berihrom, maka berikanlah rahmat kepadaku wahai Zat yang kasih sayang-Nya melebihi kasih sayang seluruh alam semesta
6.      Arti bacaan talbiyah
Ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu, saya memenuhi panggilan-Mu tiada sekutu bagi-Mu, sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kekuasaan hanya milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, Ya Allah, curahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad dan kepada keluarga junjungan kita Nabi Muhammad
Ya Allah, sesungguhnya aku minta keridaan-Mu dan surga, dan aku berlindung kepada-Mu dari murka-Mu dan (dari) neraka. Ya Allah, berikanlah kebaikan kepadaku di dunia dan di akhirat dan peliharalah diriku dari siksa neraka
7.      Arti do’a memasuki kota Mekah
Ya Allah ini (kota Mekah) adalah (kota) mulia-Mu dan keselamatan-Mu, maka hindarkanlah daging, darah rambut dan kulitku dari neraka, dan selamatkanlah aku dari siksa-Mu di hari Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu (dari kubur), dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang yang Engkau kasihi dan ahli taat terhadap-Mu
8.      Arti do’a masuk masjidil haram
Ya Allah Engkaulah Maha Pemberi Keselamatan, dari-Mulah keselamatan dan kepada-Mulah keselamatan itu akan kembali, maka hidupkanlah aku (wahai Tuhanku) dengan selamat, dan masukkanlah aku ke surga; tempat keselamatan, wahai Sang Maha Pemberi Berkah dan Maha Tinggi,, wahai zat yang Maha Agung dan Mulia
Ya Allah, bukalah pintu rahmat-Mu untukku, dengan menyebut nama Allah, segala puji bagi Allah, shalawat dan keselamatan semoga tercurah kepada utusan Allah
9.      Arti doa melihat Ka’bah
Ya Allah, tambahkanlah kemuliaan, keagungan dan kehebatan pada rumah ini (Baitullah/Ka’bah), dan tambahkanlah (pula) kemuliaan, keagungan, kehormatan dan kebaikan bagi orang yang memuliakannya (Baitullah/Ka’bah), mengagungkannya, dan menghormatinya termasuk di dalamnya yaitu orang yang yang sedang berhaji dan berumroh
10.   Arti do’a niat towaf umroh
Saya niat tawaf umroh di rumah kono ini (Baitul Atiq / Ka’bah) sebanyak 7 kalikarena Allah. Allah Maha Besar
11.   Arti do’a ketika towaf
Mahasuci Allah, segala puji hanya milik Allah, tiada tuhan selain Allah, Allah Mahabesar, tiada daya dan upaya kecuali hanya dengan pertolongan Allah zat yang Mahaluhur dan Mahaagung
12.   Arti doa ketika melewati makam Ibrahim
Ya Tuhanku, masukkanlah aku ke tempat yang benar dan keluarkanlah aku menuju tempat yang benar, dan jadikanlah untukku dari sisi-Mu pemimpin yang menolong (kami). Dan katakanlah (Muhammad) telah datang kebenaran dan telah binasa kebatilan, sesungguhnya kebatilan pasti akan binasa
13.   Arti do’a diantara rukun yamani & hajar aswad  
Ya Tuhan kami, berikanlah kebaikan kepada kami di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka, dan masukkanlah kami ke dalam surge beserta orang-orang yang baik, wahai zat yang Mahamulia lagi maha Pengampun, wahai zat yang merajai seluruh alam semesta
14.   Arti niat shalat sunah towaf
Saya niat shalat towaf dua rokaat sembari menghadap kiblat karena Allah Ta’ala
15.   Arti do’a minum air zam-zam
Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang lapang, dan disembuhkan dari semua penyakit berkat kasih sayang-Mu, wahai Zat yang kasih sayangnya melebihi kasih sayang seluruh alam semesta
16.   Arti niat sa’i umroh
Saya niat menjalankan sa’i diantara (bukit) shofa dan marwa dengan niat sa’I umroh 7 kali karena Allah Ta’ala. Allah Maha Besar
17.   Arti do’a sa’i
Allah Maha Besar 3x Ya Allah, saya menjalankan sunah Nabi-Mu dan matikanlah aku pada agama-Mu (dalam keadaan Islam), dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kesesatan-kesesatan (yang timbul dari) fitnah
18.   Arti do’a diantara pilar hijau
Ya Tuhanku, ampunilah aku, sayangilah aku, maafkanlah (aku), muliakanlah (aku) dan ampunilah (aku) dari apa (dosa) yang Engkau ketahui, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui apa yang tidak aku ketahui, sesungguhnya Engkaulah Allah zat yang Mahaagung lagi Mahamulia  
19.   Arti do’a ketika mendekati marwah dan shofa
Sesungguhnya (bukit) shofa dan marwa termasuk salah satu dari tanda-tanda kebesaran Allah, maka barang saiapa berhaji ke Baitullah (ka’bah) ataupun menjalankan umroh maka tiada dosa baginya mengelilingi keduanya. Dan barang siapa melakukan amalan sunah (maka hal itu) baik (baginya) dan sesungguhnya Allah adalah zat yang Maha Menerima (amal) lagi Maha Mengetahui
20.   Arti do’a menggunting rambut
Ya Allah, jadikanlah setiap helai rambut (ini) cahaya kelak di hari kiamat
21.   Arti niat towaf sunah
Saya niat (menjalankan) tawaf sunah di tehmpat yang kuno ini (Ka’bah) 7 putaran karena Allah Ta’ala. Allah Maha Besar

SUJUD SYUKUR

1.      Arti niat sujud syukur
Saya niat sujud syukur karena Allah Ta’ala. Allah Maha Besar
2.      Arti bacaan sujud syukur
Saya menghadapkan wajahku pada Zat yang menciptakannya (wajah) membentuknya dan membedah pendengarannya dan penglihatannya, dengan daya dan kekuatan-Nya maha suci Allah Zat Yang Pencipta yang paling baik
3.      Arti do’a agar bisa kembali mengunjungi Ka’bah lagi
Ya Allah, (berikanlah anugerah kepadaku) agar bisa kembali mengunjungi Ka’bah beserta anak-anak (lk & pr) ku
4.      Arti niat haji
Saya niat haji dan berihrom dengannya (haji) karena Allah Ta’ala
5.      Arti do’a melempar jumroh ula
Saya niat melempar jumroh ula (pertama) dengan tuju kerikil karena Allah Ta’ala. Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar
6.      Arti do’a melempar jumroh wusto
Saya niat melempar jumroh wusto (tengah) dengan tuju kerikil karena Allah Ta’ala. Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar
7.      Arti do’a melempar aqobah
Saya niat melempar jumroh aqobah dengan tuju kerikil karena Allah Ta’ala. Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah, jadikanlah hajiku haji yang baik, dan jadikanlah sa’iku sa’i yang diterima dan diampuni dosaku, dan amal baik yang diterima dan dagangan yang tiada merugi. Amin…

https://syariatkita.blogspot.com



Monday, October 7, 2019

Keutamaan Ramadhan


MENJADIKAN KEUTAMAAN RAMADHAN SEBAGAI MOTIVASI UNTUK MENANAMKAN SPIRIT & KEBIASAAN IBADAH SETELAH RAMADHAN


اَلْحَمْدُ ِللهِ، اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِي جَعَلَ رَمَضَانَ سَيِّدَ الشُّهُورْ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعالى عَلىَ جَمِيْعِ نَعْمَائِهِ حَمْدَ عَبْدٍ شَكُورْ، اَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهْ اَلْمَلِكُ الْغَفُورْ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ مَشْهُورْ. اَلَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ اَلَّذِيْ نَرْجُوْا شَفَاعَةً مِّنْهُ عِنْدَ الْبَعْثِ وَالنُّشُورْ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ وَهُوَ أَصْدَقُ الْقَائِلِيْن:أعوذ باالله من الشيطان الرجيم  بسم الله الرحمن الرحيم "شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنْ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمْ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمْ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمْ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ". الأية صدق الله العظيم أما بعد.
Ma’aasyirol khaadiriin, sidang jum’ah rokhimakumullah
Melalui mimbar jum’ah yang mulia ini saya tidak henti-hentinya mengajak diri saya pribadi dan kepada para jamaah sholat jum’at pada umumnya, marilah kita bersama-sama meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT., dengan memperbaiki kualitas keimanan dan rasa penghambaan kita kepada Allah SWT., Takwa yang berarti menjalankan segala perintah Allah SWT., dan menjauhi semua yang menjadi larangannya. Karena dengan ketakwaan, maka kita akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah SWT., sebagaimana difirmanfan dalam AL-Qur’an:
اِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ
Yang artinya (والله أعلم بمراده):
“Sesungguhnya semulya-mulya kalian disisi Allah, adalah kalian yang paling bertakwa”

Ma’aasyirol khaadiriin, hadaaniyaAllaahu wa iyyaakum
Bulan Ramadhan atau yang kita sebut dengan bulan puasa merupakan bulan yang sangat mulia, bulan yang penuh berkah, dan bulan yang penuh dengan maghfiroh serta rohmat Allah SWT., dimana Allah SWT., melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada siapapun dari hamba-hambanya yang tidak hanya menjalankan puasa saja, akan tetapi rohmat tersebut juga diberikan kepada orang non muslim yang mau menghormati bulan Ramadhan.
Salah satu bentuk kasih sayang Allah SWT., yang menunjukkan keagungan bulan ramadhan adalah sebagaimana dikutip dalam kitab “Durrotun Nasihin”, dimana dijelaskan bahwasanya pada zaman dahulu ada seorang wanita yang beragama majusi atau penyembah api, pernah suatu hari ketika ia mengajak anaknya pergi ke salah satu pasar di kota tersebut, wanita majusi tersebut melihat anaknya yang masih kecil makan dan minum di tempat keramaian yang mana ditempat tersebut penuh dengan orang-orang Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa. Melihat hal deikian, sontak apa yang dilakukan wanita majusi tersebut kepada anaknya, wanita tersebut spontan memukul anaknya dengan berkata:
يَا بُنَيَّ لِمَ لَمْ تَحْفَظْ حُرْمَةَ الْمُسْلِمِيْنَ فِىْ نَهَارِ رَمَضَانَ؟
“Wahai anak ku, mengapa engkau tidak menjaga kehormatan orang-orang Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa Ramadhan”
Al-kisah dalam kitab tersebut diterangkan, bahwa wanita majusi yang memukul anaknya agar tidak makan dan minum di tempat umum dengan tujuan untuk menghormati orang-orang muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa saja, Allah SWT., memberikan kemuliaan dan derajat berupa “khusnul khotimah” dengan mengikrarkan kedua kalimat syahadat sebelum ajal menjemputnya, apalagi kita yang menjalankannya. SubhanAllah, begitu mulianya kita yang sampai dengan detik ini masih dianugerahkan oleh Allah SWT., dapat menjalankan ibadah puasa.


Ma’aasyirol khaadiriin, jamaah jum’ah rokhimakumullah
Mengenai kemuliaan bulan Ramadhan, dalam sebuah hadis pernah junjunagan kita baginda Agung Nabiyullah Muhammad SAW., menyampaikan khutbah kepada para sahabat beliau di akhir bulan Sya’ban:
أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، شَهْرٌ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، جَعَلَ اللهُ صِيَامَهُ فَرِيْضَةً، وَقِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعًا، مَنْ تَقَرَّبَ فِيْهِ بِخِصْلَةٍ مِنَ الْخَيْرِ، كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ، وَمَنْ أَدَّى فِيْهِ فَرِيْضَةً كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَة فِيْمَا سِوَاهُ، (اِلَى أَخِرِ الحديث.......)
Yang artinya:
“Wahai sekalian manusia, sungguh telah dekat dengan kalian semua bulan yang agung, bulan yang penuh dengan keberkahan, bulan yang didalamnya terdapat satu malam yang mana malam tersebut lebih baik daripada seribu bulan, Allah menjadikan puasa sebagai kewajiban, dan (menjadikan) shalat (tarawih) di malamnya sebagai sunah. Barang siapa mendekatkan diri kepada Allah di bulan ini dengan suatu kebaikan (amalan sunnah), maka pahalanya seperti dia melakukan amalan fardhu di bulan-bulan yang lain. Barangsiapa melakukan amalan fardhu di bulan ini, maka pahalanya seperti telah melakukan 70 amalan fardhu di bulan lainnya”. (Demikian kutipan sebagian isi khutbah Rasulullah yang disampaikan oleh beliau di akhir bulan Sya’ban)
Sidang jum’ah yang dimuliakan oleh Allah
Dari hadis di atas, nampak jelas bagi kita bahwasanya Allah SWT., menjadikan bulan Ramadhan sebagai ladang pahala yang sangat subur bagi hanba-Nya yang mendapati bulan Ramadhan, dimana orang yang mengerjakan amaliyah ataupun ibadah-ibadah sunnah selama di bulan Ramadhan maka ia akan diberikan balasan pahala sebagaimana orang yang mengerjakan amalan wajib di bulan selain ramadhan, dan orang yang mengerjakan amalan wajib selama di bulan Ramadhan maka akan diberikan pahala layaknya orang yang mengerjakan 70 kali lipat amalan wajib yang dikerjakan di bulan selain Ramadhan.  (masyaAllah...)
Kalo boleh membuat suatu tamtsil atau perumpamaan, maka Ramadhan dapat saya ibaratkan seperti sebuah media tanam, dimana media tanam tersebut sangat subur sehingga biji apapun yang ditanam di dalamnya akan tumbuh dengan baik, dedaunannya hijau ranum dan batang pohonnya sangatlah sehat, akar-akarnya kuat dan kokoh sehingga membuat semua orang terpana dan terbelalak matanya ingin memilikinya. Inilah anugerah yang diberikan oleh Allah SWT., bagi hamba-Nya yang beriman dan menjalankan puasa di bulan Ramadhan. Orang yang beriman dan menjalankan ibadah puasa sebagaimana diperintahkan oleh syariat, maka ia akan memperoleh pahala yang tak terhingga di sisi Allah SWT.
Ma’aasyirol khaadiriin, rohimakumullah
Akan tetapi media tanam hanyalah tempat penyemaian sementara, dimana setelah tiba saatnya maka tanaman yang ada di dalam tempat penyemaian tersebut pastilah akan dipindahkan ke tempat lain yang derajat kesuburan tanahnya belum tentu sama dengan media tanam sebelumnya. Bisa jadi benih yang ditanam adalah benih dengan predikat “super”, harganya sangat mahal dan belum tentu semua orang mampu membelinya. Akan tetapi ternyata belum menjadi jaminan, benih yang mendapatkan predikat “super” akan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik di tanah lain manakala tanah tersebut tidak diberikan pupuk, tidak dirawat dengan baik atau kandungan unsur hara yang ada di dalam tanah tersebut tidak cocok dengan kriteria bibit yang di tanam sekalipun telah dilakukan perawatan. Belum tentu pula benih tersebut akan menghasilkan buah yang ranum dengan kualitas super manakala tidak dirawat dan dijauhkan dari segala hama tanaman. Sehingga banyak orang yang berpuasa, akan tetapi ia tak ubahnya hanya sekedar menjalankan rutinitas dan menggugurkan kewajiban puasa semata. Artinya apa, banyak orang berpuasa selama di bulan suci Ramadhan, malamnya melakukan qiyamullail dengan salat tarawih, memperbanyak tadarus Al-Qur’an dan ibadah-ibadah lain, akan tetapi selepas puasa amalan-amalan dan nilai-nilai yang terkandung selama dalam bulan suci Ramadhan sama sekali tidak ia pertahankan, justru 180 derajat berbalik arah dari kebiasaan ibadah di bulan suci Ramadhan (وَاْلعِيَاذُ بِاالله......)
Rasulullah dalam sebuah hadis menyampaikan,
كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ اِلَّا الْجُوْعُ وَ الْعَطَشُ
Yang artinya
“Banyak sekali orang yang berpuasa, akan tetapi ia tidak memperoleh (pahala dan keutamaan) dari puasanya, yang ia perkoleh hanyalah rasa lapar dan dahaga”
Jama’ah jum’ah rohimakumullah
Dalam media tanam pun, jikalau SOP pemberian nutrisi dan perawatan benih diindahkan oleh orang yang merawatnya, ia mengabaikan ketentuan-ketentuan yang telah terpampang jelas di sana, maka benih yang disemai pun tentu akan tidak bisa tumbuh sesuai dengan yang diharapkan. Inilah perumpamaan bagi orang yang puasa akan tetapi ia mengindahkan syarat rukun dan ketentuan lain yang telah ditetapkan oleh syariat. Sehingga jikalau kita mengharapkan benih yang sudah tumbuh subur selama dalam masa penyemaian, agar tetap dapat terus bertumbuh menjadi pohon yang berkualitas “super” maka kebiasaan-kebiasaan ataupun nutrisi dan asupan gizi serta unsur hara yang terkandung di dalam media tanam tersebut sudah sepatutnya harus terus kita berikan dan kita pertahankan. Allah SWT., berfirman di dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمْ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
 Yang artinya
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”
Jadi, dari ayat di atas sudah sangat jelas, bahwasanya tujuan daripada Allah SWT., mewajibkan puasa tiada lain adalah supaya kita menjadi hanba-Nya yang bertakwa. Dengan kata lain, setelah kita sebulan penuh menjalankan ibadah puasa maka harapannya tiada lain adalah sebagaimana kita sudah menempuh ujian dan dinyatakan lulus dengan mendapatkan predikat dan gelar kehormatan sebagai seorang muslim yang “muttaqin” atau seorang muslim yang bertakwa. Dan gelar kehormatan sebagai “muttaqin” tersebut akan tersemat dengan baik pada diri kita manakala kita dapat menjaga ketakwaan kepada Allah SWT., dengan terus menjaga dan meningkatkan kualitas dan mutu ibadah di bulan selain Ramadhan.
Ma’aasyirol khaadiriin, rohimakumullah
Bulan suci Ramadhan bagi kita merupakan “kawah condro dimuko” atau sebagai media penggembelengan, media melatih hawa nafsu kita agar tunduk dan patuh terhadap aturan syariat, mengatur kepribadian kita sehinga kita dapat menjadi pribadi yang disiplin, taat dan patuh terhadap aturan syariat. Karena tentunya sehaus apapun atau se lapar apapun kita berpuasa, tentunya selama belum masuk waktu maghrib maka ego diri kita untuk dapat menyantap enaknya hidangan dan segarnya minuman tertahan dengan aturan syariat. Sehingga hal ini sangat sesuai dengan makna daripada kata “romadhon” itu sendiri yang berarti membakar. Orang yang menjalankan ibadah romadhon hakikatnya ia sedang membakar dosa-dosanya, ia membakar hawa nafsunya, ia membakar sifat egoismenya dan ia membakar semua sifak jelek yang ada pada dirinya.
Ma’aasyirol khaadiriin, rohimakumullah
Akhir daripada khutbah ini, mudah-mudahan Allah SWT., senantiasa melimpahkan taufik dan karunia-Nya kepada kita semua untuk dapat menjaga dan mempertahankan ibadah serta nilai-nilai dan keutamaan yang terkandung di dalam bulan suci Ramadhan. Mudah-mudahan Allah SWT., memberikan kita segenap kekuatan untuk terus dapat beristiqomah di dalam beribadah sehingga predikat “muttaqin” atau insan yang bertakwa terus tersemat di dalam diri dan hati sanubari kita. Amin yaa robbal ‘alamiiin...
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْأَنِ الْعَظِيمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْأَيَةِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، فَتَقَبَّلْ مِنِّي تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ
  
 
keutamaan puasa


Wednesday, January 9, 2019

hukum bermadzhab lengkap

HUKUM BERMADZHAB

Sahabat syariatkita, Indonesia yang merupakan mayoritas pemeluk agama Islam dengan keanekaragaman suku dan budaya yang melatarbelakanginya ternyata ketika kita tarik dari sudut pandang masalah muamalah dan ubudiyah memiliki aliran yan ternyata berbeda antara satu dengan yang lain. Hal itu tiada lain dikarenakan dari kecakapan ilmu agama yang dimiliki, cara pandang beragama dan pemahaman beragama sendiri yang dimiliki. Artinya, orang yang memiliki pengetahuan agama yang lebih dalam ia pasti akan melakukan praktik keagamaan dengan berbagai varian atau saya menyebutnya “gaya dan selera beribadah”. Akan tetapi perlu digaris bawahi bahwa gaya dan selera beribadah bukan berarti mereka menjalankan praktik ibadah seenaknya sendiri, melainkan ibadah yang mereka jalankan tetap mengacu pada konsep beragama yang telah ditetapkan oleh para mujtahid. Sedangka norang yang dengan bekal agama yang hanya “tau saja” mereka pasti terkesan kaku dan monoton dalam praktik ibadah, dan cenderung menganggap orang yang menjalankan agama diluar yang ia ketahui pasti akan dicap sebagai praktik ibadah yang salah. Maklum, ibarat orang yang mau bepergian hanya tau satu rute maka ia hanya akan lewat melalui rute yang ia ketahui saja. Yang ironi kadang orang yang seperti ini tidak mau membuka mindset dan tidak mau terus memperdalam pengetahuan agama yang ia ia miliki. Padahal mencari ilmu itu hukumnya wajib tidak mengenal waktu dan tempat (baca artikel selengkapnya di hukum menuntut ilmu). Perbedaan sebagaimana di atas itulah yang merupakan domain khilafiyah atau perbedaan praktik ibadah yang akan kita fokuskan pada pembahasan kita kali ini yaitu mengenai hukum bermadzhab.

Tuesday, December 26, 2017

Tanya Jawab Hukum Islam

Tanya Jawab Lengkap Masalah Agama

Sahabat syariatkita, sebagai seorang muslim kita dituntut menjalankan agama tidak sebatas taqlid saja atau menjalankan agama tanpa tahu dasar dan hukumnya, Beragama hanya sesuai pengetahuan dari guru, orang tua atau bahkan karena ikut-ikutan saja, jika hal ini terjadi pada kita marilah mulai dari sekarang kita berbenah diri mencari tahu akan kebutuhan beragama kita, mulai dari permasalahan akidah, ubudiyah dan muamalah. Hal ini tiada lain karena derajat antara orang yang beribadah, ia mengetahui dasar hukumnya dengan yang tidak tahu, atau tahu tetapi hanyalah setengah-setengan saja pastilah berbeda. Tingkatan tertingginya tentulah mereka yang beribadah dan tahu akan dasar hukumnya, atau dengan kata lain derajat orang yang ahli ibadah dengan orang yang alim (mengetahui dasar hukum agama) pastilah sangat berbeda, dan sebagai jawabannya tentula tinggi kedudukan orang yang alim dihadapan Allah SWT,. sebagaimana difirmankan:

يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَـٰتٍ۬‌ۚ



“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”


Berawal dari itulah dalam kesempatan ini saya mencoba mengupas problematika yang ada di sekeliling kita, mulai dari masalah sosial, budaya dan hal lain yang tentunya berhubungan dengan agama dengan dalil dan dasar hukum sang saya jelaskan secara terperinci dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Jika ada kekurangan dalam pembahasan, Anda dapat mengajukan pertanyaan melalui email atau dapat pula melalui komentar, guna perbaikan permasalahan dan topik yang saya publikasikan. Berikut diantara tema-tema permasalahan yang ada disekeliling kita. Semoga bermanfaat.


Tanya Jawab Hukum Islam
  1. Hukum bermadzhab
  2. Hukum menuntut ilmu dan mengajarkannya
  3. Hukum mengadkan maulid Nabi SAW.
  4. Bagaimana cara menghindarkan diri dari riba yang kian hari semakin merajalela
  5. Hukum riba dan bunga bank
  6. Bagaimana hukumnya mengerjakan solat duha dengan berjamaah
  7. Bagaimana cara bertamu sesuai ajaran Rosulullah SAW
  8. Hukum orang fasik menjadi wali nikah
  9. Hukum memagari kuburan dengan tembok
  10. Hukum jual beli babi dan minuman keras
  11. Hukum menghias kuburan dengan sutera
  12. Hukum orkestra atau hiburan
  13. Hukum bermain catur
  14. Hukum berjoget / goyang

Sunday, December 24, 2017

Cara Memilih Pendamping Hidup Dalam Islam

CARA MEMILIH PENDAMPING HIDUP DALAM ISLAM

Sahabat syariatkita, diantara kita ada yang mungkin sudah berkeluarga dan memiliki momongan atau anak. Sebagian lagi ada yang mungkin sudah berkeluarga akan tetapi belum dikaruniai anak, dan mereka ingin sekali memiliki anak sampai rela bersusah payah dan ikhtiyar apapun mereka lakukan. Adapula yang sudah berkeluarga akan tetapi tidak kuat menjalankan ujian hidup berumah tangga, sehingga terpaksa bercerai dengan istri atau suaminya (na’udzu billahi mindzaalik). Dan ada pula yang sekarang lagi sibuk mencari pendamping dan pasangan hidup untuk diajak naik ke pelaminan. 

https://syariatkita.blogspot.co.id/

Apapun itu, para pembaca dan pengunjung setia dapat menemukan upaya dan solusi terbaik untuk menghadapinya, karena dalam artikel ini akan saya kupas tuntas masalah-masalah tersebut sesuai dengan syariat Islam disertai dengan referensi yang tentunya dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.
Langsunga saja kita kupas penjelasannya satu persatu:
  1. Cara memilih pendamping hidup sesuai ajaran Islam 
  2. Cara agar segera diberikan anak atau keturunan 
  3. Cara agar keluarga dijauhkan dari mara bahaya dan mendapatkan  lindungan dari Allah 
  4. Cara agar anak cucu kita menjadi anak yang saleh, berbakti kepada kedua orang tua, bermanfaat bagi agama dan negara
Sumonggo dapat dibuka satu persatu sesuai dengan artikel yang Anda butuhkan. Semoga bermanfaat.

Monday, June 12, 2017

Etika Bertamu Sesuai Syariat

ETIKA BERTAMU SESUAI SYARIAT ISLAM


Sahabat syariatkita, Islam adalah agama yang sangat komprehensif dalam upaya menciptakan kemaslahatan bagi umatnya. Predikat tersebut diantaranya dapat kita lihat dalam hubungan sosial (muamalah dan muasyaroh) antar sesama dimana Islam begitu menekankan kepada umatnya agar senantiasa berpegang teguh pada akhlak dan etika Islam dalam setiap aktifitasnya. Salah satu etika Islam yang sangat penting kita ketahui yaitu pada tatacara bertamu.
Etika bertamu dalam Islam sebagaimana tuntunan yang diajarkan oleh baginda Agung Rasulullah diantaranya adalah mengucapkan salam, berjabat tangan, menjaga pandangan dan memperhatikan waktu berkunjung. Mengucapkan salam lazim dilakukan ketika seorang muslim saling bertemu dengan muslim lainnya, yang selanjutnya disusul dengan saling berjabatan. Sungguh indah Islam mengatur dan mengajarkan tatacara umatnya dalam bersosialisai. Lebih jelasnya etika dalam bertamu dapat saya jelaskan sebagai berikut:

Mengucapkan Salam

Terkait dengan hal ini, Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah An-Nur ayat 61 sebagai berikut:

... فَاِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوْتًا فَسَلِّمُوا عَلىَ اَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِّنْ عِنْدِ اللهِ مُبَرَكَةً طَيِّبةً
"......maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri. Salam yang ditetapkan dari sisi Alah, yang diberi berkah lagi baik.”

Berdasarkan ayat di atas, jelaslah bahwa ketika kita hendak memasuki rumah maka adab yang pertama kali sebagaimana diajarkan oleh Allah adalah mengucapkan salam. Salam yang lazim kita kenal dengan lafal "asslaamu’alaikum” mengandung makna penghormatan, keselamatan, kabar gembira dan juga kemuliaan. Salam yang diucapkan ketika bertamu mengandung arti memberikan penghornatan kepada penghuni rumah.
Tuntunan mengucapkan salam ketika hendak memasuki rumah selain terdapat di dalam Al-Qur’an sebagaimana di atas, juga terdapat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Imam Tirmidzi sebagai berikut:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنِ كَثِيْرٍ، أَخْبَرَنَا جَعْفَرُ بْنِ سُلَيْمَانَ عَنْ عَوْفٍ عَنْ أَبِيْ رَجَاءٍ عَنْ عِمْرَانِ بْنِ حُصَيْنٍ، قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ اِلَى النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم فَقَالَ: اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ, فَرَدَّ عَلَيْهِ، ُثمَّ جَلَسَ، فَقَالَ النبيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "عَشْراً" ثُمَّ جَاءَ اَخَرُ فَقَالَ: اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ، فَرَدَّ عَلَيْهِ، فَجَلَسَ فَقَالَ: "عِشْرُوْنَ" " ثُمَّ جَاءَ اَخَرُ فَقَالَ: اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، فَرَدَّ عَلَيْهِ، فَجَلَسَ فَقَالَ: "ثَلَاثُوْنَ"

"Muhammad ibnu Katsir bercerita kepadaku, Jakfar bin Sulaiman memberi kabar kepadaku dari sahabat Auf, dari Abi Rojak, dari Sahabat Imron bin Husein dimana beliau bersabda, "ada seseorang datang kepada Nabi SAW. dan mengucapkan, "asslaamu’alaikum”. Dijawab oleh Nabi kemudian beliau duduk; lalu beliau bersabda, "sepuluh". Tak selang berapa lama datang lagi seseorang kepada Nabi dan mengucapkan, "asslaamu’alaikum warahmatullah”, salam itupun dijawab oleh Nabi, kemudian beliau duduk (kembali); kemudian beliau bersabda, "dua puluh”, setelah itu datang lagi seseorang dan mengucapkan, "assalaamu’alaikum warah matullahi wabarakaatuh”, salam itupun dijawab oleh Nabi dan beliaupun lalu duduk (kembali); kemudian beliau bersabda, "tiga puluh". (HR. Abu Daud dan Turmudzi).”

Dari hadis di atas telah jelas bahwasanya ketika kita hendak bertamu atau menemui seseorang kita diajarkan supaya mengucapkan salam terlebih dahulu kepada orang yang kita temui. Dengan mengucapkan salam maka pertemuan menjadi barokah dan keselamatan bagi orang yang berada di majlis ataupun tersebut.
Di sisi lain, hadis di atas juga mengandung pengertian bahwa orang yang salamnya lebih lengkap, maka ia mendapatkan pahala lebih banyak dibandingkan orang yang salamnya lebih ringkas, dengan kata lain, sedikit banyaknya pahala salam bergantung dengan lengkap tidaknya salam yang kita ucapkan.

Bentuk salam atau penghormatan sebagaimana dalam hadis di atas adalah lafal "asslaamu’alaikum". Sedangkan jawaban dari salam tersebut adalah "wa’alaikumu salam warahmatullah”. Apabila yag memberi salam mengucapkan dengan kalimat lebih seperti, "asslaamu’alaikum warahmatullah”, maka kewajiban orang yang diberi salam yaitu menjawab dengan jawaban yang lebih pula seperti "wa’alaikum salam warahmatullah wabarakaatuh”. Hal ini sebagaimana firman Allah:
وَاِذَا حُيِّيْتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوْا بِأَحْسَنَ مِنْهَا اَوْ رُدُّوْهَا ِانَّ اللهَ كاَنَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيْبًا.

”Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik atau balaslah (dengan balasan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu”(Q.S. An-Nisa’4:86).

Mengenai etika bertamu, disebutkan dalam hadis:
حَدَّثَنَا اَبُوْ بَكْرِ بْنِ اَبِىْ شَيْبَةَ، ثَنَا أَبُواْلاَحْوَص، عَنْ رِبْعِيّ قَالَ: ثَنَا رَجُلٌ مِنْ بَنِيْ عَامِرٍ أَنَّهُ اِسْتَأْذَنَ عَلَى النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم وَهُوَ فِيْ بَيْتٍ فَقَالَ: اَلَجُّ؟ فَقَالَ النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم  لِخَادِمِهِ: اُخْرُجْ اِلَى هَذاَ فَعَلِّمْهُ الْاِسْتِئْذَانَ، فَقاَلَ لَهُ، قُلْ اَلسَّلاَمُ عَليَكُمْ، أَأَدْخُلُ؟ فَسَمَحَهُ الرَّجُلُ فَقاَلَ: اَلسَّلاَمٌ عَلَيْكُمْ، أَأَدْخُلُ؟ فَأَذَّنَ لَهُ النَّبيُّ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلّمَ  فَدَخَلَ

Abu Bakar bin Syaibah bercerita kepada kami, Abu Ahwas bercerita kepada kami dari Sahabat Rib’iy beliau berkata, bahwasanya ada seorang laki-laki dari Bani Amir meminta izin untuk masuk ke rumah Rasulallah SAW, sedangkan beliau saat itu sedang berada di dalam rumah. Laki-laki itu berkata, “bolehkah saya masuk? Rasulallah SAW berkata kepada pembantunya, “keluarlah dan temui orang itu, dan ajarilah meminta izin.” Pembantu itupun keluar dan berkata kepada laki-laki tersebut, “ucapkanlah Asslaamu’alaikum, bolehkan saya masuk?” laki-laki itu mendengarkan, kemudian berkata, assalaamu’alaikum, bolehkah saya masuk? Lalu Nabi SAW pun mengijinkannya, dan masuklah laki-laki itu.”

Hal lain yang perlu diperhatikan bagi seorang tamu sekalipun ia suddah bertemu dan bahkan bertatapan muka adalah, ia harus tetap meminta izin dan mengucapkan salam. Hal ini dikarenakan, tatapan muka dan pandangan bukanlah berarti izin dari pemilik rumah. Tamu yang hendak masuk di dalam rumah orang lain jika telah meminta izin tiga kali, dan tidak ada jawaban dari penghuni rumah atau tidak diizinkan, maka hendaklah ia pergi meninggalkan rumah tersebut. Kalau memang agendanya dirasa sangat penting, maka jadwalkanlah di waktu atau di hari yang lain.
Setelah tamu sampai di halaman rumah, hendaklah ia menghindar dari hal-hal yang kurang etis seperti mengintip melalui jendela atau bilik, walaupun tujuannya ingin mengetahui atau memastikan ada tidaknya penghuni rumah. Hal tidak etis lain yang perlu dihindari oleh orang yang ingin bertamu adalah hendaknya ia tidak menghadap ke arah pintu, akan tetapi berdirilah di sebelah pintu bisa disebelah kanan atau kiri. Jikalau tuan rumah menanyakan nama, maka tamu tidak boleh menjawab dengan jawaban “saya” akan tetapi jawablah dengan nama terang.

Berjabat Tangan (Mushofahah)

Setelah salam, hal yang tidak kalah penting dilakukan oleh seorang yang hendak bertamu adalah melakukan mushofahah atau berjabat tangan atau bersalaman. Imam Bukhori dalam sebuah hadis meriwayatkan:

َحدَّثنَاَ يَحْيَى بْنِ سُلَيْمَانَ قَالَ: حَدَّثَنِىْ ابْنُ وَهْبٍ قَالَ: اَخْبَرَنِىْ حَيْوَةَ قَالَ: حَدَّثَنِىْ اَبُوْ عُقَيْلٍ زُهْرَةَ بْنِ مَعْبَدٍ سَمِعَ جَدَّهُ عُبْدَ اللهِ بْنِ هِشَاٍم قَالَ: كُنَّا مَعَ النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم وَهُوَ اَخِذٌ بِيَدِ عُمَرَابْنِ الْخَطَّابِ

”Yahya bin Sulaiman bercerita kepadaku dimana ia berkata, Ibnu Wahb bercerita kepadaku dimana ia berkata, Haiwah mengabariku dimana ia berkata, Abu Uqail (Zuhroh) bin Ma’bad mendengar kakeknya, Abdullah bin Hisyam berkata, ”Kami bersama Nabi SAW dan beliau menjabat tangan Umar bin Khattab.”

Bersalaman menunjukkan rasa saling kasih sayang antar sesama muslim, bahkan Imam Malik dalam hadisnya menyebutkan bahwa berjabat tangan akan menghilangkan kedengkian dan penyakit hati. Oleh karena itu alangkah indahnya manakala hal ini dilakukan bagi orang yang saling berkunjung dan bertamu.
Al-Barra r.a, meriwayatkan suatu hadis yang menyatakan, bahwa Rasulallah SAW bersabda;
مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ اِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ اَنْ يَفْتَرِقَا

“Dua orang Islam yang bertemu lalu saling berjabat tangan, maka dosa keduanya diampuni sebelum keduanya berpisah"

Hadis di atas menunjukkan begitu agung dan luar biasanya manfaat bersalaman. Hal yang mungkin secara kasat mata hanya terlihat tidak lebih dari sekedar amalan dunia akan tetapi sungguh tinggi nilainya dihadapan Allah SWT. Oleh karena itu, hadis tersebut sungguh sangat menginspirasi dan memotivasi kita untuk saling mempererat kualitas persaudaraan dengan cara berjabat tangan, karena dengan cara inilah nampat kualitas tali ukuwah islamiyah (persaudaraan sesama muslim).
Hal yang perlu diperhatikan ketika kita bersalaman sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. haruslah dilakukan dengan penuh penghormatan, perhatian, ketulusan hati, keramahan dan dengan raut muka yang manis. Laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan, kecuali mereka yang memiliki hubungan kekeluargaan (muhrim).
Dalam sebuah hadis, Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan bahwa berjabat tangan merupakan kesempurnaan dari salam. Oleh karena itu, perhatikanlah muka orang yang kita salami, hindari memandang obyek lain, karena sikap demikian dapat menyinggung perasaannya. Hindari pula sikap terburu-buru kalau kita memang memiliki waktu yang senggang, karena bisa jadi masih ada hal yang mau disampaikan dari orang yang kita ajak bersalaman. Berjabat tangan dengan didasari mengharap ridha Allah SWT dan mentaati perintah Rasulullah SAW tentunya akan memberikan asar atau dampak mendalam kepada orang yang melakukannya. Karena dengan berjabat tangan maka kebencian akan hilang dari diri kita.

Menjaga Pandangan

Salah satu uswah hasanah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW yaitu beliau senantiasa menjaga pandangan ketika sedang bertamu atau mendatangi rumah salah seorang sahabatnya. Hal tersebut beliau lakukan dengan tujuan memelihara pandangan dari melihat sesuatu yang tidak pantas dilihat dan menjaga perasaan sang pemilik rumah manakala masih dalam keadaan belum bersiap untuk dikunjungi. Rasulullah SAW biasanya cenderung menghadapkan wajah beliau ke arah kanan atau kiri, demi menghindari melihat ke arah pintu yang jika dibuka akan langsung melihat isi rumah yang mungkin jika hal itu terjadi, pemilik rumah kurang berkenan akan hal tersebut.
Mengenai hal ini disebutkan dalam sebuah hadis:
ِاطَّلَعَ رَجُلٌ مِنْ حُجُرٍ فِىْ حُجُرِ النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم مدرى يَحُكُّ بِهِ رَأْسَهُ فَقَال: لَوْ أَعْلَمُ اَنَّكَ تَنْظُرُ لَطَعَنْتُ بِهِ فِىْ عَيْنَكَ اِنَّمَا جُعِلَ الْاِسْتِئْذَانُ مِنْ اَجْلِ الْبَصَرِ

“Ada salah seorang lelaki melihat ke dalam salah satu bilik Nabi SAW, saat itu Nabi SAW sedang membawa sisir untuk merapikan rambut kepalanya, maka beliau bersabda, ”seandainya aku tahu kamu melihat tadi, tentu akan aku colikkan sisir itu ke matamu, karena dijadikannya isti’dzan (mohon ijin bertamu) itu sebagai penjaga pandangan.” (HR. Bukhari)

Maksud daripada isti’dzan sebagaimana hadis di atas adalah agar seseorang yang hendak bertamu itu terlebih dahulu meminta ijin kepada tuan rumah, yang tentunya agar penghuni rumah siap dan mengetahui akan adanya tamu. Sehingga jikalau ada tamu yang tidak meminta ijin kepada pemilik rumah maka sejatinya orang tersebut telah menyalahi ajaran srayiat. Dengan demikian, seolah-olah isti’dzan (mohon ijin bertamu) sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW menempati posisinya sebagai penjaga atau sarana tamu diperbolehkan masuk rumah. Karena bisa dibayangkan manakala ada tamu yang masuk tanpa izin tentu ia akan dapat melihat sesuatu (bias benda atau mungkin aurat yang sedang terbuka) yang tidak ingin diperlihatkan oleh pemilik rumah sehingga hal ini akan menyakitinya.
Dengan demikian, seseorang yang hendak bertamu tidak diperbolehkan mengintip rumah orang lain. Ia harus tetap menunggu di luar pintu sampai pemilik rumah meberinya ijin untuk masuk.

Memperhatikan Batasan Waktu Bertamu

Etika yang terakhir bagi seorang yang handak bertamu adalah ia diperintahkan untuk cerdas mengetahui kapan ia harus bertamu, jangan bertamu waktunya makan malam misalnya kecuali kalau memang sengaja diundang oleh pemilik rumah. Jangan pula bertamu terlalu larut malam karena boleh jadi pemilik rumah sudah mengantuk dan mau istirahat, tetapi karena masih ada tamu ia tidak enak mengutarakannya. Jangan pula terlalu pagi karena boleh jadi sang pemilik rumah sedang bersiap untuk berangkat kerja. Dengan kata lain, memperhatikan waktu bertamu sangat penting dipahami oleh orang yang hendak bertamu.
Berkenaan dengan hal ini Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ اَبِيْ شُرَيْحٍ اَلْكَعْبِيّ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلّى الله عليه وسلّمَ قَالَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْاَخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ جَائِزَتُهُ يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ. وَالضِّيَاَفَةُ ثَلاَثَةُ اَيَّامٍ فَمَا ذَلِكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ وَلَا يَحِلُّ لَهُ اَنْ يَثْوِيَ عِنْدَهُ حَتَّى يُحْرِجَهُ

"Dari Abi Syuraikh Al-Ka’biyyi bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia menghormati tamunya, izin tinggalnya yaitu sehari semalam. Adapun hidangan (melayani tamu) itu tiga hari, selebihnya adalah menjadi sedekah, dan tidak halal baginya jika dia telah menyulitkannya.” (HR. Bukhari)

Dalam hal memberikan jamuan ataupun layanan kepada tamu (diyafah) tejadi beberapa qoul ulama. Imam Malik, Syafi’i, dan Abu Hanifah berpendapat bahwa menjamu tamu hukumnya sunnah, sedangkan Imam Laits dan Ahmad berendapat bahwa menjamu hukumnya wajib yaitu selama sehari semalam. Kendati demikian, Imam Ahmad menjelaskan bahwa jamuan tersebut ditujukan yaitu bagi tamu yang merupakan orang-orang desa atau nomaden (badui) dan bukan untuk orang kota.
Satu hal yang perlu diperhatikan lagi dalam masalah etika bertamu yaitu orang yang bertamu hendaknya tahu diri ataupun memiliki kepekaan terhadap orang yang ia tamui (pemilik rumah). Dalam hal ini, jikalau tamu mengetahui atau meragukan kondisi keberadaan tuan rumahnya; mungkin kesulitan meteri ataupun pihak tuan rumah sudah merencanakan untuk kegiatan di luar, maka sebaiknya tidak tinggal lebih dari tiga hari.
Demikian ulasan mengenai etika bertamu, apabila Anda mendapati kesalahan dalam konten artikel ini, itu semata-mata karena kedangkalan pengetahuan kami. Kami juga mohon maaf dan mohon memberikan kritik dan sarannya, semoga bermanfaat.
Mungkin Anda tertarik dengan artikel kami yang lain:

etika bertamu sesuai syariat islam

Reff:
·           Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Semarang: PT. Karya Toha Putra)
·           Abi Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Sahih Al-Bukhari, (Beirut: Darul Fikri)
·           Abi Daud Sulaiman bin Asy’ats Sijistani, Sunan Abi Dawud, (Beirut: Darul Fikri)
·           Shabir Muslich, Terjemah Riyadlus Shalihin II, (Semarang: PT. Karya Toha Putra)
·           Haq Anwarul, Bimbingan Remaja Berakhlak Mulia, (Bandung: Marja)
·           Ilyas Yunahar, Kuliah Akhlak, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset)

Dapatkan Artikel Kami Gratis

Ketik email Anda di sisi:

Kami akan mengirimkannya untuk Anda

Quality Content